Suatu hal yang luar biasa, bagaimana penduduk Kota Syam, faham betul bagaimana menghargai dan memuliakan pelajar asing, termasuk saya
Hidayatullah.com | MASYARAKAT Jordan (Yordia) dikenal sangat ramah terhadap mahasiswa asing. Sapaan “ahlan wa sahlan” sangat lumrah ditemui di Bumi Syam ini.
Dimanapun Anda berada, mereka akan dengan senang hati bertanya darimana Anda berasal dan mengucapkan “selamat datang” dengan senyum hormat.
Pun juga dengan mahasiswa lokal dengan ramah menghampiri kami dan bertanya apa kesulitan yang kami hadapi. Mereka dengan sangat ringan tangan bersedia membantu, seolah-olah mengatakan bahwa Anda benar benar diterima dengan sangat baik di negara ini.
Saya pergi ke Jordan dengan bekal bahasa Arab yang sangat jauh dari kata sempurna. Hari pertama kuliah, dengan segala keterbatasan, saya pergi berbekal petunjuk seadanya untuk mencari di mana kelas saya berada.
Informasi yang saya dapat ternyata tidak cukup untuk menemukan di mana letak kelas tersebut sehingga saya harus mendobrak rasa takut dan malu dalam diri saya untuk bertanya kepada mahasiswa lokal.
Sungguh memang luar biasa skenario Allah. Di sinilah saya kali pertama bertemu teman saya yang banyak andil dalam berkembangnya kemampuan bahasa Arab saya hingga saat ini.

Namanya Wala’. Tanpa ragu dan disertai senyuman ramah menyambut saya. “Anti min Andunisiy? Ahlan wa sahlan habibati”.
Saya hanya bisa berucap syukur Alhamdulillah kehadiran saya disambut baik. Terima kasih saya untuk beliau yang telah benar-benar memaknai arti ahlan wa sahlan, membantu dan menunggu saya dengan sabar untuk kami berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab dari pertama kami bertemu hanya menggunakan bahasa isyarat hingga sekarang kami bisa tertawa bersama.
Mulanya saya mengira bantuan yang diberikan berakhir pada hari itu saja. Tapi ternyata kepedulian itu berlanjut hingga hari hari setelahnya.
Ia kerap menanyakan bagaimana kabar saya, apa yang saya butuhkan, kesulitan apa yang saya alami dan menawarkan bantuan untuk belajar bersama.
Saya sangat bersyukur dipertemukan oleh Allah dengan teman sebaik dia. Ia yang tidak pernah lepas dari senyum manisnya setiap kami berjumpa.
Tantangan lain sebagai mahasiswa Indonesia adalah beradaptasi terhadap cuaca. Jordan adalah negara Arab dengan 4 musim; musim semi, musim gugur, musim dingin dengan salju dan musim panas dengan suhu tinggi khas gurun.
Tidak mudah bagi kami beradaptasi dengan musim dingin di Jordan. Belum lagi mahalnya mata uang dan biaya listrik merupakan salah satu kendala untuk kami sehingga harus mencari cara bagaimana tetap menghangatkan diri.
Lagi dan lagi kami merasa nyaman, bagaimana warga di sini memuliakan mahasiswa asing yang datang. Alkisah suatu hari kami mendapatkan pemberitahuan tentang adanya bantuan musim dingin untuk mahasiswa asing yang akan dibagikan secara cuma-cuma oleh organisasi kampus.
Tidak ada persyaratan khusus. Kami hanya perlu mengisi form dengan nama, fakultas, alamat, jumlah orang dalam 1 rumah dan barang barang apa yang kami perlukan.
Saya kagum dengan mereka yang tidak menentukan apa yang akan mereka beri. Melainkan membebaskan kami untuk memilih barang apa yang kami butuhkan.
Kami menulis kebutuhan kami; Ada sembako, pemanas ruangan, mengingat harga pemanas yang lumayan mahal kami tidak berharap banyak atas disetujuinya permintaan ini.
Ketika hari pembagian, alangkah terkejutnya yang terjadi. Kami melihat ada pemanas ruangan dengan bahan bakar minyak (pemakaiannya membutuhkan biaya lebih murah dibandingkan pemanas listrik, namun harga beli lebih mahal) dan banyaknya bantuan yang diberikan kepada kami mulai dari beras, minyak, gula, garam dan makanan pokok Arab lainnya.
Bantuan ini mungkin terlihat remeh namun sangat berguna untuk kami sebagai mahasiswa. Bahkan dalam pendistribusiannya, mereka tidak mau merepotkan kami untuk mengambil bantuan tersebut melainkan mengantarkannya hingga ke depan rumah tinggal kami secara langsung.
Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Penduduk Kota Syam, faham betul bagaimana menghargai dan memuliakan pelajar. Semoga Allah melindungi dan merahmati Bumi syam, Yordania.*/Salma, mahasiswi asal Indonesia di Yordania