Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Pahit Getir Berdakwah di Pedalaman Aceh Singkil

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Februari 2014 10:18 10:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Februari 2014 10:35
Bagikan
Teunku Jamaluddin mensyahadatkan mantan keluarga pemeluk Katolik
Bagikan

WAJAHNYA kelihatan lelah. Tapi sontak berubah saat diajak bicara soal dakwah. Tema yang satu ini selalu menggairahkan buat Teungku Jamaluddin. Dakwah adalah bagian penting dari hidupnya.

“Saya telah menganggap dakwah  sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan dari hidup saya. Dengan dakwah, saya ingin memperoh tempat yang layak di sisi Allah SWT,” katanya.

Pahit getir sudah dirasakan Jamaluddin dalam menjalankan tugas agama ini. Berbagai cobaan datang silih berganti, namun ia tetap istiqamah pada jalur hidup yang telah dipilihnya.

Jamaluddin adalah dai senior. Pasca tsunami menerjang Aceh, ia sudah aktif berdakwah di barak-barak pengungsi di berbagai lokasi pengungsian.  Kini, ia bertugas di perbatasan Aceh dengan Sumatera. Tepatnya di Desa Napagaluh Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil. Ia bertugas di Napagaluh dikirim oleh Dinas Syari’at Islam Aceh sejak 5 tahun lalu.

Bersama istri dan anaknya yang masih kecil, lulusan Pondok Pesantren Babussalam Matangkuli, Aceh Utara ini tinggal di sebuah gubuk berukuran 4 x 5 meter.

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

Jamaluddin menjalankan tugas dakwah dengan sepeda motor dari satu desa ke desa lainnya di pelosok Aceh Singkil. Saat ke desa-desa, ia harus mendaki satu bukit ke bukit lainnya dengan kondisi jalan terjal dan bebatuan. Namun kondisi itu tak  membuat ia malas berdakwah.

Jamaluddin bercerita, dalam suatu perjalanan dakwah dengan istri pada tengah malam buta, tiba-tiba motornya terpelanting karena jalannya licin. Mereka kemudian jatuh. Syukurnya lukanya tidak terlalu parah. Istrinya hanya luka lecet-lecet.

Tak hanya tantangan alam yang dihadapi Jamaluddin, makhluk halus juga pernah menyerang istrinya. Itu terjadi pada awal ia bertugas di Napagaluh. Pada tengah malam, tiba-tiba saja istrinya lari-lari kesurupan. Bukan hanya sekali, serangan seperti itu terjadi berkali-kali.

Rupanya gangguan seperti itu tak hanya menimpa istri Jamaluddin. Dai yang lain juga mengalamai serangan serupa, dalam bentuk yang lain. “Kawan saya ada yang terkena batuk darah,” katanya.

Semua tantangan itu dihadapinya dengan ketabahan dan kesabaran. “Saya anggap itu  cobaan dari Allah SWT atas dakwah yang saya jalankan. Saya pasrah dan saya serahkan kepada Allah SWT,” katanya lagi.

Di tengah beratnya tantangan dakwah seperti tadi, Jamaluddin melihat prospek cerah di Aceh Singkil. Sejak ia bertugas di daerah ini, sudah banyak orang Nasrani yang masuk Islam. Seperti satu keluarga Katholik di Dusun Sigarap, Desa Sikoran Kecamatan Danau Paris.

Keluarga ini memutuskan masuk Islam Jamaluddin pada 27 April 2013. Mereka adalah Tias Mida Br Sitorus (ibu, 60 tahun), Rika Maria Br Malau (21 tahun), Reno Josep Malau (21 tahun), Romiana Maria Br Malau (11) dan  Rikki Neysyen Josep Malau (6 tahun).

Jamaluddin menceritakan, mereka masuk Islam karena melihat adanya keseragaman umat Islam dalam beribadah. Misalnya ketika datang ke masjid semua berbusana yang sama dengan memakai mukena putih sehingga menghilangkan perbedaan antara kaya miskin. Islam juga melarang umat menampakkan aurat kepada orang lain.

Selain itu, menurut  mereka, masih cerita Jamaluddin, Islam sangat selektif dalam memilih makanan. Setiap makanan harus bersih dan suci, sehingga hal ini membuat banyak umat Islam yang “bercahaya” wajahnya. Saat beribadah, setiap Muslim diperintahkan untuk bersuci.

“Dan yang paling mereka suka ketika melihat umat Islam datang ke masjid, mereka diwajibkan membuka sepatu dan sandal demi menjaga kesucian rumah Allah,” tambah Jamaluddin.

Setelah mensyahadatkan satu keluarga ini, Jamaluddin berupaya  mencari rumah kontrakan untuk keluarga mualaf tersebut.

Sebelumnya, Jamaluddin juga sudah mensyahadatkan banyak pemuda Katolik. Mereka saat ini dititipkan di dayah (pondok pesantren) di beberapa wilayah di Aceh untuk mendapatkan pendidikan Islam yang intensif. Salah satu yang menampung muallaf ini adalah Dayah Mahyal Ulum di Kecamatan Sibreh Aceh Besar, Dayah Markaz al-Ishah dan beberapa dayah lainnya.

Menurut Jamaluddin, mereka kekurangan biaya pendidikan karena hingga saat ini pemerintah Aceh Singkil belum memiliki program untuk membantu muallaf. Salah satu muallaf itu Dahrin Brasyah (19 tahun). Dia kini belajar di Pondok Pesantren Mahyal Ulum Aceh Besar.

Jamaluddin sering mencari cara untuk membantu remaja-remaja muallaf dengan menghubungi pimpinan-pimpinan dayah di Aceh Besar dan Aceh Utara yang siap menampung para muallaf usia sekolah.

“Alhamdulillah, sudah banyak perkembangan selama saya berdakwah di sini,” kata Jamaluddin.

Banyak anak-anak Muslim sekarang sudah pandai membaca al-Qur`an dan menjalankan ibadah.

Menurut Jamaluddin, jumlah Muslim di Aceh Singkil hanya sekitar 20 persen, masih banyak Nasrani dan sisanya animisme (menyembah roh leluhur). Kendati demikian, warga non Muslim, menurut Jamaluddin sangat respek pada Islam.

Khususnya para mualaf, Jamaluddin menyadari kurang pembinaan. Setelah mereka masuk Islam, pemerintah tidak menyediakan program khusus untuk pembinaan muallaf.

“Padahal mereka seharusnya bisa dipersiapkan untuk memperkuat dakwah di perbatasan di masa yang akan datang,” terang Jamaluddin.

Aceh Singkil dan Subulussalam memang sangat rawan dengan Kristenisasi. Beberapa wilayah di dua kabupaten ini telah didominasi oleh warga Kristen pribumi yang sebelumnya beragama Islam maupun warga Kristen yang berasal dari Sumatera Utara dan telah menjadi warga menetap di situ.

Menurut Jamaluddin, umat Islam seharusnya tidak hanya mengirim dai. Tapi juga menampung warga yang audah menjadi muallaf, dalam sebuah lembaga pendidikan.

“Misalnya dengan mendirikan pesantren khusus bagi mereka, mengingat pengetahuan Islam bagi mereka harus diberikan dari dasar, “ katanya.

Solusi lain, masih kata Jamaluddin, kirim mereka ke pesantren-pesantren yang sudah ada, tapi anggarannya ditanggung oleh Pemerintah Aceh, Kemenag maupun oleh baitul mal.*/Teuku Zulkhari, majalah Suara Hidayatullah

 

Dukung dakwah para dai nusantara melalui rekening donasi  Bank Syariah Mandiri  7333-0333-07 a/n:Pos Dai Hidayatullah, BNI, no rek: 0254-5369-72, Bank Muamalat no rek: 0002-5176-07. Ikuti juga program dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan di portal www.posdai.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aceh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pabrik-Pabrik Ditutup Bosnia Dilanda Kerusuhan
Tulisan selanjutnya Politisi Inggris Minta Muslim Teken Janji Ingkari Ajaran Al-Qur`an

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah

Terbaru

  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?