Hidayatullah.com—Tindakan Angkatan Laut ‘Israel’ yang menyerang armada kapal bantuan Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza memicu reaksi keras di Eropa, mulai dari pemogokan umum di Italia hingga tekanan diplomatik dari Prancis dan Irlandia.
Di Italia, serikat pekerja besar CGIL mengecam keras tindakan ‘Israel’. “Ini adalah tindakan agresi yang sangat serius terhadap warga sipil, termasuk warga negara Italia,” kata pernyataan resmi CGIL, dikutip Daily Sabah (1/10/2025). Serikat tersebut menyerukan pemogokan umum pada Jumat mendatang, sementara aksi protes telah pecah di Roma, Napoli, dan Genoa.
Di Napoli, demonstran memblokade stasiun kereta utama, sementara di Genoa, serikat USB mengumumkan akan memblokir pelabuhan kota sebagai bentuk solidaritas.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan telah menerima jaminan dari penjajah bahwa tidak akan ada kekerasan terhadap aktivis di kapal flotilla. “Kami telah meminta ‘Israel’ untuk memastikan keselamatan warga negara Italia. Mereka menegaskan tidak ada tindakan kekerasan yang akan dilakukan,” ujarnya.
Dari Prancis, Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot menyampaikan keprihatinan mendalam. “Kami sangat khawatir atas operasi ‘Israel’ terhadap kapal bantuan. Keselamatan warga Prancis harus menjadi prioritas, dan kami meminta agar mereka segera dipulangkan dengan aman,” kata Barrot dalam konferensi pers di Paris. Ia juga menekankan perlunya jalur kemanusiaan yang efektif agar bantuan segera sampai ke warga Gaza.
Irlandia juga melontarkan protes diplomatik. Menteri Luar Negeri Simon Harris menilai misi flotilla adalah aksi damai yang menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza. “Pengegatan kapal-kapal ini sangat mengkhawatirkan. Flotilla adalah misi damai yang bertujuan menarik perhatian dunia pada penderitaan warga Gaza,” ujar Harris.
Menurut penyelenggara flotilla, armada tersebut terdiri dari lebih dari 50 kapal dengan 532 aktivis dari 45 negara, membawa puluhan ton bantuan medis, makanan, dan air bersih. Namun, banyak kapal kehilangan komunikasi setelah sinyal mereka diputus, dan dua kapal — Alma serta Sirius — dilaporkan telah dikuasai pasukan ‘Israel’.
Penjajah ‘Israel’ menegaskan bahwa flotilla harus mengubah arah ke pelabuhan Ashdod agar muatan bisa diperiksa sebelum disalurkan ke Gaza. Namun aktivis menolak dengan alasan mekanisme distribusi resmi kerap tertunda. “Kami tidak ingin bantuan kemanusiaan ini menjadi alat politik. Gaza membutuhkan pasokan sekarang, bukan besok,” kata salah satu aktivis, dikutip Daily Sabah.
Gelombang protes di Italia ini menambah tekanan pada ‘Israel’, sementara kecaman dari Prancis dan Irlandia berpotensi memicu sikap serupa dari negara Eropa lain. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, tetapi pencegatan flotilla tersebut telah kembali menyorot blokade laut ‘Israel’ yang sudah berlangsung hampir dua dekade.*




