Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jalan Juang Founding Fathers Menentang Imperialis Asing [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Desember 2015 15:31 3:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Desember 2015 15:31
Bagikan
Fikiran Ra'yat: Sumber: Cindy Adams, 2014, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat
Bagikan

Oleh: Muhammad Cheng Ho  

GELI, jengkel, dan bosan menyaksikan sikap pimpinan negeri ini terhadap PT. Freeport Indonesia. Betapa tidak, sampai detik ini mereka belum menolak perpanjangan kontrak perusahaan yang mengeruk kekayaan alam kita itu. Bahkan gilanya, seorang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM) Sudirman Said terang-terangan mengaku sepakat dengan kepastian investasi Freeport pasca 2021 (Republika Online, 9 Oktober 2015). Dasar jongos perlente! Dan akhir-akhir ini mereka malah mau diadudomba oleh imperialis asing itu. Sehingga ributlah satu sama lain di layar kaca dan disaksikan langsung ratusan juta rakyatnya secara eksklusif. Miris! Entah seberapa tebal tembok di muka mereka.

Memang, kontrak PT Freeport baru habis di tahun 2021, namun sebenarnya tak menyalahi kontrak juga bila mereka menolaknya sekarang. Tapi dasar pimpinan negeri ini saja yang takut mengambil resiko, bermental inlander, pasif, pasrah, nrimo, dan minder.  Mana Revolusi Mental? Mana Nawacita? Mana Trisakti? Mana Nasionalisme? Mana Pancasila? Tong kosong nyaring bunyinya!

Berbeda dengan sikap founding fathers kita pada penjajah dahulu. Mereka melawan, lalu ditahan, keluar tahanan, tetap melawan, hingga kembali ditahan. Mereka menentang, lalu dibuang, di tempat pembuangan tetap menentang, hingga kembali dibuang. Itu mereka lakukan semata-mata demi kemerdekaan.

Pernah Presiden Bung Karno berpidato di lapangan rapat di Madiun dengan disaksikan langsung oleh polisi Belanda. Tanpa takut, ia katakan;

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

“Senjata imperialisme yang paling jahat adalah politik Divide et Impera. Belanda telah berusaha memecah belah kita menjadi kelompok yang terpisah-pisah yang masing-masing membenci satu sama lain…

Kita bisa belajar dari firman Sang Maha Pencipta bahwa hanya dalam keesaanlah ada kekuatan. Mungkin aku adalah seorang politikus yang berjiwa romantik, yang terlalu sering memetik kecapi dari idealisme, tetapi ketika orang Israel memberontak terhadap Firaun, siapakah yang menggerakkan kesaktiannya? Nabi Musa. Beliaupun memiliki cita-cita tinggi. Dan apakah yang dilakukan oleh Nabi Musa? Nabi Musa telah mempersatukan seluruh suku menjadi satu kekuatan  yang bulat.

Nabi kita juga melakukan yang sama. Nabi Muhammad adalah seorang organisator yang besar. Beliau mempersatukan orang-orang yang beriman, menjadikannya satu masyarakat Islam yang kuat, yang dengan militan melawan peperangan-peperangan, pengejaran, dan penyakit dari zaman itu.

… Marilah kita bergabung menjadi satu kekeluargaan yang besar dengan satu tujuan yang besar: menggulingkan pemerintah kolonial. Melawan mereka, bangkit bersama-sama.”

Mendengar itu, inspektur polisi Belanda yang memegang tongkat, memukulkan tongkatnya ke lantai sambil berteriak,” Stop… Stop….!” Bung Karno lalu dibawa ke kantor polisi. Di sana, ia diberi peringatan keras, “Jangan mencari perkara, Tuan Sukarno. Kalau terjadi sekali lagi, kami akan memasukkan Anda ke dalam sel. Dan Anda akan meringkuk di belakang terali besi untuk waktu yang lama. Mulai sekarang jagalah langkah Anda. Lain kali Anda tidak akan mudah dilepaskan.” Setelah itu, ia akhirnya dibebaskan (Cindy Adams, 2014, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat).

Meski ancaman penangkapan selalu membayanginya, namun Bung Karno tak bungkam. Ia kembali berpidato dalam sebuah rapat umum, menggertak penjajah.

“Kaum imperialis, perhatikan! Apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Perang Pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, apabila dalam waktu yang tidak lama lagi Samudera Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi di sekitarnya bergetar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, di saat itulah rakyat Indonesia akan melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka.”  (Cindy Adams, 2014, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat).

Setelah itu, Bung Karno pun kembali ditangkap dan ditahan di penjara khusus orang sakit jiwa di Mergangsan. Hanya satu hari satu malam ia disitu. Ia kemudian dipindahkan ke penjara Banceuy.  Setelah 8 bulan ia berada di tahanan, perkaranya dibawa ke pengadilan. Ia dituduh, “mengambil bagian dalam sebuah organisasi yang bertujuan menjalankan kejahatan di samping menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda yang telah ada.”

Di depan pengadilan Bung Karno membacakan pidato pembelaannya yang berjudul  Indonesia Menggugat.

“Pengadilan menuduh kami telah merencanakan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami akan melakukan kejahatan, Tuan-tuan hakim yang terhormat? Dengan pedang? Bedil? Bom? Senjata kami adalah rencana, rencana untuk mendapatkan persamaan dalam hal pajak, sehingga rakyat Marhaen yang mempunyai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani pajak yang sama dengan orang kulit putih yang mempunyai penghasilan minimum 9.000 rupiah.

Target kami adalah menghapuskan hak-hak luar biasa dari Gubernur Jenderal, yang tidak lain adalah teror yang dilegalkan. Satu-satunya dinamit yang pernah kami pasang adalah jeritan dari derita kami. Medan perjuangan kami tak lain dari gedung-gedung pertemuan publik dan surat-surat kabar umum.

….Kami tahu kemerdekaan memerlukan waktu. Kami tahu kemerdekaan tidak mungkin tercapai dalam satu tarikan napas. Meski demikian kami masih saja dituduh orang ‘menyusun satu komplotan untuk mengadakan revolusi yang berdarah dan terbuka, agar kami dapat merebut kemerdekaan penuh di tahun 1930’ Seandainya ini benar, penggeledehan massal yang Tuan-Tuan lakukan terhadap rumah-rumah kami akan menemukan satu persembunyian senjata-senjata gelap. Tetapi tidak sebilah pisau pun yang ditemukan.

….Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Tetapi suatu bangsa tidak mungkin eksis tanpa keyakinan. Keyakinan! Itulah senjata rahasia kami! …Suatu hari nanti, semua negeri Asia berada dalam bahaya penghancuran secara besar-besaran oleh Jepang. Saya hanya mengatakan, menurut keyakinan saya, jikalau ekor naga raksasa itu sudah mengibas-ngibas ke kiri dan kanan, maka Pemerintah Kolonial tidak akan mampu menahannya.

….Kami berjuang dengan kejujuran seorang satria. Kami tidak menginginkan pertumpahan darah. Kami hanya menghendaki satu kesempatan untuk membangun harga diri dari rakyat kami…” (Cindy Adams, 2014, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat).*(Bersambung)

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asingBelandafreeportPT. Freeport IndonesiaSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dinonaktifkan, Dosen Universitas Kristen di Wheaton College Beraksi Pakai Jilbab
Tulisan selanjutnya HIPMI Tax Center Dorong Kesetaraan Pajak dan Iklim Ekonomi Kondusif

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?