Hidayatullah.com—Hari Rabu (11/5), Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengunjungi Ponpes Al Zaitun di Indramayu, Jabar,. Kedatangan rombongan Menag ini untuk mengecek kebenaran apakah pesantren pimpinan Panji Gumilang itu ada kaitannya dengan NII KW 9 dengan gerakan cuci otaknya yang telah menjadi perbincangan publik.
Kedatangannya di ponpes tersebut disambut ribuan santri yang mengibarkan bendera kecil Merah Putih. Saat tiba di ruang penerimaan tamu, Suryadharma disambut pimpinan Ponpes Al Zaytun AS Panji Gumilang dengan iringan musik rebana dan gamelan. Ia juga disambut dengan lagu Bangun Pemuda Pemudi.
Nampaknya, Menag tercengang dengan kemegahan dan kemewahan Ponpes Al Zaitun. Menurut Menag, dari berbagai tempat pendidikan yang pernah dikunjungi, menurut Suryadharma, Al Zaitun adalah yang terbaik.
“Bagaikan kota di tengah hutan,” begitu kesan Menteri Agama.
“Saya beri apresiasi pada Syekh Panji Gumilang. Kalau saya katakan bagus, lebih dari bagus. Kalau mewah, melebihi mewah. Kalau lengkap, melebihi lengkap. Al Zaitun adalah kebanggaan,” ujar Suryadharma dikutip detik.com, Rabu, (11/5).
Hal itu disampaikannya saat memberi pembekalan pendidikan pada santriwan-santriwati Ma`had Al Zaitun di Gantar, Mekarjaya, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (11/5).
Menag berpendapat, Al Zaitun sukses memadukan pendidikan dan kenyataan hidup atau realitas sesungguhnya. Hal ini menjadi bekal berharga saat anak-anak kembali ke masyarakat.
“Di Al Zaitun, dari aspek ekonomi ada produksi yang mengolah hasil produksi, menjual hingga menjadi end user,” imbuh Suryadharma.
Dengan pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa, di mata politisi PPP itu, Al Zaitun memberi harapan untuk melahirkan pemimpin di panggung lokal maupun nasional.
Padahal sebelumnya, Menag mengatakan, gerakan NII KW 9 yang mengarah disintegarasi bangsa harus disikapi. Ketua Umum PPP ini juga berpendapat, gerakan ini ingin memecah belah bangsa.
Situs nii-crisis-center.com, laman yang memuat kisah dan korban-korban kasus NII mengungkapkan tentang ‘politik kemunafikan’ di Pondok Pesantrean Al Zaitun.
Menurutnya, apa yang terjadi antara penyataan biasanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Antara di depan dengan dibelakang tidak sejalan, antara mulut dan hati tidak sama dan kontrandiksi – kontradiksi itu terus dijaga dan dipelihara demi kepentingan – kepentingan diri dan kelompoknya tetap aman.
“Panji Gumilang yang menjalankan politik kemunafikan secara rapi, namun politik kemunafikan yang dijalankannya sudah cepat tercium gelagatnya (karena jejak– jejak hitamnya dan memang Allah juga telah menempatkan orang – orangnya sebagai saksi dan pembukti ) baik ketika dia masih di teritorial maupun saat terkini di Al Zaitun, “ tulisnya. Mungkinkah rombongan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali termasuk bagian korban ‘politik kemunafikan’ Panji Gumilang sebagaimana disebut nii-crisis-center.com? Waktu yang akan menjawabnya.*