Hidayatullah.com– Banjir bandang dan longsor pada awal bulan ini disebabkan badai Idai telah menghancurkan sebagian besar ladang jagung di provinsi Manicaland dan Masvingo, memperparah stok makanan yang sudah sedikit di negara yang terletak di Afrika selatan itu.
Para petani di desa-desa yang terdampak paling parah seperti Chipinge dan Chimanimani di Manicaland, sekitar 500km dari ibukota, Harare, mengatakan badai memporak-porandakan wilayah itu ketika ladang mereka siap panen, menghancurkan tanaman yang sudah bertahan dari kekeringan El Nino.
Fungai Njobwe, seorang petani berumur 52 tahun, mengatakan pada Al Jazeera pada Kamis bahwa angin kencang dan air bah telah menghancurkan ladang jagungnya di desa Chipinge. Padahal itu satu-satunya harapan dia dapat menafkahi enam anggota keluarganya selama satu tahun.
“Semua ladang jagung kami hancur dan kami tidak punya harapan untuk memanen karena semuanya telah hilang,” kata Njobwe. Setelah genangan banjir surut, hama menyerang ladangnya dan “memenuhi jagung-jagung dan memakannya”, dia menambahkan.
Badai Idai, yang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebut sebagai “salah satu bencana alam paling parah dalam sejarah Afrika,” menerjang Mozambik pada 14 Maret, sebelum menghantam Zimbabwe dan Malawi.
Sekitar 500 orang telah meninggal dan lebih dari 600.000 lainnya mengungsi di Mozambik. Sedangkan Malawi melaporkan adanya 60 kematian.
Di Zimbabwe, badai itu membunuh setidaknya 185 orang dan menyebabkan 270.000 orang membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak menurut Program Pangan Dunia (WFP) PBB.
Pada Februari, sebulan sebelum badai, PBB mengatakan lebih dari satu juta orang di Zimbabwe “menghadapi krisis cadangan makanan darurat” karena kekeringan di tahun sebelumnya dan krisis ekonomi berkepanjangan negara tersebut.
Ringson Chitsiko, menteri pertanian Zimbabwe, mengatakan pada Kamis setelah kekeringan negara itu saat ini hanya memiliki pasokan jagung untuk tujuh bulan. Zimbabwe harus mulai mengimpor gandum untuk mencegah kekurangan pasokan, dia mengatakan seperti yang dikutip kantor berita Reuters.
Selama pertemuan industri pertanian di Harare, Chitsiko juga mengatakan bahwa laporan penilaian makanan resmi untuk tahun 2019 akan ditunda karena badai, namun menolak menyebut berapa banyak ladang pertanian yang terdampak badai.
Paul Zakariya, direktur eksekutif Persatuan Petani Zimbabwe, mengatakan negara perlu mengimpor sekitar 900.000 ton gandum tahun ini untuk menutupi kekurangan yang disebabkan bencana kekeringan dan badai.
“Para petani sudah berjuang karena kekeringan selama tiga minggu terakhir, namun yang tersisa dari itu tersapu banjir, menyebabkan sebagian besar petani tidak mempunyai apa-apa. Kami tidak mengetahui jumlah tepatnya, namun gandum harus diimpor untuk menutupi kerugian yang kita hadapi,” dia mengatakan Business Times, situs berita setempat.
Selain itu, kerusakan yang disebabkan badai terhadap pelabuhan utama Mozambik dan jalan-jalan penghubung di negara itu memiliki efek penting dalam mengimpor makanan ke negara tersebut.* Nashirul Haq AR