Hidayatullah.com — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bakal jadikan puncak menara Iqra Unismuh sebagai observatorium pertama di kawasan Indonesia Timur. Hal ini dilakukan sebagai langkah serius untuk kembangkan ilmu falak dan astronomi bagi mahasiswa dan dosen.
Rektor Unismuh Makassar, Ambo Asse seusai melakukan pantau bulan muda (ru’yatul hilal) mengatakan, Unismuh melaksanakan pemantauan bulan bukan berarti tidak meyakini ilmu hisab yang selama ini digunakan Muhammadiyah. Ia melanjutkan, Kehadiran observatorium Unismuh Makassar, kata Ambo Asse, untuk memperkuat perhitungan ilmu hisab dengan observasi ilmiah dan pengembangan astronomi bagi mahasiswa dan dosen.
”Jangan dipahami Muhammadiyah akan beralih dari hisab ke rukyah. Tingkat kebenaran hitungan itu sudah meyakinkan. Misalnya, dalam menentukan kapan gerhana matahari, gerhana bulan, sangat akurat waktunya. Hisab punya tingkat kebenaran yang tinggi,” ucap Ambo Asse dikutip laman Muhammadiyah.
Namun pada hari itu, pemantauan hilal belum berhasil melihat karena terhalang awan dan kabut. Namun, berdasarkan hisab Majelis Tarjih dan Tajdid, ketinggian bulan di Makassar pada pukul 18.00 WITA, sudah mencapai 3 derajat, 14 menit dan 44 detik.
Mawardi Pewangi, Wakil Rektor IV Unismuh Makassar mengatakan, observatorium ini ditarjetkan menjadi wahana wisata edukasi. Jika hal ini terwujud, Observatorium Unismuh Makassar bakal menjadi wahana wisata edukasi astronomi pertama di kawasan Indonesia Timur.
“Secara bertahap, kata Mawardi, terus melengkapi alat-alat yang dimiliki, seperti teleskop yang bisa mengamati planet di puncak menara kampus. Jadi nanti pelajar-pelajar yang mempelajari benda-benda langit, bisa datang kesini untuk melihat langsung hal-hal yang mereka pelajari secara teori di sekolah,” imbuhnya.
Ia berharap, Observatorium Unismuh Makassar akan melengkapi observatorium milik Muhammadiyah yang saat ini sudah ada seperti di Universitas Muhammadiyah Sumater Utara (UMSU), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. *