Hidayatullah.com– Sementara warga Israel diseru ikut berperang di Gaza, kegeraman atas komunitas Yahudi ultra-Ortodoks yang dikecualikan dari wajib militer semakin terdengar.
“Begini ini kalau Anda warga Israel kebanyakan. Seluruh masyarakat harus melakukan apa yang menjadi bagiannya,” kata Oren Shvill, menyinggung komunitas Yahudi ultra-Ortodoks perihal wajib militer. Dia satu dari ratusan warga Israel yang ikut aksi protes wajib militer belum lama ini di Yerusalem.
Insinyur berusia 52 tahun itu, yang tinggal di wilayah Palestina di Tepi Barat yang diduduki Zionis, termasuk di antara 340.000 anggota pasukan cadangan yang dipanggil untuk berperang di Gaza, lansir AFP Sabtu (2/3/2024).
Kemarahan publik ditujukan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu — yang sejak lama dianggap sebagai pelindung komunitas Yahudi ultra-Ortodoks – serta koalisi pemerintahannya yang terdiri dari dua partai besar ultra-Ortodoks, Shas dan United Torah Judaism.
Tahun lalu, pemerintahan PM Netanyahu memberikan hibah lebih dari $1 miliar untuk sekolah-sekolah agama Yahudi yang disebut yeshiva. Jumlah sebesar itu belum pernah diberikan sebelumnya.
Mengetahui hal itu, para pemuda Israel meneriakkan kata-kata seperti “gerombolan pemalas” dan “parasit” kepada orang-orang Yahudi ultra-Ortodoks yang mereka temui di jalan. Para pria Yahudi ultra-Ortodoks mudah diidentifikasi dengan ciri khas mereka seperti jenghotbpanjang, jaket tradisional dan topi bulu hitam.
Tidak diam saja, kaum Ortodoks itu membalas dengan tarian dan nyanyian berbunyi “lebih baik mati daripada jadi tentara!”.
Sejak pendirian negara Zionis Israel pada 1948, pria Yahudi yang belajar Torah purnawaktu di sekolah-sekolah agama setiap tahun diberi kebebasan dari wajib militer sampai usia mereka mencapai 26 tahun, yang pada akhirnya mereka akan dikecualikan atau tidak perlu lagi mengikuti wajib militer.
Namun, masalahnya komunitas Yahudi ultra-Ortodoks bertambah banyak karena mereka beranak-pinak seperti kelinci, dengan fertilitas rata-rata lebih dari enam anak per wanita. Bandingkan dengan fertilitas nasional rata-rata 2,5.
Tahun lalu saja, sebanyak 66.000 anggota komunitas Yahudi ultra-Ortodoks dikecualikan dari wajib militer.
Menyusul serangan tiba-tiba Hamas pada Oktober tahun lalu, IDF berjanji akan menambah jumlah personel.
IDF, yang mengaku kehilangan 242 prajurit di Gaza sejak pasukan Zionis melancarkan serangan darat pada 27 Oktober 2023, juga bermaksud memperpanjang durasi wajib militer dari 32 menjadi 36 bulan bagi kaum lelaki.
Pada hari Rabu (28/2/2024), Menteri Pertahanan Yoav Gallant membuat kehebohan dengan menyeru agar pengecualian panjang dari wajib militer yang dinikmati sebagian warga Israel diakhiri.
“Kita semua harus menanggung beban,” ujarnya.
Keesokan harinya, PM Netanyahu mengatakan dia akan berupaya membuat kesepakatan dengan ultra-Ortodoks untuk masuk ketentaraan atau menjadi aparatur sipil.
Namun, pada saat yang sama Netanyahu mewanti-wanti risikonya apabila dilakukan sekarang maka pemerintahan akan bubar, memicu digelarnya pemilu.
Komunitas tertutup Yahudi ultra-Ortodoks, yang anggotanya kebanyakan hanya berinteraksi dan menikah dengan sesama mereka, mengatakan nilai-nilai relijius dan tradisinya akan tercemar apabila mereka bergaul dengan masyarakat kebanyakan dan masuk dinas ketentaraan.
Tidak hanya itu, menjadi tentara artinya mereka akan bergaul dengan lawan jenis, yang kata pelajar yeshiva berusia 23 tahun bernama Shmuel “dilarang oleh Torah”.
Yehuda Chen, seorang Yahudi ultra-Ortodoks penduduk Yerusalem, mengatakan mereka akan menentang kewajiban masuk militer “dengan segala daya upaya”.
“Mengeluarkan anak lelaki dari yeshiva tidak mungkin dilakukan, itu sama saja seperti mengeluarkan ikan dari air. Dalam semenit dia akan mati,” kata Chen.
Menurut Tomer Persico, menurut peneliti bidang keagamaan di Shalom Hartman Institute di Yerusalem, komunitas Yahudi ultra-Ortodoks belakangan ini sudah semakin berbaur dengan masyarakat Israel pada umumnya.
Sekitar 20-30 persen dari mereka kurun 30 tahun terakhir bekerja di berbagai perusahaan atau menjadi aparatur sipil atau terlibat aktivitas sosial.
Setiap tahun, sekitar 1.000 Yahudi ultra-Ortodoks mendaftarkan diri menjadi tentara, meskipun risikonya merekanakan dikucilkan oleh komunitasnya.
Sejak serangan Hamas 7 Oktober, banyak juga Yahudi ultra-Ortodoks yang menjadi tentara.
Namun, menurut seorang pensiunan perwira tinggi tentara, IDF juga tidak terlalu terburu-buru memasukkan orang-orang Yahudi ultra-Ortodoks.
“Mereka bukan petempur yang baik. Dan kami, apalagi di tengah peperangan seperti sekarang ini, tidak memiliki waktu untuk melatih mereka. Perlu waktu berbulan-bulan untuk melatih orang yang tidak memiliki pendidikan selain agama,” katanya kepada AFP dengan syarat identitasnya tidak disebutkan.
Betzalel Cohen, seorang rabi Yahudi ultra-Ortodoks agak moderat di Yerusalem, mengatakan pasti ada ruang untuk kompromi antara komunitasnya dengan pemerintah tentang masalah ini.*