Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Polemik Sengit A. Hassan dan Natsir dengan Soekarno Soal Kemal Ataturk

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2021 10:11 10:11 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Oktober 2021 09:30
Bagikan
mustafa kemal ataturk
Musthafa Kemal Attaturk
Bagikan

Guru Mohammad Natsir, Tuan A. Hassan, juga mengutip buku H.C Armstrong, mengeritik Soekarno yang tergila-gila dengan Mustafa Kemal Ataturk

Oleh: Artawijaya

Hidayatullah.com | Kontroversi soal nama Jalan Mustafa Kemal Pasha Ataturk yang akan digunakan di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, mengingatkan umat Islam di negeri pada polemik yang sangat sengit antara A. Hassan dan Natsir dengan Soekarno. Polemik ini berlangsung di media massa dan menjadi salah satu polemik legendaris hingga kini.

Ketiga tokoh ini sebenarnya cukup dekat. Natsir adalah murid dari A. Hassan, sedangkan Soekarno adalah sahabat A. Hassan yang juga banyak belajar soal agama pada tokoh Persatuan Islam (Persis) itu.  Soekarno juga yang saat di Endeh, Nusa Tenggara Timur, meminta kepada A. Hassan agar meringankan beban ekonomi rumah tangganya, agar mencarikan orang yang bersedia menerbitkan karya terjemahannya tentang tokoh yang sering dijuluki sebagai pengasas paham Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab.

”Saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya…” kata Soekarno dalam suratnya pada A. Hassan.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Mustafa Kemal Ataturk dijuluki sebagai “Bapak Sekularisme Turki”. Kebijakannya memisahkan agama dengan urusan negara, dipuja-puji oleh Soekarno sebagai upaya “re-thinking of Islam” dengan membuat suatu artikel di Majalah Pandji Islam tahun 1940 dengan judul “Memudakan Pengertian Islam”.

Sebagai pengagum tokoh sekular itu, Soekarno juga ingin Indonesia yang saat itu belum merdeka, suatu saat bisa menjadi negara yang mencontoh Turki di bawah kekuasaan Ataturk. Sedangkan A. Hassan dan Natsir sebaliknya, agama dan negara tak bisa dipisahkan.

Memisahkan keduanya berarti masuk ke dalam jurang sekularisme, yang disebut oleh Natsir sebagai paham “netral agama” (Laa diniyah). Ujung dari paham netral agama adalah meminggirkan sama sekali peran agama dalam kehidupan bernegara.

Natsir menyebut Soekarno dan para pengagum sekularisme Turki di bawah Kemal Ataturk dengan istilah “Kemalisten Indonesia.” Untuk menjawab tulisan Soekarno, A. Hassan membuat tulisan berjudul “Membudakkan Pengertian Islam”.

Kemal Ataturk, sebagaimana juga dipropagandakan oleh Soekarno, menyebut kebijakananya memisahkan agama dan negara bukan untuk menghilangkan sama sekali peran agama. Tapi fakta menunjukan, tahun 1928, empat tahun setelah runtuhnya khilafah di Turki, Islam sebagai agama negara dihapuskan oleh Ataturk.

“Antara tahun 1920 sampai 1924 itu, Kemal Pasha tidak menyinggung-nyinggung urusan agama secara merendahkan, tapi lambat laun, bertambah berani ia mengejek-ejek agama dan merendahkan orang-orang yang mengerjakan agama di muka umum,” tulis Natsir dalam polemik yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Agama dan Negara dalam Perspektif Islam (2001: 99).

Sebelumnya, Natsir juga memaparkan fakta-fakta Kemal Ataturk, yang selama dirinya berkuasa, tak lebih dari seorang diktator, dengan menutup sekolah-sekolah agama, menghilangkan simbol-simbol yang identik dengan Islam, dan lain-lain. Natsir menyebut Ataturk dengan sebutan “Fuehrer” yang biasa disematkan kepada Hitler, pemimpin besar Nazi dari Jerman.

Kepada Soekarno, yang  mengaku telah membaca puluhan buku tentang Ataturk, Natsir memintanya agar membaca tulisan Khalide Edib Hanoum, tentang tokoh sekular itu. Hanoum menyebut apa yang dilakukan Ataturk sebagai kebijakan “memerdekakan agama”, tetapi “menindas agama”. Hanoum mengatakan, “Beleid (kebijakan, pen.) pemerintahan Kemal Pasha itu adalah merantai peri kehidupan agama di Turki.”

Sementara kata Natsir, “Selaku seorang Vrijmetselaar (Freemason, pen.), buat Kemal Pasha memang tidak tersangkut-sangkut lidahnya menamakan seorang yang pergi ke masjid itu seorang yang gila atau sekurang-kurangnya orang yang tak berguna, useless,” ujarnya sambil menyebut apa yang ditulisnya ini merujuk pada keterangan H.C Amrstrong, dalam bukunya yang terkenal berjudul Grey Wolf, Mustafa Kemal: An Intimate Study of Dicator. Dalam catatan kakinya, Natsir menyebut fakta bahwa At-Taturk seorang Freemason bukanlah isapan jempol.

“Bagi Kemal Pasha, Freemason dan Loge-gebouw (bangunan loji tempat berkumpulnya para anggota Freemason, pen.) adalah simbol kebudayaan yang tinggi, dan Islam baginya plus masjidnya, adalah menjadi simbol kemunduran dan kekolotan,” demikian tulis Natsir (2001:104).

Dalam buku “Agama dan Negara” juga, Natsir menceritakan bagaimana gaya hidup Kemal Ataturk, yang cenderung kebarat-baratan, dan menurutnya adalah cermin dari sifat inferiority complex alias minder atau rendah diri. “Waktu Serraut, seorang anggota dari Vrijmetselaarij yang terkemuka di Paris datang mengunjungi Kemal Pasha selaku teman seanggota dalam Vrijmetselaarij untuk memintakan ampun bagi Jafid, seorang Yahudi yang akan dihukum mati, disambutnya Sarraut dengan pesta gemerlapan yang diatur secara Barat,” terang Natsir. “Malah, dengan cara yang lebih kebaratan dari Barat itu sendiri,” tambahnya.  Dengan berseru, Kemal mengajak para tetamunya untuk berdansa, “All civilzed dance! All civilzed people should dance!” tulis Natsir, merujuk pada buku H.C Armastrong, Grey Wolf.

Guru dari Mohammad Natsir, Tuan A. Hassan, juga mengutip buku karya H.C Armstrong, dalam mengeritik Soekarno yang tergila-gila dengan Mustafa Kemal Ataturk. A. Hassan, mengupas bagaimana kehidupan kelam Ataturk dengan memaparkan riwayat hidupnya.

Terkait seruan Soekarno agar bangsa ini memisahkan urusan agama dan negara, A Hassan menyatakan dengan tegas, “Tuan Soekarno tidak tahu, bahwa orang Eropa pisahkan agama Kristen dari staat (negara, pen) itu tidak lain melainkan lantaran di dalam agama Kristen tidak ada cara mengatur pemerintahan. Dari zaman Isa sampai sekarang, belum terdengar ada satu staat menjalankan hukum agama Kristen,“ terang A. Hassan, dalam tulisan yang kemudian diterbitkan dalam satu buku berjudul “Islam dan Kebangsaan” (1984: 101-103).

Hassan menjelaskan, ”Bukan begitu dengan Islam. Islam satu agama yang cakap dengan sepenuh-penuhnya mengurus dunia dan akhirat. Sudah dibuktikan dari zaman Nabi sampai beberapa abad..”

Terkait urusan agama yang menurut Soekarno tidak perlu diatur oleh negara, A. Hassan menegaskan,”Bagaimana satu agama, satu peraturan, bisa subur kalau tidak ada pelindungnya?”

Demikian polemik antara A. Hassan dan Natsir dengan Soekarno terkait dengan Kemal Ataturk yang dijadikan kiblat oleh Soekarno untuk melakukan “re-thinking of Islam”. Padahal, sejarah mencatat bagaimana kelamnya kehidupan kaum muslimin di Turki, ketika Ataturk yang merupakan seorang Freemason dari Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement), memberangus ajaran-ajaran Islam dan simbol-simbol Islam.

Jika saat ini ada wacana menjadikan Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di Jakarta, wilayah yang mayoritas Muslim, ibukota dari negara muslim terbesar di dunia, maka wajarlah jika ini kembali memicu polemik dan kegaduhan di masyarakat. Dalam hal ini, sudah seharusnya pemerintah peka dan menghargai perasaan umat Islam.*

Penulis buku-buku sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanKemal AttaturkM Natsirsekularisme TurkiSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya akidah Perihal Tafwidh, Ta’wil, Itsbat dalam Akidah Apa Perlu Dipertentangkan?
Tulisan selanjutnya gelombang ketiga Tuai Kontroversi, Pemprov DKI Surati KBRI Ankara Minta Alternatif Nama Jalan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional

Berita
13 Agustus 2026 13:00
Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India
Wamenag Minta Masyarakat Tenang, Kasus Promosi Miras di The Sounds Project Harus Diusut Tuntas
Raja Yordania akan Melawat ke China
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan

Terbaru

  • 19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka
  • Data Korban Gempa NTT: 68 Meninggal Dunia, 213 Luka-Luka
  • Makin Banyak Warga ‘Israel’ Pergi, Hanya Sedikit yang Kembali
  • 7.968 Rumah dan 744 Fasum Rusak Akibat Gempa di NTT
  • ‘Israel’ dan Board of Peace Bentuk Dua Komite Gaza, Apa Tujuannya?
  • Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
  • Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar
  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?