Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Ulama dan Orisinalitas Ilmu Geografi

Thoriq
Terakhir diupdate: 24 Agustus 2022 18:18 6:18 pm
Thoriq
Dipublikasikan 24 Agustus 2022 18:20
Bagikan
Bagikan

Para ulama telah mengembangkan ilmu geografi sejak lama. Beberapa karyanya menjadi rujukan orientalis

Hidayatullah.com | ILMUWAN geografi sejatinya adalah para sejarawan. Hanya saja, mereka lebih memfokuskan diri dalam melakukan studi mengenai kondisi wilayah, iklim, perairan, daratan, sungai-sungai, padang pasir, hutan-hutan, gunung-gunung, dan kondisi alam lainnya.

Ilmuwan geografi juga melakukan studi dengan baik mengenai penduduk, mata pencarian, bahasa, dan budaya. Dengan demikian, ilmu sejarah dan geografi merupakan dua ilmu yang tidak bisa dipisahkan.

Seorang sejarawan Muslim tidak akan memahami sejarah dengan baik kecuali dengan memahami geografi, demikian pula sebaliknya. Para ilmuwan geografi melakukan studi mengenai wilayah-wilayah melalui rihlah (pengembaraan) ke wilayah-wilayah tersebut untuk menyaksikan langsung hal-hal yang berkenaan dengan ilmu tersebut dan tidak mengambil dari karya yang dihasilkan oleh para ilmuwan sebelumnya.. (Abdurrahman al-Habanakah al-Maidani, al-Hadhrah al-Islamiyah, hal 538).

Dr Hasan Mu’nis, seorang ilmuwan geografi, menyanggah anggapan bahwasanya para ulama geografi dalam kartografi (ilmu dalam pembuatan peta) mengadopsi dari Romawi, sedangkan kartografi di masa itu merujuk Ptolomeus. Yang benar, para ulama geografi membuat peta dengan melakukan rihlah ke berbagai wilayah untuk melakukan pengamatan secara langsung. Dan peta dunia yang secara sempurna dibuat pertama kali oleh oleh Syarif al-Idrisi. (dalam Athlas Tarikh al-Islami, hal 24).

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Perkembangan ilmu geografi di dunia Islam pun pesat, dikarenakan kebutuhan akan hal itu. Banyak dari kalangan umat Islam yang melakukan perjalanan ke berbagai negeri, di samping untuk menuntut ilmu juga untuk berdagang.

Wil Durant menulis, “Sulaiman at-Tajir adalah orang Islam pertama kali yang menulis mengenai China yang dilakukan 425 tahun sebelum Marco Polo melakukan pengembaraan.” (Qishah al-Hadharah, 13/183).

Bentuk Bumi dan Gravitasi

Sejak kurun abad ke-2 Hijriyah, para ulama geografi sudah bermunculan. Ini sekaligus mendahului para ahli dan penjelajah dunia yang belakangan diketahui.

Ibnu Ghardzadabah atau Abul Qasim Ubaidullah bin Abdullah bin Khurdadzbih, ulama geografi di masa itu, telah menghasilkan karya besar, yakni al-Masalik wa al-Mamalik (Kitab Jalan-jalan dan Kerajaan-kerajaan). Di muqadimah kitab itu, ulama yang wafat pada 300 H ini berbicara mengenai sifat bumi:

“Sifat bumi, sesungguhnya bulat seperti bola. Posisinya berada di dalam ruang angkasa, sebagaimana kuning telur berada di tengah telur. Sedangkan lapisan udara berada di sekeliling bumi. Bagian luarnya memiliki daya tarik ke ruang angkasa, sedangkan untuk benda-benda ringan di atas bumi, lapisan udara itu menariknya menuju ke dalam lapisannya. Adapun bumi menarik benda-benda berat di atasnya, sebagaimana magnet menarik besi.” (dalam al-Masalik wa al-Mamalik, 1/1).

Ulama geografi lainnya adalah Muhammad bin Muhammad al-Idrisi (560 H)

Ulama geografi lainnya adalah Abu Ishaq al-Ishtakhri, berasal dari Ishtakhr, Iran. Ulama ini telah melakukan perjalanan ke negeri-negeri Arab dan India hingga sampai ke samudera Atlantik, dengan bantuan peta yang dibuat oleh Abu Zaid al-Balkhi.

Saat itu, rujukan dalam geografi masih langka. Al-Ishtakhri sendiri memiliki beberapa karya mengenai geografi, di antaranya adalah al-Masalik al-Mamalik, yang dirujuk oleh Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan (Ensiklopedia Negeri-Negeri). Al-Ishtakhri wafat pada 346 H. (dalam az-Zirakli, al-A’lam, 1/61).

Atlas, rute, dan globe

Nama lain yang dikenal sebagai ahli geografi adalah Abu Zaid al-Balkhi. Peta-peta yang dibuatnya dihimpun dalam kitab Shuwar al-Aqalim (Atlas Berbagai Wilayah). Dia merupakan ilmuwan Islam pertama yang menggambar peta berbagai wilayah. Al-Balkhi wafat pada tahun 322 H. (dalam al-A’lam, 1/134).

Ahli geografi lainnya adalah Abu Abdillah al-Jihani (330 H), wazir amir Khurasan yang menulis kitab al-Masalik wa al-Mamalik. Guna menulis kitab tersebut, al-Jihani mengumpulkan orang-orang asing untuk mengumpulkan informasi mengenai berbagai negeri juga rute perjalanannya, dalam rangka melakukan futuhat (perluasan wilayah). Dalam kitab itu, al-Jihani membagi dunia menjadi 7 bagian dan menyebutkan jalan-jalannya, baik ke arah timur-barat, atau utara-selatan. (dalam Kasyf Adz Dzunun, 2/1664).

Dalam kitab al-Masalik, meski merujuk kepada al-Balkhi dan al-Isthakhri, namun ada penambahan mengenai informasi penting tentang India, Sind, Iran, China, dan Asia. Hanya saja kitab ini belum ditemukan, namun para ulama gografi seperti al-Idrisi merujuk kepadanya. (dalam al-Hadharah al-Islamiyah, hal 540).

Karya dalam ilmu geografi lainnya ditulis oleh Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi dengan judul Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim. Ulama Mazhab Hanafi dari al-Quds ini mencatat kondisi alam berbagai negeri, rute, dan jalan-jalannya, serta mencatat luas wilayah-wilayah dengan satuan ukur farsakh. Al-Maqdisi menyatakan bahwasanya mereka yang melakukan safar, juga para ulama dan umara, perlu untuk memilikinya. (dalam Kasy adz-Dzunun, 1/1).

Karya al-Maqdisi tersebut dipuji oleh para orientalis. Di antaranya Gild Meister yang menyatakan, “Al-Maqdisi unggul dibanding seluruh ahli geografi, dengan banyaknya koreksi dan luasnya pengamatan.” ( dalam al-A’lam, 5/312).

Peta Bumi al-Idrisi

Ulama geografi lainnya adalah Muhammad bin Muhammad al-Idrisi (560 H). Ia menulis sebuah karya besar berjudul Nuzhah al-Musytaq fi Akhbar al-Afaq, untuk Roger II (Normand) penguasa Sisilia. Dalam kitab tersebut dijelaskan kondisi negeri-negeri juga jaraknya, dengan menggunakan satuan mil dan farsakh. (dalam Kasyf adz-Dzunun, 2/1947).

Al-Idrisi juga membuat globe untuk Normand, yang terbuat dari bahan perak dengan berat 400 ribu dirham. Pada mulanya peta ditulis dengan kertas, kemudian divisualkan dengan bola dari perak itu. (dalam Wafayat al-A’yan, 14/72).

Demikianlah peran para ulama. Mereka memiliki andil besar dalam perkembangan ilmu geografi, sehingga umat manusia bisa memperoleh manfaat dari karya-karya mereka sampai saat ini.*

Redaktur: Thoriq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:geografiilmu geografiislam dan geografiulama dan geografi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hadraawi, ‘Shakespeare of Somalia,’ Meninggal di Usia 79 Tahun
Tulisan selanjutnya Pengadilan Thailand Tangguhkan Jabatan PM Prayuth Chan-ocha

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?