Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sofyan Ats-Tsauri: Menolak Setiap Pemberian dari Penguasa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Desember 2023 10:01 10:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Desember 2023 10:00
Bagikan
Bagikan

Karena nasihat-nasihat ulama besar Sofyan Ats-Tsauri, Khalifah Harun ar Rasyid tetap di jalan kebenaran

Hidayatullah.com | SOFYAN Ats-Tsauri dikenal sebagai ulama besar pada jamannya. Beliau seorang mujtahid mutlak,  al-hafidh adl dhabith (penghapal yang cermat),  yang memiliki sifat warak dan zahid.

Beliau dikenal cermat dalam periwayatan hadist sehingga Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya sebagai “Amirul Mu’minin fi al-Hadits” (Tahdzibul-Kamal 11/164).

Beliau meriwayatakan 30 ribu hadits dari Al-A’masi, Abdullah bin Dinar, Ashim al-Ahwal, Ibn al-Munkadir dan lainnya. Demikian pula banyak ulama yang mengambil Hadits darinya.

Yahya bin Ma’in menukil darinya sekitar 20 ribu hadits. Abdullah bin Mubarak mengaku telah mencatat hadits dari 1.100 orang guru dan tidak pernah mencatat dari seseorang yang keutamaanya melebihi Sofyan Ats-Tsauri.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Dalam berfatwa dan meriwayatkan hadits, Ats-Tsauri dikenal sangat hati-hati. Tak jarang seseorang menunggu fatwanya selama berhari-hari.

Ini karena jika ragu-ragu terhadap hafalan haditsnya, beliau akan kembali mempelajari catatan haditsnya, termasuk juga memeriksa catatan murid-muridnya.

Di antara fatwanya yang cukup mashur yaitu mengenai kedudukan Sahabat, khususnya khulafaurrasidin. Ketika itu ada sekelompok orang yang sangat fanatik terhadap Imam Ali sehingga mereka berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah meninggalnya Rasulullah ﷺ dalah Imam Ali.

Berkaitan dengan hal ini, beliau mengatakan, ”Siapa yang menyangka bahwa Ali radhiyallaahu ‘anhu lebih berhak atas kekhalifahan dibanding Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu dan Umar radhiyallaahu ‘anhu, maka sungguh dia telah menyalahi Abu Bakar, Umar, kaum Muhajirin dan Anshar radhiyallaahu ‘anhum ajma’in. Dan aku melihat orang dengan keyakinannya yang salah itu, maka amal baiknya tidak akan naik ke langit.” (Riwayat  Abu Dawud).

Keahliannya dalam bidang ilmu hadits dan fiqih membuatnya termasyhur, sehingga para sejarawan mensejajarkan kedudukannya dengan Ibnu Abbas, tokoh di masa Sahabat Nabi  dan Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi, tokoh di masa ulama tabi’in.

Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menyebutnya sebagai faqih (pakar ilmu fiqih) dan muhaddits (ahli hadits).

Al-Khatib al Baghdadi mengatakan bahwa Sofyan Ats-Tsauri adalah salah seorang di antara para imam kaum muslimin dan salah seorang dari pemimpin agama. Kepemimpinannya disepakati oleh para ulama, sehingga tidak perlu lagi pengukuhan terhadap ketelitian dan hafalannya.

Abbas ad-Dauri mengatakan, Yahya bin Ma’in tidak mendahulukan seorangpun darinya dalam masalah fiqih, hadits, zuhud, dan dalam setiap perkara. (Tahdzibul-Kamal 11/166).

Para ulama mengakui  Ats-Tsauri sebagai salah seorang perawi hadits yang dipercaya (tsiqah) oleh beberapa ulama hadits pada abad ke 2 dan ke 3 Hijriah, seperti Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Imam An-Nasai, Ali bin Abdullah bin Ja’far Al-Madini.

Sebagaimana Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki dianggap sebagai tokoh Madinah dan Abdurrahman Al-‘Auzai sebagai tokoh Syam, maka Sofyan Ats-tsauri dicatat sebagai tokoh Kuffah.

Sekalipun lebih dikenal sebagai ahli hadits, namun beliau juga mengungguli rekan-rekannya dalam ilmu fiqih dan qiyas. Para ulama menilai pengetahuan fiqihnya  lebih mendalam ketimbang Imam Abu Hanifah, sementara penguasaan haditsnya lebih banyak daripada Imam Malik.

Sayangnya, karya tulis Ats-Tsauri dalam ilmu fiqih tak ada yang dibukukan, namun pemikirannya dapat dijumpai dalam kitab fiqih Mazhab Hanafi, Syafi’i dan lainnya. Selain itu, beliau juga terkenal dengan pandangan rasionalnya dalam hal berijtihad.

Ada pemikiran Ats-Tsauri yang tercatat dalam kitab Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid yang sangat terkenal dan menjadi pegangan dalam ilmu fiqih hingga kini, yaitu air yang tergenang tanpa perubahan pada salah satu sifatnya (rasa, bau dan warna ) hukumnya suci dan menyucikan.

Dalam keadaan dingin, berwudhu dengan mengusap sepatu sebagai ganti membasuh kaki, adalah sah. Beliau juga berpendapat, tertib dalam berwudhu sebagaimana tertera dalam ayat Al-Quran adalah sunah, bukan wajib.

Selain itu, beliau juga berpendapat, mengqadha puasa tidak wajib bagi mereka yang makan dan minum karena lupa dan dipaksa. Jika terdapat seorang faqih dan qari’ dalam sebuah jamaah, yang berwenang menjadi imam ialah qari’.

Soal zakat harta hamba sahaya, beliau berpendapat, ia menjadi tanggungan tuannya.

Pendapat Ats-Tsauri yang juga mashur dan diikuti oleh ulama lain adalah soal membaca qunut saat shalat Subuh. Menurutnya, orang yang membaca qunut itu baik dan yang tidak membaca juga bagus.

Pendapatnya ini diikuti oleh Ibnu Hajm, Ibnu Qoyyim Al Jauzi dan ahli Hadits lainnya.

Menasehati Khalifah Harun Al Rasyid

Ulama yang memiliki nama asli Abu Abdillah Sofyan bin Sa’id bin Masruq al Kufi ini lahir di Kufah pada tahun 97 H. Ayahnya salah seorang ulama Kufah, yang menjadi guru Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi.

Sofyan mulai belajar pada usia yang masih muda, dibawah bimbingan orang tuanya. Kemudian menuntut ilmu fiqih kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq. Sedang dalam ilmu Hadits belajar kepada ulama tabi’in terkenal seperti Amr bin Dinar, Salamah bin Kuhail, Abu Shakrah, dll.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia berdagang demi menghindari pemberian orang, sekalipun dari teman sendiri, lebih-lebih dari para pejabat. Sebab, menurutnya, harta pejabat adalah harta negara, yang tentu saja juga merupakan harta rakyat, dan pemberian itu merupakan syubhat, meragukan, belum jelas.

Sikap teguh itu ia pertahankan secara konsisten.  Ia tidak takut mengemukakan pendapat, termasuk juga kritik terhadap penguasa.

Suatu hari, beliau mengkritik Khalifah Al-Manshur, khalifah kedua dinasti Abasyiah. Tapi, gara-gara kritik itu beliau dikejar polisi kerajaan.

Beliau pernah ditangkap oleh Muhammad bin Ibrahim, Gubernur Makkah, tapi dibebaskan tanpa sepengetahuan khalifah.

Untuk membungkam sikap kritisnya, Ats-Tsauri  pernah ditawari jabatan sebagai gubernur oleh Khalifah Al-Mahdi. Surat pengangkatannya sudah disiapkan, hari pelantikan juga sudah ditetapkan.

Beliau juga sudah menerima surat pengangkatan, tapi segera dibuangnya ke Sungai Dajlah. Beliau tidak gila pangkat, namun senang pada kebenaran.

Saat Harun ar Rasyid secara resmi diangkat sebagai khalifah, beliau tidak mau menampakkan dirinya di istana. Padahal para ulama lain menghadiri pengangkatan Khalifah Harun Al Rasyid untuk mengucapkan selamat.

Melihat hal itu, khalifah mengirim surat kepada ulama besar ini dan menanyakan kenapa beliau tidak hadir padahal sebelumnya mereka berdua memiliki hubungan yang dekat.

Mendapat surat dari khalifah, beliau dengan tegas menjawab bahwa dirinya telah memutuskan hubungan persaudaraan setelah tahu Harun Al Rasyid mulai berani memakai uang Baitul Mal untuk memberi hadiah kepada tamunya.

Dalam suratnya itu beliau menasehati Khalifah Harun Al Rasyid sebagai berikut, “Ya Harun Al Rasyid! Ketahuilah bahwa setiap manusia itu akan menemui ajalnya. Di antara mereka ada yang beruntung dengan membawa amal, dan ada pula yang merugi di dunia dan di akhirat. Engkaupun tentu akan mendapat giliran kematian itu. Ya Harun Al Rasyid! Berhati-hatilah dalam kehidupan di dunia ini. Ujian dan cobaan selalu mengintaimu. Dan nasehat yang paling baik adalah nasihat dari dirimu sendiri.”

Mendapat surat tersebut, Harun kemudian mengubah sikapnya. Karena sikap tegas dan teguh itulah, penguasa seperti Harun ar Rasyid tetap di jalan kebenaran.

Imam Sofyan Ats-Tsauri wafat di Basrah pada tahun 161 H.*/Bahrul Ulum, ditulis di Suara Hidayatullah  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKhalifah Harun Ar-Rasyidmujtahid mutlakPilihan RedaksiSofyan Ats-Tsauriulama dan penguasaulama salaf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bagikan Nomor Telpon “Tokoh Hamas”, Media Yahudi Sebut Aksi Dubes ‘Israel’ Memalukan!
Tulisan selanjutnya Ribuan Gereja di Amerika Serikat Keluar dari Denominasi United Methodist Church

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu

Berita
17 Juni 2026 11:24
Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase
Bersama DPR-DPD RI, MUI Gelar Hari Dialog Antar Peradaban Internasional, Dorong Perdamaian Global dari Indonesia

Terbaru

  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?