Hidayatullah.com– Ketua Komite III DPD RI yang membidangi persoalan keagamaan, Fahira Idris, mengungkapkan, ada saja rintangan yang harus dihadapi Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam menyebarkan pesan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.
Ia mengatakan, pesan persatuan umat hampir selalu menjadi tema sentral dalam setiap tabligh akbar dimana UAS menjadi penceramahnya.
Rintangan kali ini datang dari ormas bernama Patriot Garuda Nusantara (PGN) yang bersikeras menolak dakwah UAS di Kota Semarang, Jawa Tengah. Bahkan surat edaran yang melarang tabligh akbar ini sudah beredar luas.
Fahira mengaku heran dan tidak habis pikir dengan adanya penolakan kehadiran UAS di Kota Semarang.
Terlebih alasan yang dikemukan dinilai sangat tidak berdasar, keliru, dan mengada-ngada karena menuduh UAS dengan berbagai label yang tidak benar mulai dari radikal, (corong) HTI, bahkan anti NKRI, dan tuduhan tidak berdasar lainnya.
“Mohon maaf saja, ormas yang nolak UAS itu kudet atau kurang update. Kalau UAS radikal mana mungkin diundang ceramah di depan Wapres, Wakapolri, Kepala BIN. Kalau UAS anti NKRI, mana mungkin diundang banyak institusi pemerintahan dan militer bahkan banyak kepala daerah,” tegas Fahira di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/07/2018), dalam pernyataannya kepada hidayatullah.com.
Bahkan, pada awal Juni 2018 lalu, UAS, lanjut Fahira, diundang khusus KSAD untuk mengisi kajian di depan jajarannya. Ceramah UAS mendapat sambutan antusias bahkan KSAD menegaskan, UAS terbukti sangat cinta NKRI. Hal itu dibuktikan dengan tausiyah dai lumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, ini yang mengajak prajurit TNI AD untuk mencintai negeri ini.
“Jangan lupa, UAS juga pernah satu panggung dan berdiskusi dengan Kapolri di sebuah acara kajian di stasiun TV swasta.
Baca: FPI, FUI, IKADI, Ormas-ormas Islam Semarang Dukung Dakwah UAS
Menuduh UAS radikal, sama artinya ormas tersebut menafikan dan tidak menganggap tokoh dan institusi negara yang pernah mengundang UAS. Saya berharap surat penolakan tersebut ditarik saja,” tukas Fahira.
Fahira mengingatkan soal penolakan terhadap UAS yang terjadi di Bali beberapa waktu lalu. Kejadian itu, terangnya, harus menjadi pelajaran bagi ormas yang menolak kehadiran UAS di Semarang.
Pasca penolakan UAS di Bali, ormas yang menolak, beberapa hari kemudian, meminta maaf atas penolakan dan kejadian yang kurang menyenangkan itu.
Fahira juga sangat mengapresiasi sikap tegas Polri yang menyatakan surat penolakan atas tabligh akbar UAS tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Sebab yang berhak melarang sesuai amanat UU adalah Polri.
Baca: Penghina Ustadz Somad Minta Maaf, Akun FB-nya “Menghilang”
Sikap tegas Polri yang akan melakukan penegakan hukum apabila nanti terjadi tindakan fisik atau perbuatan pidana terkait penolakan tabligh akbar ini, kata dia, menjadi dasar bagi umat agar tidak ragu menghadiri dan mengawal tabligh akbar ini.
“Sudah jelas ormas yang menolak ini kurang update perkembangan isu terkait UAS. Saya sangat apresiasi sikap tegas Polri terkait penolakan ormas ini,” pungkas Fahira.
Menurut panitia tabligh akbar UAS di Semarang, pihak PGN telah menyampaikan klarifikasi dan mengaku mendukung dakwah UAS.*