Hidayatullah.com–Sebuah kapal pesiar yang seharusnya berlabuh di Miami terpaksa putar kemudi ke Kepulauan Bahama, setelah hakim di Amerika Serikat mengeluarkan putusan sita atas kapal mewah itu dalam kasus gugatan utang jutaan dolar bahan bakar yang belum dibayar.
Pelacak kapal-kapal yang berlayar di laut menunjukkan Crystal Symphony saat ini berlabuh di Pulau Bimini di Bahama.
“Kami semua (penumpang) merasa diculik oleh bajak laut mewah!” tulis penumpang bernama Stephen Heard Fales di laman Facebook.
Sejumlah penumpang diangkut dengan kapal feri ke Port Everglades di Fort Lauderdale pada hari Ahad (23/1/2022), lansir Associated Press.
Perjalanan dengan kapal feri itu tentu saja kurang menyenangkan terlebih karena “cuaca buruk”, menurut pernyataan seorang jubir Crystal Cruises.
Perusahaan itu juga mengantarkan para penumpang ke sejumlah bandara lokal, tetapi tidak menyinggung soal gugatan hukum tersebut.
Tidak jelas berapa banyak orang yang menumpang kapal pesiar itu, laporan salah satu media menyebut 300 dan media lain 700. Menurut website perusahaan kapal pesiar itu dapat mengangkut sampai 848 pelancong.
Kapal itu awalnya dijadwalkan tiba di Miami pada hari Sabtu. Akan tetapi, seorang hakim di sana mengeluarkan surat perintah penyitaan kapal pada hari Kamis. Menurut hukum maritim yang berlaku di Amerika Serikat, petugas dari US Marshal akan menaiki kapal bersangkutan dan mengambil alih kendalinya begitu kapal berlayar memasuki wilayah perairan AS.
Gugatan itu diajukan di pengadilan federal Miami oleh Peninsula Petroleum Far East terhadap kapal itu dengan menggunakan hukum maritim, yang memungkinkan tindakan terhadap kapal disebabkan utang yang belum dibayar. Gugatan itu menyebutkan bahwa Crystal Symphony disewa atau dikelola oleh Crystal Cruises dan Star Cruises, yang keduanya digugat wanprestasi karena diduga belum membayar bahan bakar bernilai $4,6 juta.
Lewat media sosial, penumpang dan penghibur yang berada di atas kapal mengungkapkan keterkejutan mereka. Salah seorang penumpang mengunggah surat dari Crystal Cruises di laman Facebook yang mengumumkan perubahan rencana perjalanan disebabkan “masalah operasional non-teknis”.
Elio Pace, seorang musisi yang tur dan menghibur penumpang di kapal itu sejak 2013, menceritakan tentang sekitar 30-59 kru yang mendarat karena kontraknya sudah habis. Sementara 400 kru lainnya tidak tahu kapan mereka akan diberhentikan atau apakah mereka akan dipekerjakan lagi.
“Ini cerita anak manusia. Ini cerita tentang orang-orang dan mata pencaharian mereka,” kata Pace kepada Associated Press.
Crystal Cruises mengumumkan awal pekan lalu bahwa mereka menghentikan sementara operasi hingga akhir April untuk keperluan evaluasi bisnis. Selain Crystal Symphony, perusahaan itu mengelola dua kapal pesiar lain yang saat ini sedang berlayar, yang akan mengakhiri perjalanan mereka pada 30 Januari di Aruba dan 4 Februari di Argentina.*