Hidayatullah.com—Seorang bayi di Florida Selatan mungkin bisa dikatakan bayi pertama yang lahir dengan antibodi atau kekebalan terhadap Covid-19. Hal ini disebabkan karena ibunya telah divaksin beberapa minggu sebelumnya.
Ibu sang bayi adalah seorang petugas kesehatan garis depan yang mendapat dosis pertama vaksin Moderna pada akhir Desember, lapor Daily Sabah pada Kamis (18/03/2021). Tiga minggu kemudian, dia melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Selama pengujian rutin darah yang berasal dari tali pusat anak, dokter anak di Boca Raton, Dr. Chad Rudnick dan Dr. Paul Gilbert juga menguji sampel untuk antibodi Covid-19.
Para dokter memiliki hipotesis: Dengan vaksin lain, seperti vaksinasi flu, jika seorang ibu divaksinasi dalam jangka waktu tertentu, anaknya akan lahir dengan beberapa antibodi. Akankah vaksin COVID-19 menawarkan hal yang sama?
Firasat mereka benar. Keluarga itu sangat gembira.
“Pertanyaan pertamanya adalah, ‘Apa artinya ini dalam kaitannya dengan perlindungan?'” Kata Gilbert. Para dokter tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Mereka tahu bayi itu memiliki perlindungan, tetapi mereka tidak tahu berapa lama antibodi itu akan bertahan atau apakah cukup untuk memberi anak perlindungan penuh terhadap virus.
Data tentang ini masih kurang. Belum ada vaksin Covid-19 yang resmi di Amerika Serikat untuk anak-anak di bawah 16 tahun.
Apa yang mereka tahu adalah bahwa bayi yang dilahirkan dengan perlindungan merupakan tanda bahwa dunia “sedang berpaling dari virus ini,” kata Rudnick. Gilbert mengatakan mereka juga tahu gadis kecil itu mungkin “salah satu yang pertama di dunia” yang lahir dengan antibodi dari vaksin. Untuk saat ini, para dokter merahasiakan identitas ibu dan informasi lainnya.
Itu berita yang menggembirakan, ungkap Dr. Christopher Golden, direktur medis di bagian perawatan bayi Rumah Sakit Johns Hopkins. Tetapi dia memperingatkan orang tua agar tidak lengah, meski mereka baru saja divaksin.
“Tidak boleh ada anggapan bahwa babi yang memiliki antibodi terlindungi atau aman,” katanya.
Golden menyampaikan bahwa masih banyak yang tidak diketahui: Akankah antibody efektif melindungi bayi dari Covid-19? Berapa banyak antibodi Covid-19 yang diturunkan ibu kepada anaknya? Berapa lama antibodi bertahan?
Dia mencontohkan batuk rejan. Para ibu yang menerima suntikan vaksin selama masa kanak-kanaknya membawa antibodi dan dapat menurunkan itu kepada bayi mereka, yang pada awalnya melindungi mereka. Namun kemudian setelah berusia 2 bulan, bayi-bayi itu perlu mendapatkan vaksinasi mereka sendiri sehingga mereka dapat membangun sistem imun mereka, katanya.
Rudnick dan Gilbert, kedua dokter yang bekerja di Boca VIPediatrics, sepakat bahwa masih ada banyak yang perlu dipelajari. Keduanya menulis penemuan baru mereka dalam artikel “pracetak” di medRxiv. Meskipun penelitian medis mereka masih baru, hal itu belum ditinjau oleh rekan sejawat dan akan membutuhkan studi tambahan. Keduanya mengatakan temuan mereka akan dipublikasikan di BMC Pediatrics dalam beberapa minggu mendatang.
Penelitian lain menunjukkan bahwa wanita hamil yang pulih dari infeksi Covid-19 dapat mentransfer beberapa antibodi ke bayi mereka, tetapi jumlahnya lebih rendah dari yang diharapkan.
Rudnick dan Gilbert berharap temuan mereka akan diperlakukan sebagai “seruan untuk bertindak” dan akan mendorong para peneliti untuk melihat seberapa banyak antibodi yang dapat diterima bayi baru lahir dari ibu yang baru divaksinasi dan berapa lama perlindungan akan bertahan.
Adapun ibu dan bayi pertama dengan kekebalan atau antibodi Covid-19, keduanya itu baik-baik saja. Sang ibu juga telah menerima dosis kedua dari vaksin tersebut.*