BUKA puasa, selalu identik dengan gorengan dan minuman dingin. Begitulah yang juga terjadi di masyarakat Pakistan di Islamabad, yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia. Yang agak berbeda mungkin kebiasaan saling memberikan jamuan ifthar ke tetangga serta kebiasaan menyelesaikan 1 Juz dalam tarawih setiap malamnya di setiap masjid walaupun bilangan rakaatnya ada yang 11 dan ada yang 23.
Suasana lain yang berbeda dengan di Indonesia juga adalah suasana i’tikaf di 10 hari terakhir yang bisa dirasakan keistimewaannya.
Di masjid-masjid yang digunakan untuk shalat Jumat di lingkungan masyarakat, orang-orang akan melakukan i’tikaf , khususnya di beberapa masjid besar seperti Masjid Jami’ Faisal. Banyak orang akan diantar dan dilepas keluarganya secara ramai datang ke masjid dan nanti di akhir Ramadhan akan dijemput kembali oleh keluarganya.
Ada pula tradisi Sabina yaitu tradisi mengkhatamkan al Quran dalam tiga kali tarawih di 3 malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam masa ini semua menyambut apa yang istilahlah dengan konsep ‘Jumat Mubarak’ di Jumat terakhir di bulan Ramadhan yang dirasakan istimewa dengan melakukan kunjungan ibadah ke masjid-masjid besar.
Seperti diketahui, suku-suku di Pakistan secara kental dibedakan dengan propinsi. Pakistan memiliki 4 propinsi yaitu Balochistan (Suku Balochi), Khyber Pakhtunkhwa (Suku Pakhtun), Punjab (Suku Punjabi), dan Sindh (Suku Sindh), tambahan lainnya adalah suku dari daerah Azad Kashmir dan Gilgit Baltistan. Dari semua suku ini perbedaan tradisi Ramadhan antar suku di Pakistan tidak terlalu terasa. Alias sama.
Kondisi keislaman masyarakat Pakistan secara umum lebih berasa dibandingkan dengan kondisi keislaman masyarakat di Indonesia.
Toko-toko yang ditutup selama waktu ifthar dan Maghrib. Jama’ah shalat fardhu cenderung ramai secara konsisten, bahkan ada toko-toko dan restoran yang tutup selama bulan Ramadhan.
Selama Ramadhan tidak hanya untuk meningkat kan ibadah dengan tilawah dan ibadah lainnya, pun dengan meningkatkan sedekah dan infaq ifthar untuk sesama.
“Bulan ini adalah bulan penuh cinta, suasana silaturrahim sangat terasa bahkan sejak sebelum Ramadhan. Kami sudah memulai silaturrahim dengan acara tarhib Ramadhan bersama sembari membahas keutamaan dan hikmah Ramadhan serta berdiskusi tentang penentuan awal Ramadhan. Kemudian undangan-undangn silaturrahim ifthar di rumah-rumah diplomat dan masyarakat Indonesia juga program ifthar rutin Jumat-Sabtu di KBRI Islamabad yang diawali dengan kultum singkat dan diwarnai dengan tilawah satu juz dan shalat tarawih berjamaah,” ujar seorang mahasiswa asal Indonesia di Pakistan.
Sebagai catatan, Pakistan sendiri, merupakan Negara Republik Islam, sehingga kita sebagai Muslim tidak memiliki kesulitan dalam adaptasi budaya sehari-hari dan juga dalam adaptasi makanan yang dalam prosesnya insya Allah sudah halal.
Pakistan memiliki empat musim yaitu musim semi (spring), musim panas (summer), musim gugur (fall) dan musim dingin (winter). Sesuai dengan karakter empat musim itu, maka pada musim dingin tentunya siang hari lebih pendek dari malam hari dan berpuasa pada winter tidak terlalu melelahkan. Sedangkan pada musim panas yang memiliki waktu siang hari lebih panjang dari pada malam hari, maka berpuasa pada musim ini selain menguras tenaga karena suhunya yang tinggi dan kelembaban yang tinggi juga karena harus berpuasa lebih dari 15 jam dalam sehari dan waktu istirahat malam yang sedikit.
Memang di Pakistan tidak sepanjang kaum Muslim yang berpuasa di musim panas di Prancis atau UK atau negara Eropa lainnya. Akan tetapi iklim subtropis Pakistan membuat kita harus berjuang dengan suhu yang lebih tinggi dari Negara-negara tersebut.
Ketika pertama kali penulis datang ke Pakistan, sempat merasakan berpuasa pada musim dingin yang tentunya semua terasa cukup ringan.
Tahun ini, saya harus berpuasa di salah satu bulan puncak musim panas yaitu bulan Juli. Sahur dimulai dengan memasak sejak jam 2 pagi kemudian makan sahur jam 3 pagi dan Azan Subuh berkumandang jam 3.30 pagi. Kemudian setelah berpuasa 16 jam, kami berbuka puasa jam 19.30 lalu shalat Isya jam 21.30 dilanjutkan dengan tarawih.
Makanan Khas
Karena saya tinggal bersama keluarga sehingga sahur seringkali merasakan makanan olahan Indonesia walaupun terkadang diselingi dengan menu khas Pakistan seperti: Paratha, Naan, Chapati dengan ditemani Daal Chana, Qeema atau Anda Tomato (Telur orak arik dengan tomat).
Begitupun dengan menu ifthar, biasanya ada 4 menu wajib. Kurma, teh hangat, gorengan dan minuman dingin. Gorengan bisa berupa bakwan, tahu isi, pisang goring, risoles, pastel atau makanan Pakistan seperti samosa, roll, pakora, dan jalabi (manisan dengan susu).
Sedangkan minuman dingin biasanya kami buat sendiri berupa cincau, es buah, atau cendol atau sekadar sirup khas Pakistan yaitu rooh-afza dan selasih atau qulfa falooda atau rasmalai. Sedangkan menu makan malam pun dengan menu Indonesia yang kadang dislingi dengan makanan Pakistan yang sudah disebutkan di atas. Terkadang lauknya ditambah dengan chicken haleem, kabab, ayam bakar khas Pakistan dan lain sebagainya.
Makanan Pakistan secara umum berasa pedas menggigit dari rempah-rempah. Tidak seperti kita yang pedasnya biasanya dari cabe merah. Di Pakistan lebih umum dengan cabe hijau dan itupun biasanya penggunaannya tidak terlalu banyak pada masakan.
Hampir semua masakan Pakistan memiliki cita rasa pedas menggigit dari rempah-rempah itu. Kumpulan rempah-rempah yang digunakan biasa disebut dengan garam masala (garam artinya panas atau pedas, masala artinya bumbu rempah) yang secara umum terdiri dari lada hitam, cengkeh, kapulaga, pala, kayu manis, jinten, ketumbar, jahe, adas.
Garam masala ini ada di rata-rata masakan Pakistan. Jadi, kita akan merasakan chicken karahi, chicken haleem, beef karahi, kabab, ayam bakar, qeema, samosa yang rasanya pedas karena rempah tersebut.
Sedikit pengenalan, mengenai gorengan di Pakistan, Samosa sebenarnya mirip dengan pastel yaitu olahan tumisan yang dimasukkan ke dalam olahan terigu atau kulit samosa. Samosa bisa diisi dengan daging cincang, sayuran, atau kentang halus yang ditumbuk dengan garam masala.
Sedang Chicken roll atau sabzi roll adalah ayam atau sayuran yang diolah dengan kulit lumpia. Ketiga, sedangkan pakora adalah kentang yang dibalut terigu ber-masala dan digoreng. Keempat, jalabi adalah manisan yang terbuat dari olahan terigu yang dibalut gula dan dimakan dengan susu.
Untuk minumannya yang terkenal di Pakistan adalah rooh-afza yaitu sirup manis dan wangi yang terbuat dari campuran daun-daunan (herbal), buah-buahan, sayuran, bunga dan akar-akaran.
Bahan herbal diambil dari daun teratai, daun ketumbar, kismis. Buah bisa berupa jeruk, sitrun, nanas, apel, berry, stroberi, raspberry, loganberry, ceri, anggur, blackcurrant atau semangka. Sayuran bisa berupa bayam, wortel, mint. Bunga berupa mawar, keora (pandan), lemon atau bunga jeruk. Sedangkan akar-akaran dengan vetiver.
Silaturrahmi Warga Indonesia
Kondisi komunitas masyarakat Indonesia tersebar utamanya di sebagian kota besar di Pakistan seperti Karachi, Lahore, Faisalabad, Rawalpindi dan Islamabad. Ini memudahkan komunikasi dalam satu komunitas masyarakat Indonesia yang berada di satu kota.
Pun begitu, karena saya di Islamabad, jumlah masyarakat tidak lebih dari 300 orang. Jadi, kalaupun ada kegiatan kumpul bersama yang melibatkan masyarakat Indonesia di Islamabad, biasanya kami sudah saling kenal satu dan lainnya.
Untuk lebaran biasanya kami tidak terlalu susah, karena kebanyak WNI saling bsesilaturrahmi dan berkumpul. Hari pertama diisi dengan open house KBRI dan rumah home staf KBRI. Sedangkan hari kedua adalah open house rumah Atase Pertahanan dan dilanjutkan dengan open house rumah home staff KBRI.
Hari ke tiga atau keempat biasanya diisi dengan konvoi motor mahasiswa ke rumah-rumah home staff dan staf lokal KBRI yang biasanya bisa memakan waktu dari pagi sekitar jam 10 sampai dengan jam 23.*/kiriman E. Hanafiah, Mahasiswa S3 Ilmu Hadits International Islamic University Islamabad, Pakistan