“Allah dengan hikmahnja memberilah pertoendjoek bagi segala kelakoean kehidoepan, soepaja perboetan manoesia jang menoeroet pertoendjoek Allah itoe mendjadi pendidikan jang menoentoen dan mentjerdaskan rohnja pada djalan kemadjoean jang telah ditentoekan oleh Allah Soebhanahoe wa Ta’ala.” (Haji Agus Salim, 1928)
Hidayatullah.com | DI TENGAH pergulatan pemikiran modern awal abad ke-20 yang cenderung memisahkan antara wilayah sakral dan profan, tokoh bangsa Hadji Agus Salim hadir dengan pemikiran teologis yang integratif dan kontekstual. Gagasan ini termuat secara autentik dalam sebuah artikel berbentuk khutbah yang dipublikasikan melalui media massa masa kolonial.
Lembaran surat kabar harian Fadjar Asia yang terbit pada hari Jumat, 27 Juli 1928, menjadi saksi bisu bagaimana pemikiran kritis ini dialirkan kepada publik. Melalui tulisan yang bertajuk “Choetbah Djoem’at. Persatoean Lahir dan Batin,” Agus Salim mengurai problem mendasar umat manusia yang kerap terjebak dalam dikotomi semu antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan kesucian rohani.
Narasi yang tertuang dalam halaman koran lawas tersebut mengindikasikan kekhawatiran mendalam dari sang intelektual Muslim terhadap gejala kesombongan manusia modern. Sebagai sebuah dokumen historis, lembaran harian tersebut memperlihatkan bagaimana ruang publik saat itu dimanfaatkan untuk mencerahkan pemikiran keagamaan yang statis.

Haji Agus Salim membuka khutbahnya dengan melayangkan kritik tajam terhadap kecenderungan manusia yang memilah secara kaku antara kehidupan lahiriah yang bersifat kebendaan dengan kehidupan batiniah yang bersifat ketuhanan. Bagi beliau, dualisme sekuler semacam ini hanya akan melahirkan kepalsuan hidup dan menghalangi manusia dari pencapaian spiritualitas yang sejati.
Kritik Atas Sekularisasi dan Kekeliruan Menilai Kemerdekaan
Merujuk pada teks asli khutbah yang dimuat di surat kabar Fadjar Asia tersebut, Agus Salim menegaskan bahwa memisahkan urusan duniawi dari ikatan agama merupakan bentuk kesombongan yang fatal.
Manusia yang menganut paham pemisahan ini cenderung melepaskan diri dari tuntunan syariat, mengabaikan rambu-rambu hukum seperti halal, haram, makruh, maupun sunnah, karena menganggap aktivitas keseharian mereka tidak memiliki konsekuensi spiritual di hadapan Tuhan.
Pemikiran Agus Salim yang dicatat dalam dokumen ini secara tegas menolak pemisahan tersebut, dengan menyatakan bahwa dimensi lahir dan batin, atau roh dan jasad manusia, sesungguhnya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam pandangan Allah SWT.
Lebih lanjut, artikel koran kolonial ini membedah kepalsuan dari konsep kemerdekaan yang diagung-agungkan oleh manusia yang hanya berorientasi pada aspek material. Agus Salim menandaskan bahwa individu yang memburu keduniaan dengan segala tipu muslihat dan kelicikan sebetulnya berada dalam status terjajah oleh hawa nafsunya sendiri.
Mereka secara keliru menyangka bahwa kebebasan memuaskan keinginan hati adalah puncak dari kemerdekaan diri. Padahal, teks khutbah tersebut mengingatkan bahwa menjauhkan diri dari hukum Allah, mengabaikan risalah Rasul-Nya, serta menelantarkan kewajiban sosial kemanusiaan adalah bentuk perbudakan spiritual yang paling nyata.
Revitalisasi Makna Taqwa Sebagai Bekal Utama

Inti dari pesan teologis Hadji Agus Salim dalam media cetak harian Fadjar Asia ini bersandar pada kontekstualisasi dan interpretasi mendalam terhadap nash suci Al-Qur’an. Beliau mengutip dan mengulas secara filosofis Surat Al-Baqarah ayat 197, yang di dalamnya memuat perintah eksplisit bagi umat manusia untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan.
Di dalam potongan teks surat kabar yang bertitimangsa Juli 1928 itu, Agus Salim mengaitkan ayat tersebut dengan konteks pelaksanaan ibadah haji menuju tanah suci Mekah, sebuah perjalanan besar yang membutuhkan kesiapan menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.
Dalam penjelasannya yang, beliau menggarisbawahi keharusan adanya keseimbangan. Seseorang yang berniat menunaikan ibadah haji tentu diwajibkan secara syar’i membawa perbekalan lahiriah yang cukup berupa harta, makanan, dan keperluan fisik lainnya agar perjalanan berjalan lancar dan tidak membebani orang lain di sepanjang jalan.
Meski begitu, Agus Salim memberikan catatan kritis bahwa mempersiapkan logistik duniawi secara berlebihan hingga mengabaikan esensi ketakwaan adalah sebuah kekeliruan fatal. Sebaik-baiknya bekal, sebagaimana ditegaskan dalam kutipan ayat tersebut, adalah taqwa.
Agus Salim memandang bahwa segala bentuk kemegahan dan kecukupan materi di dunia tidak akan memberikan kemanfaatan hakiki apabila kehilangan basis ketakwaannya. Harta benda yang dibawa dalam perjalanan suci maupun dalam mengarungi kehidupan duniawi harus diposisikan sebagai instrumen untuk menegakkan ketaatan kepada Allah, bukan sebagai tujuan akhir.
Dengan demikian, integrasi antara pemenuhan logistik lahiriah dan pemeliharaan kesucian batiniah menjadi prasyarat mutlak yang tidak boleh ditawar oleh setiap Muslim.
Menjelang bagian akhir dari khutbah Jumat yang monumental ini, sebagaimana terdokumentasikan dalam arsip fisik surat kabar tersebut, Agus Salim mengajak pembaca untuk merenungkan hakikat eksistensi manusia. Kehidupan di dunia ini digambarkan tidak lebih dari sebuah terminal transisi atau perjalanan dinamis yang bergerak lurus menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Oleh sebab itu, pengumpulan bekal taqwa harus diprioritaskan karena elemen spiritual inilah yang kelak akan menyertai manusia melintasi gerbang kematian menuju hadirat Sang Pencipta.
Sebagai penutup dari untaian nasihatnya yang tertulis di lembaran koran Fadjar Asia, Hadji Agus Salim menitipkan pesan pamungkas yang sangat mendalam: manusia diperintahkan untuk senantiasa mengingat Tuhannya dalam setiap helaan napas dan gerak langkah.
Mengingat Allah (dzikrullah) bukan sekadar aktivitas lisan yang terisolasi di dalam masjid, melainkan sebuah kesadaran batin yang hidup yang menuntun setiap perilaku lahiriah di ruang publik. Kesadaran inilah yang dipandang oleh Agus Salim sebagai perkara yang paling besar, esensial, dan utama untuk menavigasi kehidupan agar senantiasa berada dalam koridor persatuan yang kokoh antara yang lahir dan yang batin. (MBS)




