Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

Mahmud
Terakhir diupdate: 3 Juli 2026 11:28 11:28 am
Mahmud
Dipublikasikan 3 Juli 2026 11:27
Bagikan
Haji Agus Salim Bersama Sangadji dkk saat mendirikan Partai Penjadar
Bagikan

“Allah dengan hikmahnja memberilah pertoendjoek bagi segala kelakoean kehidoepan, soepaja perboetan manoesia jang menoeroet pertoendjoek Allah itoe mendjadi pendidikan jang menoentoen dan mentjerdaskan rohnja pada djalan kemadjoean jang telah ditentoekan oleh Allah Soebhanahoe wa Ta’ala.” (Haji Agus Salim, 1928)

Hidayatullah.com | DI TENGAH pergulatan pemikiran modern awal abad ke-20 yang cenderung memisahkan antara wilayah sakral dan profan, tokoh bangsa Hadji Agus Salim hadir dengan pemikiran teologis yang integratif dan kontekstual. Gagasan ini termuat secara autentik dalam sebuah artikel berbentuk khutbah yang dipublikasikan melalui media massa masa kolonial.

Lembaran surat kabar harian Fadjar Asia yang terbit pada hari Jumat, 27 Juli 1928, menjadi saksi bisu bagaimana pemikiran kritis ini dialirkan kepada publik. Melalui tulisan yang bertajuk “Choetbah Djoem’at. Persatoean Lahir dan Batin,” Agus Salim mengurai problem mendasar umat manusia yang kerap terjebak dalam dikotomi semu antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan kesucian rohani.

Narasi yang tertuang dalam halaman koran lawas tersebut mengindikasikan kekhawatiran mendalam dari sang intelektual Muslim terhadap gejala kesombongan manusia modern. Sebagai sebuah dokumen historis, lembaran harian tersebut memperlihatkan bagaimana ruang publik saat itu dimanfaatkan untuk mencerahkan pemikiran keagamaan yang statis.

Artikel Khutbah Jum’at Haji Agus Salim dalam Surat Kabar Fadjar Asia 1928

Haji Agus Salim membuka khutbahnya dengan melayangkan kritik tajam terhadap kecenderungan manusia yang memilah secara kaku antara kehidupan lahiriah yang bersifat kebendaan dengan kehidupan batiniah yang bersifat ketuhanan. Bagi beliau, dualisme sekuler semacam ini hanya akan melahirkan kepalsuan hidup dan menghalangi manusia dari pencapaian spiritualitas yang sejati.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Kritik Atas Sekularisasi dan Kekeliruan Menilai Kemerdekaan

Merujuk pada teks asli khutbah yang dimuat di surat kabar Fadjar Asia tersebut, Agus Salim menegaskan bahwa memisahkan urusan duniawi dari ikatan agama merupakan bentuk kesombongan yang fatal.

Manusia yang menganut paham pemisahan ini cenderung melepaskan diri dari tuntunan syariat, mengabaikan rambu-rambu hukum seperti halal, haram, makruh, maupun sunnah, karena menganggap aktivitas keseharian mereka tidak memiliki konsekuensi spiritual di hadapan Tuhan.

Pemikiran Agus Salim yang dicatat dalam dokumen ini secara tegas menolak pemisahan tersebut, dengan menyatakan bahwa dimensi lahir dan batin, atau roh dan jasad manusia, sesungguhnya merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam pandangan Allah SWT.

Lebih lanjut, artikel koran kolonial ini membedah kepalsuan dari konsep kemerdekaan yang diagung-agungkan oleh manusia yang hanya berorientasi pada aspek material. Agus Salim menandaskan bahwa individu yang memburu keduniaan dengan segala tipu muslihat dan kelicikan sebetulnya berada dalam status terjajah oleh hawa nafsunya sendiri.

Mereka secara keliru menyangka bahwa kebebasan memuaskan keinginan hati adalah puncak dari kemerdekaan diri. Padahal, teks khutbah tersebut mengingatkan bahwa menjauhkan diri dari hukum Allah, mengabaikan risalah Rasul-Nya, serta menelantarkan kewajiban sosial kemanusiaan adalah bentuk perbudakan spiritual yang paling nyata.

Revitalisasi Makna Taqwa Sebagai Bekal Utama

Haji Agus Salim

Inti dari pesan teologis Hadji Agus Salim dalam media cetak harian Fadjar Asia ini bersandar pada kontekstualisasi dan interpretasi mendalam terhadap nash suci Al-Qur’an. Beliau mengutip dan mengulas secara filosofis Surat Al-Baqarah ayat 197, yang di dalamnya memuat perintah eksplisit bagi umat manusia untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan.

Di dalam potongan teks surat kabar yang bertitimangsa Juli 1928 itu, Agus Salim mengaitkan ayat tersebut dengan konteks pelaksanaan ibadah haji menuju tanah suci Mekah, sebuah perjalanan besar yang membutuhkan kesiapan menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.

Dalam penjelasannya yang, beliau menggarisbawahi keharusan adanya keseimbangan. Seseorang yang berniat menunaikan ibadah haji tentu diwajibkan secara syar’i membawa perbekalan lahiriah yang cukup berupa harta, makanan, dan keperluan fisik lainnya agar perjalanan berjalan lancar dan tidak membebani orang lain di sepanjang jalan.

Meski begitu, Agus Salim memberikan catatan kritis bahwa mempersiapkan logistik duniawi secara berlebihan hingga mengabaikan esensi ketakwaan adalah sebuah kekeliruan fatal. Sebaik-baiknya bekal, sebagaimana ditegaskan dalam kutipan ayat tersebut, adalah taqwa.

Agus Salim memandang bahwa segala bentuk kemegahan dan kecukupan materi di dunia tidak akan memberikan kemanfaatan hakiki apabila kehilangan basis ketakwaannya. Harta benda yang dibawa dalam perjalanan suci maupun dalam mengarungi kehidupan duniawi harus diposisikan sebagai instrumen untuk menegakkan ketaatan kepada Allah, bukan sebagai tujuan akhir.

Dengan demikian, integrasi antara pemenuhan logistik lahiriah dan pemeliharaan kesucian batiniah menjadi prasyarat mutlak yang tidak boleh ditawar oleh setiap Muslim.

Menjelang bagian akhir dari khutbah Jumat yang monumental ini, sebagaimana terdokumentasikan dalam arsip fisik surat kabar tersebut, Agus Salim mengajak pembaca untuk merenungkan hakikat eksistensi manusia. Kehidupan di dunia ini digambarkan tidak lebih dari sebuah terminal transisi atau perjalanan dinamis yang bergerak lurus menuju kehidupan akhirat yang abadi.

Oleh sebab itu, pengumpulan bekal taqwa harus diprioritaskan karena elemen spiritual inilah yang kelak akan menyertai manusia melintasi gerbang kematian menuju hadirat Sang Pencipta.

Sebagai penutup dari untaian nasihatnya yang tertulis di lembaran koran Fadjar Asia, Hadji Agus Salim menitipkan pesan pamungkas yang sangat mendalam: manusia diperintahkan untuk senantiasa mengingat Tuhannya dalam setiap helaan napas dan gerak langkah.

Mengingat Allah (dzikrullah) bukan sekadar aktivitas lisan yang terisolasi di dalam masjid, melainkan sebuah kesadaran batin yang hidup yang menuntun setiap perilaku lahiriah di ruang publik. Kesadaran inilah yang dipandang oleh Agus Salim sebagai perkara yang paling besar, esensial, dan utama untuk menavigasi kehidupan agar senantiasa berada dalam koridor persatuan yang kokoh antara yang lahir dan yang batin. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agus salimLahir batinpersatuan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Berita
2 Juli 2026 21:00
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Terbaru

  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?