Hidayatullah.com–Belum ada kepastian dari pemerintah pusat membuat Masyarakat Indonesia di Mesir (Masisir) mendesak agar seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) dievakuasi total. Desakan tersebut mereka salurkan dalam sebuah group di Facebook yang bertajuk “MENDESAK EVAKUASI TOTAL MASISIR”.
Sebelumnya, Duta Besar RI Mesir, A.M. Fachir telah menjelaskan bahwa untuk sementara ini, pesawat yang dipastikan akan mengevakuasi WNI di Mesir baru berjumlah tiga unit. Namun apakah seluruh WNI akan dievakuasi secara total atau tidak, masih belum ada kepastian.
Fachir juga mengatakan, keputusan untuk mengevakuasi dan mengirimkan pesawat itu ada di pemerintah pusat.
“Keputusan untuk mengirimkan pesawat itu ada di pusat, bukan di tangan saya,” tegas Fachir kepada tim evakuasi.
Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir juga menghimbau kepada mahasiswa yang visanya sudah habis, agar tidak keluar rumah. Hal ini menyusul adanya informasi penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan Mesir.
Keluhan-keluhan mahasiswa mengenai kesulitan hidup di sini juga sudah mulai keluar. Bahkan ada yang menuliskan puisi untuk Duta Besar RI. Isinya sebagai berikut:
“Puisi Untuk Bapak Dubes Pak Fachir:
Beras kami tinggal secangkir,
Kami kawatir lidah kami semakin getir,
Tidak tahukah kau kejadian semalam di-‘Asyir,
Demonstrasi di-Tahrir imbasnya sampai di ‘Asyir,
Suara tembakan bersahutan,
Warga mesir berkeliaran; berkejaran,
Sembari berteriak dan membawa pentungan,
Soal tembakan kami aman,
Soal pangan kami tak karuan,
Pak Fachir yang mutakhir,
Bisul kami belum sembuh,
Maag kami menyusul kambuh,
Kepada yang terhormat Duta Besar Indonesia untuk Mesir Bapak A.M. Fachir, kami berharap evakuasi tidak setengah hati.”
Demikian puisi keluh kesah ditulis oleh seorang mahasiswa asal Indonesia.
Tetap tinggal
Meski kondisi di Mesir semakin tidak menentu dan sudah 2 gelombang evakusi diberangkatkan, beberapa mahasiswa masih ada yang memilih untuk tetap tinggal di sini dulu, melihat perkembangan kondisi Mesir. Mereka memilih untuk dievakuasi pada gelombang akhir saja.
“Aku masih mau di sini dulu. Tempatku di Qattamiyah masih aman. Kalaupun mau dievakuasi, aku milih kloter akhir aja,” tutur Mufti.
Beberapa mahasiswa Indonesia lain memang masih banyak merasa aman-aman saja. Namun yang menjadi kekhawatiran utama adalah persediaan logistik. Apalagi sampai sekarang transaksi pengambilan uang di ATM masih susah. *
Foto: Republika