Hidayatullah.com—Pemimpin delegasi negosiasi Palestina dan tokoh senior Hamas, Khalil al-Hayya, menyampaikan pidato resmi yang mengumumkan telah dicapainya kesepakatan gencatan senjata permanen di Jalur Gaza. Pidato tersebut disiarkan melalui stasiun televisi swasta Al-Ghad TV dan menjadi sorotan media internasional seperti Al Jazeera dan Anadolu Agency.
Dalam pidatonya, al-Hayya menegaskan bahwa pihak Hamas telah menerima ‘jaminan dari para mediator internasional dan Pemerintah Amerika Serikat’ bahwa konflik bersenjata dengan penjajah ‘Israel’ telah berakhir sepenuhnya.
“Kami telah menerima jaminan dari saudara-saudara kami, para mediator, dan pemerintah AS, yang semuanya menegaskan bahwa perang telah berakhir sepenuhnya,” ujarnya sebagaimana dikutip media lokal yang melaporkan isi pidato tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kesepakatan itu mencakup beberapa poin utama: penarikan penuh pasukan ‘Israel’ dari Jalur Gaza ke titik-titik yang disetujui pembukaan kembali perlintasan perbatasan Rafah untuk memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, pertukaran tahanan besar-besaran — mencakup 250 tahanan Palestina dengan hukuman seumur hidup dan sekitar 1.700 tahanan lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak yang masih ditahan di penjara ‘Israel’ serta pembebasan tahanan wanita dan anak-anak dari pihak ‘Israel’ sebagai bagian dari ketentuan pertukaran.
Menurut laporan Al Jazeera, al-Hayya menyebut bahwa kesepakatan itu dicapai melalui langkah diplomatik intens, dengan keterlibatan mediator-mediator regional yang memastikan bahwa perjanjian tersebut akan dipatuhi oleh kedua belah pihak.
Sebelumnya, Anadolu Agency melaporkan bahwa delegasi Hamas yang dipimpin oleh al-Hayya tiba di Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk terlibat dalam pembicaraan tidak langsung yang menjadi bagian dari mekanisme gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Pidato al-Hayya juga menjadi sorotan karena latar belakang peristiwa dramatis sebelumnya: pada 9 September 2025, pasukan ‘Israel’ menargetkan lokasi pertemuan pimpinan Hamas di Doha, Qatar, dalam satu serangan udara yang menewaskan beberapa orang, termasuk Humam al-Hayya, putra al-Hayya. Namun, al-Hayya tetap selamat dari serangan tersebut.
Dengan pengumuman ini, al-Hayya menyebut bahwa fase pertama dari gencatan senjata telah resmi dimulai — penandanya adalah kerangka waktu pelaksanaan pertukaran tahanan dalam 72 jam setelah kesepakatan diberlakukan, dan pembebasan tahanan wanita serta anak-anak sebagai prioritas.
Meskipun demikian, beberapa laporan menunjukkan adanya tantangan di lapangan. Beberapa media menyebut bahwa militer ‘Israel’ masih melakukan operasi keamanan atau penembakan sporadis di beberapa daerah Gaza, meskipun dalam skala terbatas, yang menunjukkan bahwa implementasi gencatan senjata akan diuji oleh tindakan di medan nyata.
Gencatan senjata ini dianggap sebagai babak baru aksi genosida yang telah berlangsung selama dua oleh ‘Israel’, dan diharapkan membuka jalan bagi proses rekonstruksi Gaza serta pembicaraan masa depan mengenai pemerintah sipil dan manajemen keamanan di sektor tersebut.*




