Hidayatullah.com– Tuduhan terbaru Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bahwa Aksi Bela Islam II di Jakarta, Jumat (04/11/2016) tujuannya politis dan aksi bayaran, membuat para peserta aksi yang ikut memberikan kesaksiannya.
Di antaranya adalah Zulkifli (35). Pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku ikut aksi ke Jakarta atas inisiatif sendiri dalam Aksi Damai 411 itu.
Ia mengaku, ide ke Jakarta dimulai ketika ia dimasukkan grup Whatsapp oleh seorang sahabatnya.
Dalam proses diskusi di grup maupun bertemu darat, kelompok ini bertujuan membuktikan bahwa umat Islam di NTB mengutuk keras penistaan agama dengan tersangka Ahok.
Salah satu hasil kesepakatan adalah akan melaksanakan Aksi Bela Al-Qur’an itu guna memprotes penistaan agama. Aksi direncanakan digelar pada Jumat (28/10/2016) setelah shalat Jumat.
Massa yang hadir pun diimbau untuk shalat berjamaah di Masjid Raya At-Taqwa yang bersebelahan dengan Islamic Center NTB.
Bermodal surat undangan ke masjid-masjid, ormas Islam, dan pesan berantai di grup media sosial, massa datang di luar perkiraan.
Aliansi Umat Islam (AUI) NTB yang sebelumnya memperkirakan pesertanya hanya ratusan, ternyata yang datang ribuan.
Alhamdulillah aksi berjalan damai.
12 Ribu Massa Aliansi Umat Islam NTB Desak Polisi Tangkap Ahok Penista Al-Quran
Dalam diskusi lanjutan setelah aksi 2810 di Mataram itu, diskusi berlanjut. Yaitu terkait Aksi Damai Bela Quran yang digagas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI di Jakarta, Jumat (04/11/2016).
Semua anggota dalam grup tersebut sepakat siap ke Jakarta. Diperkirakan, sekitar 165 orang siap berangkat menuju ibu kota negara.
Ada beberapa orang yang mempunyai agenda penting di tanggal itu, tetapi tetap ikut berpartisipasi dalam Aksi Damai 411. Mereka pun berpatungan membiayai beberapa orang yang siap berangkat tetapi terkendala dana.
“Saya sendiri diberikan bantuan oleh salah seorang sahabat baik saya yang tidak bisa berangkat karena urusan pekerjaan.
Bahkan beliau mengajak beberapa temannya untuk berpartisipasi untuk membantu akomodasi umat Islam dari NTB yang berangkat ke Jakarta,” ujar Zulkifli.
Sesampai di Bandara Internasional Lombok, ternyata yang akan berangkat ke Jakarta untuk ikut Aksi Damai 411 jauh lebih banyak. Mereka berkumpul di Bandara. Sebagian besar dari mereka dari berbagai ragam profesi.
“Kamis berdiskusi, saya pastikan mereka juga biaya sendiri ke Jakarta. Saya naik pesawat Citilink (rute) Lombok – Halim jam 9.50 pagi.
Sesampainya di Jakarta, saya ke salah satu masjid di bilangan Otista, Jakarta. Di masjid tersebut, juga sudah berkumpul ratusan orang dari Jawa Timur. Mereka juga mengaku urunan. Ada yang mengaku membawa mobil sendiri dari Jawa Timur.”
Sumber Dana Aksi Bela Islam: Celengan Warga dan Sumbangan Tukang Ojek Rp 10 Ribu
Menjelang malam, masjid yang ditempati menginap tambah penuh. Maklum, ratusan orang dari berbagai kota; Jogja dan Solo berdatangan menggunakan bis.
“Mereka juga urunan. Menjelang maghrib, ponsel saya berdering, seorang teman mengabarkan bahwa dia sudah turun dari pesawat, bersama ratusan Muslim NTB lainnya di Bandara Cengkareng.
Dan mereka juga banyak yang tidak saling kenal karena keberangkatan mereka ke Jakarta karena inisiatif sendiri dan biaya sendiri,” tuturnya berkisah.
Ukhuwah Menggerakkan hati umat Islam
Kisah lain diceritakan Adi Amar, seorang pekerja swasta asal Surabaya. Ia dengan rombongannya ikut berangkat ke Jakarta dalam Aksi Bela Islam II, JUmat 4 Nov 2016 semata memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wata’ala.
“Ya, ini bagian dari ibadah. Membela al-Qur’an dari penistaan yang dilakukan oleh Ahok, Gubernur DKI Jakarta.”

Menurutnya, banyak rombongan dari Jawa Timur ikut berbondong-bondong berangkat ke Jakarta hanya untuk meminta keadilan agar Sang Penista dihukum setimpal dengan perbuatannya. Yang mengharukan menurutnya, ia tahu sendiri banyak pengusaha ikut ambil bagian saling membantu bagi mereka yang ingin dating karena tidak punya ongkos.
“Ada yang menyumbang 1 sampai 5 bus, digratiskan untuk umat yang siap berangkat. Bahu membahu dalam semangat ukhuwah Islamiyah memang mencengangkan pihak-pihak yang tidak mengenal arti jihad dalam spektrum Islam. Mana mungkin manusia penista semacam Ahok, yang dengan mulut kotor terbiasa tuduh sana tuduh sini tanpa bukti, mengerti soal-soal menyangkut Islam? ujar Adi Amar kepada hidayatullah.com.
Di Media Australia, Ahok Sebut Peserta Aksi Damai 411 Dapat Uang Rp 500 Ribu
Terkait tuduhan terbaru Gubernur DKI Jakarta (non akitif) Basuki Thajaha Purnama yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus Penistaan Agama, bahwa peserta aksi damai mendapat uang Rp 500 ribu, Adi mengatakan, Ahok tak akan mengerti apa itu ukhuwah, yang bisa menggerakkan hati jutaan orang saling bahu-membahu mengumpulkan uang agar bisa sampai ke Jakarta.
“Jadi, kalau ada pihak-pihak yang mencari-cari siapa yang membiayai keberangkatan ratusan ribu, bahkan bisa jadi jutaan umat bergerak serempak ke Jakarta dengan meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Maka jawabnya adalah bahwa umat digerakkan oleh iman, yang itu sulit dijelaskan dengan nalar sempit orang semacam Ahok dan Ahokers-nya,” ujar Adi.*