Sambungan artikel PERTAMA
Hari Bersejarah
Suasana pagi di perkampungan itu ibarat pesta penyambutan seorang raja atau pahlawan yang dielu-elukan rakyat dan pendukungnya. Kiasan itu mungkin tak terlalu berlebihan. Sebab, bagi AFKN, Dubes Saudi tersebut betul-betul sosok pahlawan.
Dalam sambutannya, Ustadz Fadlan menyampaikan, Ahad itu merupakan hari bersejarah bagi dakwah di Nuu Waar. Dimana Kerajaan Arab Saudi memberikan beasiswa bagi sedikitnya 63 putra-putri Papua untuk kuliah gratis di LIPIA Jakarta dan Aceh.
Menurutnya, sepanjang ini, baru kali itu generasi Nuu Waar diperhatikan dan diperlakukan seperti itu. “Belum pernah kita melihat ada duta besar yang bersikap seperti Syeikh Osamah, dimana anak-anak Nuu Waar diberdayakan dengan bahasa Arab,” ujar Ustadz Fadlan.
Maka jangan heran pula dengan penyambutan arak-arakan itu. Sebab, “Itu salah satu tradisi masyarakat Papua dalam menyambut tamu atau orang-orang tertentu,” ujar Humas AFKN Abu Zanki kepada media ini.
Dalam sambutannya, Syeikh Osamah yang tidak menyinggung soal arak-arakan itu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tuan rumah. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas waktunya. Bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan keamanan,” ujarnya.
Baca: Kedubes Saudi-AFKN Kuliahkan 63 Putra-putri Papua di LIPIA Aceh dan Jakarta
Ini yang menarik juga. Acara itu diseting dengan kombinasi nuansa Indonesia-Arab. Misalnya, spanduk acara yang didominasi tulisan berbahasa Arab, dengan latar belakang gambar besar bendera Merah Putih dan peta Nusantara.
Kemudian, sang MC, Ahmad Fauzi, yang juga pengurus AFKN, membawakan acara dengan berbahasa Arab. Ada pula pidato khusus berbahasa Arab oleh salah seorang santri, Hamzah Barweri, yang tampak mengundang perhatian Dubes Saudi.
“(Saya) baru 3 bulan belajar (bahasa Arab),”ujar Hamzah, pria 15 tahun asal Kampung Kiat, Fak-Fak, ini kepada hidayatullah.com seusai berpidato.

Uniknya, berbeda dengan muridnya, Ustadz Fadlan menyampaikan sambutannya dengan bahasa Indonesia. “Sebagai orang Indonesia, saya bangga menggunakan bahasa Indonesia,” jelas dai asli Papua ini di atas panggung.
Menyambut Raja Salman
Yang tampak unik juga adalah seragam para “tentara” pengawal jalannya acara. Bukan tentara sungguhan, mereka adalah santri-santri pilihan yang dipakaikan seragam khas tentara Arab; loreng coklat.
Di dada kanan seragam mereka, terpasang bendera Kerajaan Arab Saudi. Di pundak kanannya, terpatri bendera Republik Indonesia. Kedua bendera berdekatan itu seakan menyimbolkan jalinan ukhuwah kedua bangsa.
Apalagi, pada awal Maret besok, kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia akan semakin membuktikan hubungan erat kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim itu.
Pertemuan Raja Salman dengan Presiden Joko Widodo di Indonesia pada 1-4 Maret, “mengadakan pembicaraan bilateral di Istana Bogor,” ujar Syeikh Osamah kepada hidayatullah.com dan wartawan lain seusai acara itu.
Dubesnya saja disambut dengan begitu meriah saat menjejaki tanah Setu, Bekasi. Tentunya, penyambutan Raja Salman di Indonesia jauh lebih semarak, meriah, penuh jalinan ukhuwah keimanan dan kenegaraan.
Indonesia pun, khususnya tempat-tempat yang akan dikunjungi, bersolek. Seperti Gedung DPR RI dan Masjid Istiqlal yang menyiapkan tangga dan lift khusus untuk Sang Pelayan Dua Tanah Suci tersebut. Puluhan ribu pelajar pun disiapkan untuk menyambut Sang Raja di Bogor, Jawa Barat.
Tampaknya lumrah saja, sebagaimana tradisi ketimuran di Nusantara dan tradisi keislaman dalam melayani tamu. Apalagi, ini adalah kali pertama Raja Arab Saudi mengunjungi Indonesia selama sekitar 47 tahun belakangan ini.
Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita, Dari lembah Wadā‘, Dan wajiblah kita mengucap syukur, Dimana seruan adalah kepada Allah,” demikian terjemahan penggalan nasyid kaum Anshar saat menyambut Rasulullah kala itu.
Ahlan wa sahlan! Selamat datang, Raja Salman!*