Hidayatullah.com—Chad memutuskan untuk menarik setengah dari 1.200 tentaranya yang memerangi militan Muslim di daerah perbatasan tiga negara Mali, Burkina Faso dan Niger, kata seorang jubir otoritas Chad hari Sabtu (20/8/2021).
Chad mengerahkan tentaranya pada Februari untuk mendukung pertempuran melawan gerilyawan yang terkait dengan Al Qaeda dan ISIS, yang mengacaukan kawasan Sahel Afrika Barat beberapa tahun terakhir. Pasukan regional itu didukung oleh tentara Prancis.
Keputusan untuk menarik 600 tentara ini diambil dengan persetujuan sekutu Sahel Chad, kata Jenderal Azem Bermandoa Agouna berbicara atas nama Dewan Militer Transisi (CMT) di Chad.
Pasukan Chad yang ditarik tersebut akan dipindahkan ke tempat lain, kata Agouna, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, lapor Reuters.
Pihak berwenang di Chad juga menghadapi konflik lain tahun ini dengan pemberontak di utara.
Bekas wilayah kolonial Prancis beberapa bulan terakhir berhasil mematahkan serangan militan, tetapi situasinya sangat rapuh dengan ratusan warga sipil tewas dalam serangan pemberontak tahun ini.
Mahamat Idriss Deby, pimpinan Dewan Militer Transisi (CMT), mengendalikan Chad sejak ayahnya, mantan presiden, terbunuh saat mengunjungi garis depan pada bulan April.
Sebelumnya pada bulan Agustus, Deby mengundang para pemberontak untuk ikut serta dalam dialog nasional.
Sebuah sumber militer mengatakan 600 tentara akan dikirim ke perbatasan utara Chad dengan Libya dan Sudan untuk melucuti senjata pemberontak yang ingin kembali ikut serta dalam dialog ini, yang dijadwalkan digelar pada akhir tahun.
Pada hari Sabtu (21/8/2021), Deby mengatakan dialog tidak akan berhasil kecuali semua pemangku kepentingan terwakili.*