Hidayatullah.com—Kelompok pemberontak terbesar di Kolombia, Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (Farc) atau Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, mengumumkan akan berhenti merekrut anak-anak sebagai anggota pasukannya.
Seorang negosiator Farc untuk perundingan damai di Havana, Victoria Sandino, membacakan keputusan itu dengan mengatakan bahwa kelompoknya tidak akan lagi merekrut orang berusia di bawah 18 tahun, lapor BBC Kamis (11/2/2016).
Tahun lalu Farc mengatakan akan berhenti merekrut anak di bawah usia 17 tahun dan mengeluarkan anggota mereka yang berusia di bawah 15 tahun.
Pemerintah mengatakan keputusan Farc itu tidak memberikan banyak perubahan.
Para pegiat HAM mendefinisikan siapa saja yang menjadi anggota kelompok bersenjata berusia di bawah 18 tahun adalah tentara anak-anak.
Sumber militer memperkirakan hampir setengah anggota Farc direkrut ketika masih kanak-kanak. Salah satunya adalah Martin (nama samaran).
Kepada wartawan BBC di Bogota, Natalia Cosoy, Martin menceritakan bagaimana dia dan saudara-saudaranya bergabung dengan Farc, kelompok pemberontak yang kerap muncul di kampungnya.
Menurut Martin, dia awalnya melakukan pekerjaan serabutan untuk para pemberontak itu. Ketika berusia 11 tahun dia menjadi anggota penuh.
“Kami bergabung karena tak punya pilihan,” kata Martin, yang kemudian keluar ketika berusia 16 tahun.
Di masa lalu Farc mengatakan anggota-anggota yang paling muda adalah anak-anak gerilyawan atau bergabung dengan Farc karena tidak memiliki orang tua.
Lebih dari 220.000 orang tewas selama hampir 52 tahun konflik bersenjata di Kolombia. Lebih dari enam juta terpaksa menjadi pengungsi di negerinya sendiri akibat maraknya aksi pemberontakan.*