Hidayatullah.com– Petisi online yang mendukung pelarangan aktivitas lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender (LGBT) di kampus, hilang dari situs Change.org baru-baru ini.
Pihak pengelola situs mengaku telah mencabut petisi itu. Change.org pun membantah dugaan alasan pencabutan itu karena tekanan dari pihak tertentu seperti aktivis LGBT.
Menurut pengelola, Jumat, 19 Rabiuts Tsani 1437 (29/01/2016), untuk memutuskan petisi mana yang tayang atau dicabut di situsnya, mereka berpanduan pada Pedoman Komunitas.
“Tidak ada tekanan dari pihak manapun dalam menentukan keputusan tersebut, baik dari pemerintah maupun kelompok tertentu,” demikian sanggahan resmi Change.org kepada hidayatullah.com di Jakarta, melalui surat elektronik.
Dalam rilis itu, Change.org juga membantah telah melakukan standar ganda atas pencabutan petisi yang dibuat Rantala Sikayo tersebut.
Diberitakan sebelumnya, petisi bertajuk Dukung Pernyataan Menristek M. Nasir; ‘LGBT Merusak Moral Bangsa, & Dilarang Masuk Kampus, dibuat pada Senin (25/01/2016), sudah tak terlihat pada Selasa (26/01/2016).
Sementara itu, nyaris bersamaan, di Change.org muncul petisi online bertajuk sebaliknya. Petisi yang dibuat Poedjiati Tan ini meminta Nasir mencabut pernyataannya bahwa “LGBT merusak moral bangsa dan dilarang masuk kampus”.
Hingga Sabtu (30/01/2016) siang, petisi Poedjiati Tan masih terlihat di situs tersebut. [Baca: Petisi Dukung Menristek Larang LGBT Hilang dari Change.org]
Hilangnya petisi “pro Menristek” serta masih adanya petisi “pro LGBT”, menimbulkan dugaan adanya kebijakan standar ganda oleh Change.org.
Situs tersebut membantah. “Dalam menilai pelanggaran (sebuah petisi), kami mengacu pada satu standar.”
Standar itu, lanjutnya, adalah Pedoman Komunitas yang bisa pelajari di https://www.change.org/policies/community dan Ketentuan Layanan https://www.change.org/ policies/terms-of-service.
Alasan Dicabut
Ditanya hidayatullah.com soal apa alasan petisi “pro Menristek” dicabut, Change.org menilai karena petisi itu melanggar Pedoman Komunitas dimaksud.
Lantas mengapa petisi “pro LGBT” masih dipertahankan? Menurut Change.org, “Petisi tersebut tidak mengandung pelanggaran konten seperti yang tertulis dalam Pedoman Komunitas.”
Pengelola Change.org pun menjelaskan sikapnya terhadap isu LGBT. Sebagai sebuah platform, sebutnya, setiap orang boleh menggunakan pentas online terbuka itu. Tak pandang “siapa pun mereka, dimana pun mereka berada, dan apa pun yang mereka yakini berdasarkan nilai-nilai universal”.
Namun, di sisi lain, Change.org seakan-akan bertentangan sikap dengan prinsip tersebut.
“Kami memiliki Pedoman Komunitas sebagai panduan dimana konten yang menyerang berdasarkan usia, warna kulit, disabilitas, suku, identitas gender, kebangsaan, asal bangsa, ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, kondisi medis, atau status veteran; tidak diperbolehkan,” paparnya panjang lebar.*