Hidayatullah.com—Panen opium Afghanistan tahun 2013 ini naik dibandingkan tahun 2012, di mana untuk pertama kalinya lebih dari 200.000 hektar lahan ditanami tanaman opium, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
UN Office for Drugs and Crime (UNODC) dalam laporannya mengatakan, panen opium Afghanistan tahun ini naik dibanding tahun lalu. Kebanyakan opium itu ditanam di Provinsi Helmand, tempat pasukan Inggris yang akan ditarik selama ini bertugas.
Pimpinan UNODC di Kabul Jean Luc Lemahieu mengatakan, panen opium tahun depan sepertinya akan naik lagi.
Bisnis ilegal opium menurut Lamahieu memanfaatkan celah dari bisnis legal yang ada. Harga opium tetap tinggi karena di Afghanistan ada uang tunai yang berasal dari bantuan asing.
“Sepanjang kita berpikir bisa memerangi narkoba dalam waktu singkat dengan jalan pintas, maka kita akan terus-menerus gagal,” imbuh Lemahieu dikutip BBC (31/11/2013).
Lemahieu mengatakan, untuk mengatasi masalah opium Afghanistan memerlukan waktu 10-15 tahun, bahkan jika kebijakannya diperbaiki. Belum lama ini perang melawan bisnis ilegal opium di Afghanistan menuai sukses dengan ditangkapnya tokoh-tokoh terkemuka.
Laporan UNODC menyebutkan, total lahan tanaman opium tahun ini naik dari 154.000 hektar menjadi 209.000 hektar dengan potensi panen naik 49% menjadi 5.500 ton, atau melebihi permintaan opium dunia saat ini.
Separuh lahan opium itu ada di Helmand. Sedangkan dua provinsi yang sebelumnya sudah bebas dari tanaman madat tersebut, Faryab dan Balkh, sekarang ditanami opium kembali.
Afghanistan merupakan penghasil lebih dari 90% opium dunia. Selain dipakai untuk pembuatan obat oleh industri farmasi, opium di beberapa wilayah di dunia dipakai oleh penduduk setempat untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk tambahan pembuatan masakan dan kue, keperluan dekorasi rumah, serta kebutuhan rekreasional seperti halnya rokok*