Hidayatullah.com–Qatar dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri latihan militer bersama yang diadakan di Al-Galayel pada hari Ahad. Latihan diawasi Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar, Dr Khalid Mohammed Al Attiyah, lapor kantor berita Qatar (QNA).
Pelatihan tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu latihan bersama pasukan khusus militer, operasi khusus militer laut dan operasi militer udara yang diwakili skuadron helikopter Pasukan Angkatan Udara Qatar, serta tim khusus militer AS.
Latihan bersama tersebut turut disertai Panglima Pasukan Khusus Brigadir Jenderal Hamad Abdullah Al Fetais Al Marri, perwakilan Kedutaan AS Brigadir David Parr dan pejabat senior Angkatan Bersenjata Qatar dan AS.
Sebelumnya, Amerika Serikat bahkan telah menyetujui penjualan pesawat tempur jenis F-15 senilai US $ 12 miliar ke Qatar. Kesepakatan ini terjadi di tengah krisis diplomatik antara Doha dengan Arab Saudi Cs.
“Menteri Pertahanan Jim Mattis hari ini bertemu dengan Menteri Pertahanan Qatar Khalid al-Attiyah untuk membahas finalisasi jual beli pesawat tempur F-15 buatan AS oleh Qatar,” demikian disampaikan Juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Roger Cabiness kepada CNN hari Kamis, (15/06/2017) lalu.
“Penjualan senilai US $ 12 miliar ini akan memberikan Qatar kemampuan canggih dan meningkatkan kerja sama pertahanan serta interoperabilitas antar kedua negara.”
Penjualan pesawat tempur ini dinilai menunjukkan sinyal kuat dukungan AS atas Qatar di tengah isolasi dan blokade oleh Saudi Cs.
Pengumuman terkait jual beli senjata AS-Qatar ini muncul satu pekan setelah sejumlah pejabat di Washington menunjukkan berbeda pandangan dalam menyikapi Krisis Teluk.
Qatar dinilai sebagai “rumah terbesar” bagi pangkalan militer Pentagon di Timur Tengah. Tak hanya itu, negara kecil namun superkaya tersebut juga menjadi front terdepan dalam perang melawan ISIS.*