Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Karena Manusia Bukan Robot

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Agustus 2019 00:36 12:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Agustus 2019 05:30
Bagikan
[Ilustrasi] Robot
Bagikan

MANUSIA bukan robot. Robot bukan manusia. Semua orang tahu perbedaan dua entitas ini. Meski ada yang mungkin berimajinasi dalam khayalannya, kayak apa manusia kalau menjadi robot. Apakah keduanya bisa menyatu dalam satu tubuh? Setidaknya jadi setengah orang dan separuh robot.

Seperti yang diperankan tokoh polisi robot bernama Alex Murphy pada film Robocop. Sebuah karya bergenre laga fiksi tentang tingginya angka kriminalitas dan upaya penanggulangannya di tengah masyarakat Kota Detroit, Amerika Serikat.

Selain tampilan fisik, perbedaan pokok antara manusia dan robot adalah soal akal dan hati. Robot tak punya akal untuk menalar sesuatu. Ia hanya mesin yang dicipta dengan seperangkat data, ada perintah dan larangan untuknya. Biasanya semua itu disimpan dalam satu memory chip yang ditanam pada sekujur badannya.

Soal hati, rasanya lebih terang lagi. Bahwa robot itu tak punya jiwa di dalam raganya. Baginya tidak ada istilah perasaan atau lubuk nurani. Sedang manusia, atas kehendak Penciptanya, dirupa sedemikian sempurna. Paripurna dibanding semua makhluk-Nya. Ada jasmani pada panca indra. Ada ruhani bersama hati, serta akal pada otaknya.

Hati manusia selanjutnya didapuk jadi jenderal. Ibarat pasukan perang, dialah yang mengomando dan menggerakkan semua indra pasukannya. Hati juga berfungsi sebagai pengontrol pikiran manusia. Apa yang dipikir, apa yang diperbuat orang tersebut umumnya adalah cermin dari kondisi hatinya pada saat itu.

Baca Juga

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah

Dengan lisannya yang mulia, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “… Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca: Listrik Padam dan Transmisi Ilmu

Apa kaitannya dengan ilmu? Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi murid yang sekolah, mahasiswa yang kuliah, dan semua orang yang ramai-ramai belajar dan menuntut ilmu, tujuan utamanya bukan untuk sekadar dapat kerja. Apalagi demi selembar kertas  ijazah. Tidak pula agar gajinya lebih tinggi karena koleksi ijazahnya yang lebih banyak dan berlembar-lembar daripada yang lain.

Sebab manusia bukan robot yang dimunculkan untuk jadi mesin yang bekerja tanpa henti. Ia bukan robot yang tahunya hanya berurusan dengan mesin atau kertas. Manusia bukan robot yang orientasi hidupnya cuma kerja, kerja, kerja, dalam arti urusan duniawi semata.

Namun tujuan pendidikan itu ialah mengembangkan potensi karsa manusia untuk menjalankan amanah khalifah di dunia. Lebih pokok lagi, output pendidikan sejatinya harus memastikan manusia pada garis fitrahnya sebagai makhluk yang menghamba kepada Tuhannya.

Lebih jauh, kalau skill dan kompetensi manusia bisa dijamin dari almamater dimana dulu ia bersekolah atau kuliah. Sekurangnya dari apa yang ditekuninya selama ini. Sebagai contoh, jika ingin jadi dokter tentu belajarnya dari ilmu kedokteran. Bukan diambil di jurusan teknik atau akademi militer.

Bedanya, untuk menimba adab sebagai pasangan ilmu, maka almamater atau tempat kuliah itu bukan jaminannya secara penuh. Mengapa? Sebab adab tak cukup diketahui atau dihafal, langsung selesai. Adab juga tidak ujug-ujug lahir hanya karena nilainya dapat A melulu sewaktu ujian tulis.

Baca: Tatkala Thanos Keliru Memahami Ilmu

Selain diilmui secara teori, adab juga mesti dibiasakan dalam praktik. Sampai kapan? Jelasnya ia butuh waktu lebih lama dan durasi lebih panjang. Bahkan kadang melampaui masa pencarian ilmu itu sendiri. Dalam satu riwayat, Ibnul Mubarak berkata, kami mempelajari adab selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.

Tak kalah pokok lagi. Adab itu perlu didoakan serta dimunajatkan dengan sungguh-sungguh. Baik oleh sang anak, orangtua, guru, hingga setiap orang-orang yang hadir di sekelilingnya.

Kenapa harus doa? Karena ilmu dan adab yang benar lahir dari hati yang bersih. Hati yang selalu terkondisikan dengan mengingat Allah Sang Pemilik hati. Ada tafakkur juga tadzakkur dalam hidup. Mengantarnya senantiasa mengingat kebesaran Allah Rabbul Alamin. Demikian pesan singkat dari Kalam Ilahi, “Iqra bismi Rabbikalladzi khalaqa.”

“Iqra” yang kebablasan bisa saja menjadikan orang itu sebagai tokoh terkenal, cendekiawan hebat, atau ilmuwan yang disegani manusia. Tapi lihat saja. “Iqra” yang kehilangan adab akan melahirkan kegelisahan. Orang-orang jadi resah dan khawatir dibuatnya. Bukan bahagia yang dipancarkannya. Sungguh diapun galau. Hendak kemana ilmu ini dibawa? Tanpa adab yang sebagai suluhnya.*

Masykur | Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Balikpapan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabilmuiqra'jiwamanusiarobot
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Viral Video Sapi Tendang Jagal, Polisi: Korban Tak Meninggal, 5 Giginya Copot
Tulisan selanjutnya Pertama Kalinya, Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Gelar Shalat Id

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
TikTok Laporkan Penonaktifan 1,7 Juta Akun Anak ke Komdigi
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan

Terbaru

  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

20 Februari 2026 07:00
BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?