Hidayatullah—Rusia hari Rabu (23/1/2013) mengatakan bahwa para pemberontak yang berperang melawan pasukan Prancis dan Afrika di Mali adalah kelompok perlawanan yang sama yang dipersenjatai negara-negara Barat saat mendepak pemimpin Libya Muammar Qadhafi.
AQIM (Al-Qaida in the Islamic Maghreb) dan kelompok-kelopok lokal Mali menguasai wilayah utara tahun lalu, mereka dikabarkan menggunakan persenjataan yang disita dari Libya usai Qadhafi tumbang.
“Mereka yang diperangi oleh Prancis dan Afrika sekarang di Mali adalah orang-orang yang sama yang menggulingkan rezim Qadhafi, yang dipersenjatai oleh rekan kami negara-negara Barat sehingga mereka bisa mendepak rezim Qadhafi,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam konferensi pers, lapor Reuters.
“Serangan teroris hampir setiap hari terjadi di kawasan itu, senjata beredar tanpa kendali, infiltrasi oleh militan terjadi, termasuk di daerah Sahara-Sahel,” kata Lavrov.
Dalam kesempatan itu Lavrov juga menyangkal kabar yang mengatakan bahwa Rusia menawarkan bantuan untuk mengangkut pasukan Prancis ke Mali.
Rusia, eksportir senjata terbesar kedua dunia dan memiliki pangkalan laut di Suriah, menolak dikatakan melindungi rezim Bashar al-Assad yang ingin digulingkan oleh pasukan oposisi dukungan Barat dan negara Timur Tengah lainnya.
Rusia mendukung resolusi Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-Bangsa yang mengizinkan intervensi militer atas Mali, tapi masih membela keputusannya yang abstain dari resolusi serupa atas Libya tahun 2011, yang mengizinkan NATO menggempur Libya guna menggulingkan Qadhafi.*