Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

75 Tahun Tragedi Nakba: “Kami Akan Segera Kembali ke Desa Kami”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Mei 2023 09:01 9:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Mei 2023 09:00
Bagikan
Penduduk Yibna, salah satu desa kaum Arab terbesar di distrik Ramla
Bagikan

Akibat tragedi Nakba tahun 1948, tercatat 41.000 orang mengungsi ke Rafah dan tinggal di tenda-tenda. Statistik terbaru tahun 2022, kamp tersebut dihuni lebih dari 125.000 pengungsi

Hidayatullah.com | SEBELUM  tragedi Nakba pada tahun 1948, Yibna adalah salah satu desa kaum Arab terbesar di distrik Ramla, Palestina. Nama desa ini sering muncul dalam teks-teks sejarah serta kerap jadi rujukan sejarawan dan ahli geografi.

Yibna terletak di sebuah bukit di dataran pantai Palestina. Posisinya strategis di sepanjang rute jalur kereta api Gaza-Lydda (Lod). Stasiun keretanya berjarak 56 km dari stasiun kereta api Gaza Lama.

Kawasannya subur sehingga kondusif untuk lahan pertanian. Ada beberapa tanaman unggulan di daerah ini, seperti zaitun, jeruk, dan sereal. Populasinya pada tahun 1948 lebih dari 6.000 jiwa.

Setiap tanggal 15 Mei rakyat palestina meratapi “Nakbah” alias hari pengusiran. Tepat 75 tahun lalu sekitar 700.000 penduduk Palesina diusir dari tanah airnya menyusul Perang Arab-Israel 1948.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Desa-desa dihancurkan atau dibeli. Kota dikosongkan. Sebagian terpaksa menetap di jiran Yordania. Yang lain bertahan di sisa wilayah Palestina, Tepi Barat atau Jalur Gaza.

Tragedi Nakba pada tahun 1948 seketika mengubah keadaan. Sekitar ¾ penduduk Palestina diusir paksa dari rumah dan tanah mereka oleh paramiliter dan tentara Zionis, beberapa saat setelah penjajah merekayasa berdirinya negara palsu bernama “Israel”.

Banyak keluarga dari Yibna yang kemudian hijrah. Tujuan utamanya ke daerah Rafah, Jalur Gaza. Kampung halaman yang telah hancur akhirnya diberikan ke daerah yang mereka tinggali kini, menjadi Kamp Yibna.

Pindah-pindah Kamp Pengungsi

Namanya Mariam Ibrahim Alkurd (80). Ketika tragedi Nakba, usianya baru berusia lima tahun. Hingga kini ia ingat betul bagaimana kamp pengungsi di Jalur Gaza terbentuk, khususnya Kamp Yibna, tempat dia tumbuh, dibesarkan, dan tinggal hingga sekarang.

Mariam berkisah, semula keluarganya mengungsi ke Jabaliya. Mereka tinggal di tenda selama tiga minggu. Daerah itu kemudian dikenal sebagai Kamp Jabaliya.

Peringatan Nakba Palestina
Pengusiran warga Palestina tahun 1948 (Hari Nakba)

Beberapa saat kemudian, keluarganya pindah ke Tel Sultan, sebuah daerah di sebelah barat kota Rafah yang menghadap ke laut. Lagi-lagi keluarga Mariam tinggal di sebuah tenda pemberian.

 “Saya ingat, ketika itu ayah mencoba menghentikan air hujan yang bocor di dalam tenda. Kami tiba di sana pada musim panas, dan kemudian musim dingin tiba. Keadaannya amat sulit,” katanya kepada Al-Arabi Al-Jadid.

Kemudian, keluarganya pindah lagi. “Ke daerah yang lebih dekat ke perbatasan Mesir. Itu daerah berpasir, banyak kaktus. Ayah dan paman berkumpul bersama beberapa keluarga lain dan semua menetap di daerah tersebut.”

“Tenda-tenda besar dibagikan kepada seluruh keluarga. Belakangan, dibangun perkemahan, kemudian dibangun dengan dinding tanah liat, ada pula yang dibangun dengan batu dan ditutup dengan tanah liat. Setiap keluarga menempati rumah dengan dua kamar. Akhirnya beberapa rumah dibangun dengan batu bata, ada pula yang dengan lembaran besi beratap asbes. Beberapa rumah masih beratap asbes hingga saat ini.”

Mariam melanjutkan kisahnya, “Awalnya, kami menyebut kamp tersebut Batima, setelah penduduk desa Al-Batani Al-Gharbi (yang diusir dari desanya pada Mei 1948) datang. Ada yang menyebutnya Kamp al-Khurasan, terkait keluarga al-Akhras. Namun belakangan, Yibna menjadi nama yang paling banyak digunakan, karena banyaknya warga asal Yibna di sana.”

Banyak muhajirin yang kini telah menjadi guru, dokter, serta tokoh penting di masyarakat. Beberapa tokoh ternama juga berasal dari Kamp Yibna.

Beberapa tokohnya terjun di politik, seperti Abdul Aziz Al-Rantisi, salah satu pendiri dan martir gerakan perlawanan Islam Hamas. Juga Muhammad Youssef Al-Najjar, komandan umum pertama Al-‘Asifah, sayap bersenjata kelompok Fatah.

Kebanyakan kamp pengungsi di Jalur Gaza diberi nama sesuai penghuninya, atau desa tempat asalnya dahulu. Misalnya Kamp Shabura, Kamp Sha’ut, kamp Yibna, dan Kamp Tel Sultan.

Gadis-gadis di Kamp Yibna di Jalur Gaza

Menurut Badan Pengungsi PBB (UNRWA), akibat tragedi Nakba tahun 1948, tercatat 41.000 orang mengungsi ke Rafah dan tinggal di tenda-tenda. UNRWA kemudian mendirikan Kamp Rafah pada tahun 1949. Statistik terbaru tahun 2022, kamp tersebut dihuni lebih dari 125.000 pengungsi.

Ingin Segera Kembali

Keluarga Al-Hams adalah salah satu keluarga Yibna terkemuka yang kini juga menetap di kamp. Mohammed Al-Hams (64) menjelaskan, sebagian besar penduduk dari Yibna berkumpul di daerah antara Jabaliya dan Rafah. Mereka mencari tempat yang jauh dari serangan Zionis.

Naim Al-Hams adalah kepala keluarga Al-Hams di Yibna dan salah satu sesepuh desa. Dialah yang memulai mengumpulkan keluarga Yibna di satu tempat. Dia kemudian mengatur berbagai urusan, seperti yang dia lakukan di Yibna dulu, sebagaimana tugasnya selaku mukhtar (kepala) desa.

“Penduduk Rafah pada waktu itu menamai Kamp Yibna, karena kami seperti satu keluarga besar. Sampai-sampai keluarga lebih suka pernikahan antara pasangan satu desa. Mukhtar memutuskan bahwa kami semua harus tinggal di daerah yang sama, dengan harapan bahwa kami semua akan kembali bersama,” jelas Al-Hams kepada New Arab.

Ketika terjadi Perang Enam Hari 1967 (peristiwa Naksa), muhajirin sempat surut harapan. Bayangan untuk kembali seolah sirna.

“Saya ingat, para pengungsi amat kecewa saat itu. Harapan untuk kembali solah surut. Saya menjalani sebagian besar masa kecil dan membangun mimpi tentang kembalinya kami ke desa Yibna. Ayah selalu berbicara tentang indahnya desa itu, bagaimana dia memiliki sebidang tanah di sana yang penuh dengan pohon lemon dan jeruk.”

 “Saat itu saya masih kecil. Generasi yang lebih tua memberitahu kami semua tentang bagaimana keadaan negara sebelum pendudukan, dan selalu mengulang: ‘Segera, kami akan kembali ke desa kami!” pungkasnya.*/Pambudi Utomo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineisraelNakbapalestinaPilihan Redaksitragedi NakbaZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesepakbola Prancis yang Tolak Pakai Jersey LGBT Terancam Diberi Sanksi
Tulisan selanjutnya Anjing Polisi Italia Temukan Kokain Bernilai €800 Juta di Dalam Pisang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan

Terbaru

  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?