Akibat tragedi Nakba tahun 1948, tercatat 41.000 orang mengungsi ke Rafah dan tinggal di tenda-tenda. Statistik terbaru tahun 2022, kamp tersebut dihuni lebih dari 125.000 pengungsi
Hidayatullah.com | SEBELUM tragedi Nakba pada tahun 1948, Yibna adalah salah satu desa kaum Arab terbesar di distrik Ramla, Palestina. Nama desa ini sering muncul dalam teks-teks sejarah serta kerap jadi rujukan sejarawan dan ahli geografi.
Yibna terletak di sebuah bukit di dataran pantai Palestina. Posisinya strategis di sepanjang rute jalur kereta api Gaza-Lydda (Lod). Stasiun keretanya berjarak 56 km dari stasiun kereta api Gaza Lama.
Kawasannya subur sehingga kondusif untuk lahan pertanian. Ada beberapa tanaman unggulan di daerah ini, seperti zaitun, jeruk, dan sereal. Populasinya pada tahun 1948 lebih dari 6.000 jiwa.
Setiap tanggal 15 Mei rakyat palestina meratapi “Nakbah” alias hari pengusiran. Tepat 75 tahun lalu sekitar 700.000 penduduk Palesina diusir dari tanah airnya menyusul Perang Arab-Israel 1948.
Desa-desa dihancurkan atau dibeli. Kota dikosongkan. Sebagian terpaksa menetap di jiran Yordania. Yang lain bertahan di sisa wilayah Palestina, Tepi Barat atau Jalur Gaza.
Tragedi Nakba pada tahun 1948 seketika mengubah keadaan. Sekitar ¾ penduduk Palestina diusir paksa dari rumah dan tanah mereka oleh paramiliter dan tentara Zionis, beberapa saat setelah penjajah merekayasa berdirinya negara palsu bernama “Israel”.
Banyak keluarga dari Yibna yang kemudian hijrah. Tujuan utamanya ke daerah Rafah, Jalur Gaza. Kampung halaman yang telah hancur akhirnya diberikan ke daerah yang mereka tinggali kini, menjadi Kamp Yibna.
Pindah-pindah Kamp Pengungsi
Namanya Mariam Ibrahim Alkurd (80). Ketika tragedi Nakba, usianya baru berusia lima tahun. Hingga kini ia ingat betul bagaimana kamp pengungsi di Jalur Gaza terbentuk, khususnya Kamp Yibna, tempat dia tumbuh, dibesarkan, dan tinggal hingga sekarang.
Mariam berkisah, semula keluarganya mengungsi ke Jabaliya. Mereka tinggal di tenda selama tiga minggu. Daerah itu kemudian dikenal sebagai Kamp Jabaliya.

Beberapa saat kemudian, keluarganya pindah ke Tel Sultan, sebuah daerah di sebelah barat kota Rafah yang menghadap ke laut. Lagi-lagi keluarga Mariam tinggal di sebuah tenda pemberian.
“Saya ingat, ketika itu ayah mencoba menghentikan air hujan yang bocor di dalam tenda. Kami tiba di sana pada musim panas, dan kemudian musim dingin tiba. Keadaannya amat sulit,” katanya kepada Al-Arabi Al-Jadid.
Kemudian, keluarganya pindah lagi. “Ke daerah yang lebih dekat ke perbatasan Mesir. Itu daerah berpasir, banyak kaktus. Ayah dan paman berkumpul bersama beberapa keluarga lain dan semua menetap di daerah tersebut.”
“Tenda-tenda besar dibagikan kepada seluruh keluarga. Belakangan, dibangun perkemahan, kemudian dibangun dengan dinding tanah liat, ada pula yang dibangun dengan batu dan ditutup dengan tanah liat. Setiap keluarga menempati rumah dengan dua kamar. Akhirnya beberapa rumah dibangun dengan batu bata, ada pula yang dengan lembaran besi beratap asbes. Beberapa rumah masih beratap asbes hingga saat ini.”
Mariam melanjutkan kisahnya, “Awalnya, kami menyebut kamp tersebut Batima, setelah penduduk desa Al-Batani Al-Gharbi (yang diusir dari desanya pada Mei 1948) datang. Ada yang menyebutnya Kamp al-Khurasan, terkait keluarga al-Akhras. Namun belakangan, Yibna menjadi nama yang paling banyak digunakan, karena banyaknya warga asal Yibna di sana.”
Banyak muhajirin yang kini telah menjadi guru, dokter, serta tokoh penting di masyarakat. Beberapa tokoh ternama juga berasal dari Kamp Yibna.
Beberapa tokohnya terjun di politik, seperti Abdul Aziz Al-Rantisi, salah satu pendiri dan martir gerakan perlawanan Islam Hamas. Juga Muhammad Youssef Al-Najjar, komandan umum pertama Al-‘Asifah, sayap bersenjata kelompok Fatah.
Kebanyakan kamp pengungsi di Jalur Gaza diberi nama sesuai penghuninya, atau desa tempat asalnya dahulu. Misalnya Kamp Shabura, Kamp Sha’ut, kamp Yibna, dan Kamp Tel Sultan.

Menurut Badan Pengungsi PBB (UNRWA), akibat tragedi Nakba tahun 1948, tercatat 41.000 orang mengungsi ke Rafah dan tinggal di tenda-tenda. UNRWA kemudian mendirikan Kamp Rafah pada tahun 1949. Statistik terbaru tahun 2022, kamp tersebut dihuni lebih dari 125.000 pengungsi.
Ingin Segera Kembali
Keluarga Al-Hams adalah salah satu keluarga Yibna terkemuka yang kini juga menetap di kamp. Mohammed Al-Hams (64) menjelaskan, sebagian besar penduduk dari Yibna berkumpul di daerah antara Jabaliya dan Rafah. Mereka mencari tempat yang jauh dari serangan Zionis.
Naim Al-Hams adalah kepala keluarga Al-Hams di Yibna dan salah satu sesepuh desa. Dialah yang memulai mengumpulkan keluarga Yibna di satu tempat. Dia kemudian mengatur berbagai urusan, seperti yang dia lakukan di Yibna dulu, sebagaimana tugasnya selaku mukhtar (kepala) desa.
“Penduduk Rafah pada waktu itu menamai Kamp Yibna, karena kami seperti satu keluarga besar. Sampai-sampai keluarga lebih suka pernikahan antara pasangan satu desa. Mukhtar memutuskan bahwa kami semua harus tinggal di daerah yang sama, dengan harapan bahwa kami semua akan kembali bersama,” jelas Al-Hams kepada New Arab.
Ketika terjadi Perang Enam Hari 1967 (peristiwa Naksa), muhajirin sempat surut harapan. Bayangan untuk kembali seolah sirna.
“Saya ingat, para pengungsi amat kecewa saat itu. Harapan untuk kembali solah surut. Saya menjalani sebagian besar masa kecil dan membangun mimpi tentang kembalinya kami ke desa Yibna. Ayah selalu berbicara tentang indahnya desa itu, bagaimana dia memiliki sebidang tanah di sana yang penuh dengan pohon lemon dan jeruk.”
“Saat itu saya masih kecil. Generasi yang lebih tua memberitahu kami semua tentang bagaimana keadaan negara sebelum pendudukan, dan selalu mengulang: ‘Segera, kami akan kembali ke desa kami!” pungkasnya.*/Pambudi Utomo