Hidayatullah.com–Iman itu terbagi menjadi 70 cabang. Yang paling tinggi/besar adalah kalimat tauhid, Laa Ilaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Sedangkan jenis yang paling rendah/kecil itu menyingkirkan batu dari jalan.
Termasuk dalam kategori ini praktik iman paling rendah adalah mengurai kemacetan lalu-lintas. Karena arti lain dari menyingkirkan batu dari jalan, yaitu memberi kenyamanan bagi pengguna jalan ketika melintasi jalan.
Demikian tutur pendiri Sirah Club Indonesia (SCI) Asep Shobari, MA, saaat memberi ‘Pembekalan Ramadhan’ di depan ratusan warga Hidayatullah Surabaya, Sabtu, (22/05/2016).
Lebih lanjut, pakar sejarah Islam dari Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (Lembaga Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam) itu pun mengutip salah satu sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi; “Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, maka berikanlah hak jalanan.” Mereka bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab, “Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.” (HR. Muslim).
Menurut Asep, prinsip ini pula yang akhirnya diterapkan oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khathab dalam merumuskan tata kelola ruang kota.
Khalifah kedua itu ingin berusaha memberi kenyamanan bagi para pengguna jalan. Karena itu saat di era Umar bin Khattab, luas ruas jalan yang dibangun sudah sangat lebar.
Ia membeberkan, bahwa luas jalan protokol yang dibangun Khalifah Umar bin Khattan saat kepemimpinannya sudah mencapai 18 meter. Sedangkan gang-gang yang digunakan untuk menuju rumah-rumah penduduk sudah mencapai 4 meteran.
“Jadi terbayang begitu luasnya jalan yang dibangun. Padahal, kendaraan yang paling besar saat itu baru onta. Jalannya sudah seluas itu,” ujar pria yang juga pengelola Majalah Gontor ini.
Alumni Universitas Islam Madinah itu kemudian mengajak para hadirin membandingkan dengan situasi jalan yang ada saat ini, khususnya yang ada di Indonesia.
Termasuk juga persoalan macet yang tak kunjung berkesudahan. Padahal APBN sudah banyak yang terkuras, namun juga belum membuahkan hasil.
“Berapa banyak dana APBN dikeluarkan untuk mengatasi masalah macet. Tapi hingga hari ini, belum juga teratasi,” ungkapnya.
“Jadi kalau memperhatikan kemacetan yang terjadi saat ini, maka dapat disimpulkan, sekedar lulus ujian iman bagian yang terkecil saja, pemimpin saat ini gagal,” kelakarnya.*/Khairul Hibri