AWAL Mei tahun 1995 silam, Ambo Asrul Shahib bersama sang istri, Nur Ninah Lampe Parallu dan putra pertamanya yang masih berumur 2 tahun menginjakan kaki di Dusun Petunggu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Saat itu dusun tersebut masih hutan belantara dan belum ada listrik.
Pria yang biasa disapa Ustadz Asrul ini berangkat dari Kabupaten Sinjai bersama beberapa orang lainnya.
Sesampainya di sana, dengan bahan material seadanya, Ustadz Asrul mendirikan tenda berlantaikan kayu bekas potongan gergaji mesin untuk ditinggali bersama anak dan istrinya. Di tenda sederhana itu Ustadz Asrul menetap selama enam bulan.
Dalam kurun waktu beberapa bulan, di antara rombongan mulai ada yang putus asa. Mereka menyatakan menyesal ditempatkan di pedalaman itu dan akhirnya memutuskan kembali pulang. Tetapi tidak bagi Ustadz Asrul, dirinya tetap memilih bertahan di tempat itu.
Merintis dakwah di daerah baru memang bukan pekerjaan mudah, namun Ustadz Asrul tetap bersabar dan selalu berdoa serta menguatkan niat dengan tulus dan ikhlas.
Memasuki tahun 1997, Ustadz Asrul mulai mendirikan pendidikan SDK (Sekolah Dasar Kecil). Pendirian SDK, yang kini telah berganti nama menjadi SDN 25 Petunggu tersebut mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitar dan disetujui pemerintah setempat.
Di awal tahun 1999, Ustadz Asrul mulai merintis majelis taklim di Desa Martajaya. Awal merintis majelis taklim tersebut hanya diikuti 10 orang. Perlahan tapi pasti, kurang dari satu tahun, yang ikut dalam majelis taklim bertambah mencapai 30 orang, di antaranya ada beberapa mualaf. Majelis taklim juga berjalan di Dusun Petunggu dan di Perumahan Pabrik PT Pasangkayu dan di Desa Ngovi, Kabupaten Donggala.
Strategi Dakwah
Di awal menjalani dakwah memang tidak mudah, Ustadz Asrul menyambangi dari rumah ke rumah setiap penduduk desa. “Cara ini sekalian bisa saya lakukan untuk bersilaturahmi,” katanya.
Materi yang diajarkan di antaranya, fiqih, ahklak, tata cara shalat jenazah, membaca Iqro dan tafsir Al-Qur’an.
Selain itu, medan yang sulit dalam berdakwah ini sudah menjadi terbiasa bagi dirinya dan sang istri. Tetapi itu bukan menjadi persoalan bagi pria yang kini dikaruniai 6 orang anak.
“Pernah jalan bersama istri melewati semak-semak, jalan berlumpur, sungai, gunung, semua dilalui dengan senang hati,” imbuhnya.
Selain menjadi seorang dai tanpa gaji, Ustadz Nasrul juga bercocok tanam untuk menafkahi keluarganya.
Saat mulai berdakwah, Ustadz Asrul sudah memahami bahwa mencari ridha Allah memang butuh waktu, tenaga, pikiran, dan pengorbanan.
Pada tahun 2016, Ustadz Asrul bergabung dengan Hidayatullah Palu. Awalnya beliau menitip putra keduanya, oleh sebab itulah Ustadz Asrul mengenal lebih dekat Hidayatullah.
Banyak hikmah dan pengalaman serta ilmu yang didapatkan. Terutama saat diajak oleh Ketua Yayasan untuk menghadiri Silatnas (Silaturahmi Nasional) Hidayatullah tahun 2018.
Di acara Silatnas tersebut, Ustadz Asrul melihat secara langsung seluruh dai Hidayatullah se-Indonesia yang mengikuti berbagai macam kegiatan, seperti jamaah Qur’ani dan berhalaqoh yang biasa dilaksanakan setelah shalat berjamaah.
Dengan ilmu dan pengalaman itu, Ustadz Asrul juga menerapkan ke majelis taklim yang dibinanya, yakni dengan pembelajaran tahsin.
Ustadz Asrul berharap, perjalanan dakwah yang telah dilalui ini merupakan bagian dari perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah.* Kiriman Muin/Pos Dai
Artikel ini bekerjasama dengan program Dompet Dakwah Pedalaman