Hidayatullah.com–Bendri Jaisyurrahman, aktivis Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, mengatakan saat ini banyak keluarga memperlakukan rumah sebagai terminal. Orangtua tidak berfungsi sebagai penghangat keluarga, tapi sebagai “penunjuk waktu” dan “mesin pencetak uang”.
“Sepulang kerja, pertanyaan orangtua berkutat seputar Pekerjaan Rumah (PR), ulangan dapat nilai berapa dan berbagai pertanyaan teknis lainnya,” ujarnya pada hidayatullah.com belum lama ini.
Padahal menurutnya, pertanyaan itu membuat anak menjadi jenuh.Masih banyak topik tentang hobi, perasaan sang anak yang bisa ditanyakan setiap hari.
Karena itu ia mengatakan, fenomena seperti itu tak ubahnya seperti keluarga terminal.
“Siapa sih, yang mau rapat keluarga di terminal? Di sana cuma basa-basi. Belum selesai ngomong, buru-buru pergi karena bus yang ditunggu sudah datang,”tutur konsultan keluarga ini. Tipikal keluarga terminal, menurunya jauh dari kehangatan.
Mereka yang kesepian akan mencari hal lainnya di luar keluarga. Tak heran, pernah terjadi seorang gadis remaja kabur dari rumah bersama pria yang baru tiga hari dikenal melalui Facebook.
“Pada saat lonely, pengaruh apapun akan bisa diterima oleh anak karena Ia tidak memiliki nilai-nilai yang ditanamkan keluarga,”ucap Bendri yang banyak menangani keluhan orangtua pada anak remaja.
Kesibukan berlebih para ayah dalam mencari nafkah, akan menghasilkan anak-anak yang kesepian. Apalagi jika tidak ada figur pengganti dalam keluarga seperti Paman atau Kakek. Saat itulah celah masuknya isu feminisme.
Sampai pada tahap paling parah, bisa merubah orientasi seksual anak. “Ia nyaman dengan teman perempuannya karena ayahnya dingin atau bahkan kasar terhadap Ia dan Ibunya, akhirnya menjadi lesbian atau kebanci-bancian,” ujar Bendri prihatin.*