Hidayatullah.com–Pemilihan Presiden Singapura akan datang yang akan diadakan pada September tahun ini adalah sesuatu yang unik karena ia telah dialokasikan salah satu calon orang wanita asli Melayu setelah Yusof Ishak menjadi Presiden Singapura yang pertama hampir 50 tahun lalu.
RUU Pemilihan Presiden Singapura (Amandemen) disetujui parlemen pada Senin dengan dukungan mayoritas setelah hampir tiga jam diperdebatkan delapan anggota parlemen.
Topik siapa yang akan menjadi calon dari masyarakat minoritas Melayu mulai mengemuka kembali.
Diantara pertanyaan yang ada adalah, dapatkah Halimah Yacob, wanita pertama ketua parlemen juga menjadi wanita pertama Presiden Singapura?
PM Singapura Desak Masyarakat Melayu Islam Terlibat di Sektor Ekonomi Baru
Ini bisa menjadi satu perkembangan yang unik bagi sejarah pemilihan Presiden Singapura.
Saat membahas RUU belum lama ini, Menteri di Kantor Perdana Menteri Chan Chun Sing sempat keseleo lidah dan menyapa Halimah sebagai “Ibu Presiden”.
Peristiwa itu terjadi dua kali, dan mendapat respons yang mendorong anggota parlemen dan setelah itu ia share di internet dengan dengan judul “Rakyat Singapura mengucapkan selamat kepada Halimah Yacob karena menjadi presiden yang baru.”
Namun saat berita ini ditulis, Halimah masih belum menunjukkan minatnya untuk bertanding.
Namun, tidak ada masalah untuk dia bertanding seolah-olah calon minoritas meninggalkan daerah perwakilan kelompoknya (GRC), satu pemilihan tidak akan diadakan.
Hal itu dikonfirmasi Chan mengingat Halimah – sebagai contoh – merupakan anggota minoritas GRC Marsiling-Yew Tee.
Selain Halimah, beberapa tokoh masyarakat Melayu bagi sektor publik dan swasta dilihat calon potensial yang disebut-sebut akan menang.
November tahun lalu, Channel NewsAsia menyiarkan satu artikel berjudul: ‘Singapore s next President: A look at potential contenders’.
Mantan menteri dan ketua parlemen Abdullah Tarmugi juga disebut-sebut sebagai calon potensial.
Abdullah – yang merupakan bagian dari sembilan anggota Komisi Konstitusi yang memeriksa ulang pemilihan Presiden dilaporkan mengatakan ia tidak memikirkan sangat untuk bertanding, dan ia dianjurkan teman-temannya untuk berbuat demikian.
Menteri-menteri yang ada saat ini seperti Yaacob Ibrahim, Masagos Zulkifli dan mantan anggota parlemen Zainul Abidin Rasheed juga diidentifikasi sebagai calon potensial.
Artikel yang ditulis Nur Afifah Ariffin mengatakan calon potensial dari sektor swasta termasuk CEO Bank of Singapore Bahren Shaari dan anggota Komisi Layanan Publik Po’ad Mattar.
Tidak hanya warga Singapura, rakyat Malaysia juga memberi perhatian dengan perkembangan di republik ini.
Halima Yacop adalah anggota dari partai pemerintah Partai Aksi Rakyat (PAP), ia adalah Ketua Parlemen Singapura yang kesembilan dimana ia mulai menjabat sejak tanggal 14 Januari 2013. Ia adalah wanita pertama yang menduduki posisi ini dalam sejarah Republik Singapura. Ia adalah orang ketiga yang menjadi Ketua Parlemen dari ras minoritas secara berturut-turut, setelah Abdullah Tarmugi dan Michael Palmer.
Dalam wawancara dengan Reuters, kantor berita nasional Malaysia, di Istana pada November tahun lalu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong ditanya apakah dia memiliki calon-calon tersebut dalam pikirannya.
“Dalam pikiran kami, tidak ada siapa pun secara khusus, tapi kami tahu ada orang yang layak,” katanya.
“Ini tergantung pada siapa yang tampil ke depan. Bukan urusan pemerintah untuk mengaturnya. Calon itu sendirilah yang harus tampil ke depan, “jelasnya.
Lee telah mengusulkan amandemen Konstitusi yang dibuat untuk memastikan perwakilan bersifat berbagai kaum dalam kantor Presiden.
Ini disetujui pada 9 November 2016 dengan anggota-anggota Parlemen memilih mendukung usulan pemerintah untuk membuat satu perubahan pada pemilihan presiden terpilih dengan 77 anggota parlemen mendukung dengan enam lagi menolak.
Singapura telah melalui lima Pemilu tanpa seorang Melayu dipilih menjadi presiden setelah Yusof Ishak yang menjabat sejak 1965 sampai 1970.
Periode jabatan Presiden saat ini Tony Tan Keng Yam berakhir pada 31 Agustus nanti.*