Hidayatullah.com–Hirarki Gereja Katolik di Belanda, sudah sejak tahun 1958 tahu tentang kasus pelecehan seksual dan fisik terhadap anak-anak di beberapa lembaganya. Namun mereka gagal menghentikan kejadian tersebut. Acara televisi Belanda menemukan beberapa bukti mengejutkan di arsip-arsip gereja, lansir Radio Nederland (03/12/2011).
Barang bukti terdiri dari sepucuk surat yang ditemukan dalam arsip komisi perlindungan anak Katolik. Surat ditulis seorang hakim yang memperingatkan komisi, beberapa pastor melakukan pelecehan seksual terhadap anak.
Komisi langsung bertindak dan mengirim surat peringataan kepada dewan pengurus pelbagai lembaga Katolik. Walaupun surat rahasia berisi daftar hitam pelaku, tapi hirarki gereja gagal menghentikan kejadian tersebut.
“Hal pertama yang saya temukan dalam arsip ini adalah surat yang bertanggal 20 Nopember 1958 ini. Surat ini membuktikan bahwa pada tahun 1958 komisi perlindungan anak Katolik mengetahui bahwa pelecehan terhadap anak-anak sedang terjadi,” kata Jeroen Kostense, wartawan NCRV.
“Pelecehan seksual dilakukan oleh para pendeta di institusi anak-anak laki-laki Katolik. Apa yang terjadi di sini, dapat terjadi di institusi lain di masa mendatang,” kata Kostense membacakan isi surat tersebut.
Surat yang dilampiri dengan daftar hitam nama-nama pelaku itu dikirimkan ke 112 institusi gereja.
“Ini jelas sekali. Ini sangat berarti, karena gereja punya kekuasaan sangat besar seharusnya bisa mencegah agar sehingga anak-anak tidak dilecehkan,” kata Martin de Witte, pengacara dari 200 korban pelecehan seksual oleh rohaniwan gereja, sambil memegang salinan bukti tersebut.
“Gereja seharusnya bisa mengambil langkah untuk menghentikannya. Tapi sebagaimana cerita para korban, pelecehan terus terjadi tanpa pernah dilakukan pemeriksaan,” imbuh De Witte.
Kardinal Simonis mengatakan bahwa pihak gereja tidak mengetahui tentang hal itu. Ia menyangkal fakta tersebut.
Namun, menurut Peter Nissen, profesor studi keagamaan di Universitas Radbound, “Pernyataan ‘kami tidak tahu’ secara historis artinya adalah ‘kami tahu apa yang sedang terjadi tapi kami menutup mata’.”
“Jika Anda melihat bukti baru yang berasal dari tahun 50-an, maka Anda akan mendapat kesan: ‘ya mereka benar-benar mengetahui hal itu. Tapi mereka membicarakannya secara rahasia dan berusaha menutup-nutupinya’,” pungkas Nissen.*