MENYONTEK adalah tradisi buruk dan sebuah ‘kejahatan’ di Indonesia. Tapi di India lain lagi, tradisi menyontek saat ujian rupanya sudah biasa terjadi, namun foto-foto baru menunjukan kecurangan terjadi dalam skala besar dan terang-terangan.
Saat ujian sekolah menengah yang diselenggarakan mulai Selasa sampai 24 Maret, sejumlah orangtua dan teman para siswa tertangkap foto memanjat dinding gedung tempat ujian untuk memberikan kunci jawaban.
Meskipun pengamanan diperketat, sejumlah besar siswa masih terlihat menyulundupkan buku pelajaran dan catatan waktu ujian berlangsung.
Kecurangan ini dilaporkan di Kabupaten Saharsa, Chhapra, Vaishali dan Hajipur.
Polisi menyita jawaban ujian yang dibawa para murid. BBC melaporkan bahwa koran lokal sudah penuh dengan foto-foto orangtua dan keluarga yang membantu anaknya menyontek.
Sebagian foto bahkan menunjukan para polisi menerima sogokan.

Wartawan foto, Dipankar, yang mengambil foto-foto di daerah Saharsa mengatakan bahwa siswa tidak terlihat khawatir saat menyontek dan para pejabat juga tidak akan engambil tindakan apapun terhadap siswa.
Larangan ujian
Dinpakar juga menyatakan hampir 20 orangtua yang mencoba membantu anak-anak mereka menyontek ditahan tapi mereka dibiarkan pergi setelah diberi peringatan.
Di sebagian sekolah seperti di daerah Chhapra, sejumlah orangtua bahkan bentro dengan polisi.
Orangtua yang ditahan karena memberikan jawaban ujian telah dibebaskan polisi.
Mereka yang kedapatan menyontek dapat menghadapi sanksi larangan ujian selama tiga tahun , dipenjara atau membayar denda. Tetapi hukuman seperti ini jarang dilaporkan di Bihar.
Pejabat Kemerintaan Pendidikan mengatakan sekitar 400 siswa yang tertangkap menyontek telah dikeluarkan.
Polisi sempat bentrok dengan orangtua dan teman siswa yang memberikan contekan.
Tetapi Kemerintaan Pendidikan sendiri menyatakan tidak dapat mencegah siswa menyontek tanpa bantuaan dari orangtua dan siswa.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan nyontek saat ujian jika siswa dan orangtua tidak berkerja sama? Haruskah pemerintah memberikan perintah untuk menembak mereka?” kata Menteri pendidikan PK Shahi seperti dikutip The times of India.*