Hidayatullah.com– Guru Besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra, menganggap sekolah Islam Al-Azhar yang didirikan Buya Hamka pada tahun 1961 sebagai titik awal perubahan sekolah Islam menuju kemajuan.
Kalau dulu, tutur azra, sekolah-sekolah Islam yang ada sejak dasawarsa kedua abad 20, tidak berhasil meningkatkan kualitas dan daya tariknya sampai akhir kekuasaan Belanda dan Jepang. Bahkan sampai masa tiga dasawarsa setelah kemerdekaan negeri ini.
“Faktor utamanya sudah jelas; pertama, tidak terdapat dukungan finansial memadai, yang memungkinkan terjadinya upaya peningkatan kualitas; kedua, belum tersedianya sumber daya yang mampu mengelola dan mengembangkan sekolah-sekolah Islam tersebut,” paparnya dalam seminar nasional Buya Hamka, Kamis (15/02/2018) di aula Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.
Baca: Peringati 110 Tahun Buya Hamka, YPI Al Azhar Gelar Seminar Nasional Buya Hamka
Akibatnya, lanjut Azra, banyak orangtua yang kaya atau pejabat enggan mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam. Hanya kalangan bawah saja yang mengirim anaknya ke sekolah Islam atau sekolah negeri.
“Sekolah-sekolah yang menjadi favorit mereka adalah sekolah Katolik atau Kristen yang lebih menjanjikan mutu dan disiplin, yang masih menerapkan disiplin model Belanda. Sampai akhir dasawarsa 1970-an, bagi orang kaya dan pejabat, mengirim anak-anak ke sekolah-sekolah seperti ini sangat bergengsi; dan karena itu ia juga menjadi salah satu simbol status,” tuturnya.
Sejak 1970-an, pelahan tapi pasti, keadaannya mulai berubah, kata Azra.
“Perintis perubahan itu, tidak lain adalah sekolah Islam Al-Azhar yang terletak di lingkungan Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran Baru, yang merupakan kawasan elit di Jakarta,” katanya.
Terkait erat dengan visi kemoderenan dan keindonesiaan ulama besar, Prof Dr Buya Hamka, sekolah Al-Azhar, menurut Azra, menjadi model bagi sekolah-sekolah Islam yang berkecambah tidak hanya di Jakarta, tetapi juga kota-kota lain di Indonesia sejak 1980-an.
Al-Azhar sendiri membuka cabang di berbagai kota dengan cakupan pendidikan sejak dari tingkat dasar dan menengah. Sebagiannya merupakan cabang Al-Azhar yang memisahkan diri. Lalu ada Al-Izhar, Madania (Parung), As-Salam (Solo), SMU Insan Cendekia (Serpong dan Gorontalo), SMU Athiroh (Makassar), Internat Al-Kautsar (Sukabumi), dan banyak lagi kalau mau didaftar satu per satu.
Sekolah-sekolah ini, kata Azra, dikelola secara profesional, dengan sumber daya manusia yang baik dan dukungan finansial yang sangat baik. Karena itu tidak heran kalau sekolah-sekolah ini berhasil meningkatkan kualitas pendidikannya. Tidak heran pula kalau sekolah-sekolah ini menjadi sekolah-sekolah favorit dan sekaligus menjadi sekolah ‘elit’.
Baca: Wibawa Dakwah Buya Hamka
“Pelahan tapi pasti pula, kian banyak kalangan menengah ke atas —orang kaya dan pejabat— mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah seperti ini. Dan, tidak terelakkan lagi, sekolah-sekolah menjadi simbol status baru khususnya bagi keluarga-keluarga kelas menengah Muslim yang sedang dan terus bangkit sejak 1980-an,” ujarnya.
Dengan demikian, menurut Azra, Buya Hamka meletakkan dan mengembangkan pendidikan Islam modern yang maju dan membanggakan.* Andi