HARI itu saya meminta tolong seorang teman asal Indonesia yang tinggal di sebuah kota di pinggiran Prancis. Namanya Syarifah, telah menikah dengan warga negara Prancis.
“Assalamualaikum. Bonjour (Selamat pagi, red)!”
“Bisa minta tolong tidak?”
“Boleh saja, bang!” ujarnya.
Alkisah, ada anak teman SMA-ku dulu, yang sekarang sedang bersekolah SMA di Turki. Di akhir pekan minggu depan, dia dan teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki akan ikut perpartisipasi dalam acara pertandingan olah raga PPI se-Eropa. Kebetulan tahun ini diselenggarakan di Paris dan dikoordinasi oleh PPI Prancis.
Saya meminta Syarifah mengunjunginya di penginapannya. Kebetulan, ibunya meminta tolong agar memberi nasehat pada anaknya.
“Tapi saya bisa datangnya di hari Ahad saja. Hari Sabtu, saya harus ngantar anak saya Inaya ke pengajian di masjid dekat rumah,” ujar Syarifah berjanji.
Sesaat saya tertegun dengan ucapan Syarifah. Betapa tidak, ia menunda kegiatan lain dan mengutamakan mengantarkan anaknya ke pengajian. Dari rangkaian kalimat itu, saya jadi teringat dengan undangan acara upacara penutupan kelas belajar agama Islam dan Al-Qur’an di Pusat Kebudayaan Avicenne (Ibnu Sina) yang juga difungsikan sebagai masjid di kota tempat saya belajar, Rennes yang ada di bagian Barat Prancis.
Intinya, keberadaan minoritas Muslim yang berjumlah sekitar 5 juta orang (dari 55 juta orang penduduk Prancis), mengharusnya peran orang tua sangatlah besar dalam pendidikan agama Islam dalam komunitas masyarakat Muslim di Prancis.

Pusat Kebudayaan Islam Avicenne (Ibnu Sina)
Di suatu siang di akhir pekan, saya sudah duduk di ruangan utama Pusat Kebudayaan Islam Avicenne di Rennes, Prancis.
Dari undangan yang diumumkan pengurus pusat kebudayaan ini, hari itu adalah hari penutupan kelas pengajian dan belajar agama Islam. Pada saat itu, anak-anak mendominasi di dalam ruangan sholat utama. Di bagian belakang, ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengantarkan putra-putri mereka ke acara ini dan tentunya mau menyaksikan acara penutupan ini.
Rennes merupakan ibukota dari region Bretagne (region = setingkat propinsi di Indonesia, red) dan departement Ille et Vilaine (departement = setingkat kabupaten di Indonesia, red).
Pusat Kebudayaan Islam Avicenne (Centre Culturel Avicenne), mulai dipakai sejak September 2006. Pusat Kebudayaan Islam Avicenne ini dilengkapi ruangan-ruangan seperti ruangan administrasi pengurus mesjid, perpustakaan dan beberapa rungan multi fungsi yang bisa dipakai untuk kelas belajar dan keperluan lainnya.
Kamar mandi, WC dan tempat berwudhu juga ada di tempat ini.
Di pusat Kebudayaan ini, semua orang bisa datang untuk belajar tentang Islam. Di tempat ini juga ada ruangan shalat berukuran lebih kurang 220 m2 yang biasanya dipakai untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat atau berfungsi sebagai mesjid.
Ada beberapa ruangan di pusat kebudayaan ini yang dipergunakan sebagai kelas. Selain itu beberapa pameran yang bertema tentang Islam di selenggarakan di pusat kebudayaan ini. Peringatan hari besar Islam, ceramah agama maupun dialog antar agama juga diselenggarakan di pusat kebudayaan ini. Untuk acara penutupan kelas pengajian dan belajar bahasa Arab digunakan ruang utama.
Pengajian, Qur’an dan bahasa Arab
Jam 13.50, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al. Qur’an oleh panitia Pusat Kebudayaan Avicenne. Selanjutnya dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan tempat pengajian. Dan juga diungkapkan program-program yang setahun yang mereka lakukan.

Siswa-siswa dari beberapa kelompok tingkatan umur mulai mempertunjukkan membaca Al. Qur’an sebagai hasil belajar mereka selama setahun kemarin. Setelah pembacaan Al. Qur’an, guru-guru meminta orang tua siswa dan suluruh orang yang hadir untuk mengucapkan Hamdallah sebagai apresiasi terhadap pembacaan Al. Qur’an tersebut. Tidak ada tepuk tangan untuk memuji pertunjukan hasil kerja siswa-siswa.
Acara pembacaan Al. Qur’an diselingi dengan kuis-kuis yang pertanyaannya seputar Islam. Beberapa hadiah menarik disediakan kepada siswa-siswa yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panitia. Suasana kuis tentunya membuat suasana berubah menjadi heboh.
Menjelang shalat Ashar pengajian ditutup. Banyak siswa yang dibimbing oleh orang tuanya ke tempat berwudhu’.
Orang tua membimbing anak-anak mereka cara berwudhu’. Mulai dari memberi keterangan bagaimana cara berwudhu’ yang benar. Lalu dilanjutkan bagaimana membasuh bagian-bagian dari tubuh yang wajib dibasuh dengan air pada waktu berwudhu’. Dan tentunya beberapa kali yang sunnahkan oleh ketentuan agama Islam.
Pelajaran seperti ini terlihat mudah. Tetapi kalau tidak diajarkan di kelas agama dan tidak diulangi oleh orang tua, mustahil anak akan bisa dengan benar dan sempurna. Terlihat orang tua juga sangat berperan dalam memberi pelajaran terhadap aktifitas-aktifitas keagamaan.
Setelah berwudhu’ tentunya siswa-siswa dan orang tua mereka ikut shalat Ashar berjamaah yang dimulai jam 15.10. Praktek pelajaran praktis yang mau tak mau dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya, bukan hanya sekedar perintah atau nasehat dengan kalimat-kalimat.
Pembacaaan teks berbahasa Arab adalah kelanjutan acara. Sesi ini sangat menarik. Para siswa-siswa di tingkatan lanjut atau sudah besar membaca dialog dari sebuah buku dalam tulisan Arab dan bahasa Arab.
Sangat membanggakan tentunya bagi orang tua yang anaknya sudah bisa membaca dan berdialog dalam bahasa Arab atau bahasa Al. Qur’an. Dan sesi ini juga ditutup dengan Nasyid.
Pada setiap akhir sesi acara, pembawa acara selalu meminta hadirin untuk mengucapkan Hamdallah (Alhamdulillahhi rabbil alamin) untuk mensyukuri apa-apa yang telah dilakukan dan dicapai oleh siswa serta termasuk megungkapkan kekaguman pada hasil kerja siswa-siswa. Jadi tidak ada tepuk tangan. Dan anak-anak tentu senang dengan kehadiran orang tua mereka yang melihat hasil kegiatan belajar mereka selama setahun ini.
Acara penutupan belajar agama ini benar-benar ditutup dengan doa. Imam mesjid Avicenne memimpin doa dan diamini seluruh jamaah.
Setelah pembacaan doa, ada acara yang ditunggu-tunggu yaitu pembagian hadiah. Yang pertama diberi adalah siswa yang berprestasi. Setelah itu hampir pasti semua siswa mendapat hadiah. Sebagian besar hadiah adalah benda-benda yang berhubungan dengan pendidikan Islam seperti Al. Qur’an maupun cerita bergambar tentang Islam. Beberapa anak memperlihatkan hadiah kepada orang tua sekaligus memperlihatkan jadwal pelajaran yang mungkin akan diberikan di tahun mendatang.
Proses yang rumit tetapi harus dilalui
Di awal tahun ajaran pendidikan atau sekitar bulan Agustus dan September setiap tahunnya, pengurus Pusat Kebudayaan Islam Avicenne mengumumkan kepada jamaah dalam berbagai kesempatan tentang akan dibukanya kelas Pendidikan Agama Islam, Belajar Al. Qur’an dan Bahasa Arab untuk anak-anak.
Kelas akan dilaksanakan pada akhir pekan (Sabtu – Minggu) dan dibimbing oleh pengurus lesjid atau orang-orang yang punya ijazah dalam bidang pendidikan agama Islam. Pengurus mengharapkan orang tua mendaftarkan dan mengantarkan anak-anak mereka untuk ikut dalam kelas belajar agama Islam ini.
Walau mungkin kelihatannya mudah, tetapi di negara Prancis yang menerapkan sistim sekulerisme (memisahkan antara peraturan agama dengan peraturan negara) hal ini sangatlah berat. Ditambah lagi dengan lingkungan baik di sekitar rumah maupun sekolah yang cenderung menjauhkan anak-anak dari agama Islam. Ditambah lagi acara-acara televisi dan media-media informasi lainnya yang cenderung mengarah ke arah sekuler.
Meski demikian, mengajak anak ke pusat kebudayaan Islam atau mesjid untuk mempelajari Islam bukanlah hal mudah. Dan karena kegiatan dilakukan di akhir pekan atau hari yang seharusnya anak-anak libur dari sekolahnya, diperlukan trik khusus untuk untuk mengajak anak ke kelas pelajaran agama Islam.
Dan sepanjang tahun dimana emosi anak-anak cenderung naik-turun atau orang tua punya kegiatan lainnya, mengantar anak ke tempat pendidikan dipastikan tidak lepas dari problema pengaturan waktu antar kedua orang tua maupun antar orang tua dengan anak. Walaupun demikian saya rasa mereka bisa mengaturnya. Hal ini dibuktikan dengan tetap adanya kelas pendidikan agama Islam di beberapa mesjid atau tempat pusat kebudayaan Islam.
Peranan orang tua
Dari beberapa kejadian di atas, terlihat begitu dominannya peran orang tua dalam pendidikan agama Islam kepada anak di komunitas Muslim di Prancis. Memang benar bahan pelajaran agama Islam didapat dari kelas agama Islam di pusat kebudayaan Islam atau mesjid di Prancis. Tetapi tidak bisa dilepaskan peranan orang tua yang sangat besar. Kelas agama atau pengajian hanya berlangsung 3 atau 8 jam dalam seminggu. Setelah itu, anak-anak banyak menghabiskan waktunya dengan orang tua.
Salah satu yang menjadi kunci adalah pengulangan di dalam keluarga pada pelajaran agama Islam yang didapat dari kelas agama. Salah satu contohnya adalah berwudhu’. Kalau tidak terjadi pengulangan di rumah, bisa-bisa si anak tidah bisa berwudhu dengan benar karena pelajaran dari kelas agama mungkin hanya sepintas saja.
Peran lain yang cukup vital dari orang tua dalam pendidikan anak di komunitas Muaslim Prancis adalah pemberi semangat. Dengan lingkungan yang tidak mendukung atau bertentangan dengan pelajaran agama yang didapat seperti pergaulan yang terlalu bebas di kalangan anak-anak dan remaja, semangat belajar agama yang diberikan orang tua akan terus membuat anak istiqamah atau konsisten untuk terus belajar agama. Ketika hari libur dimana anak biasanya tidak bersekolah tetapi waktunya dipotong beberapa jam untuk belajar agama Islam. Kalau orang tua tidak punya semangat mengantarkan anak-anak mereka ke kelas agama atau mesjid, tentu ini akan menurunkan semangat anak untuk belajar. Ditambah lagi dengan kehidupan sehari-hari dimana orang tua tidak memberi contoh ketaatan kepada agama Islam yang dianut, ini akan memathkan semangat belajar agama Islam.
Khusus untuk kehadiran orang tua dalam acara penutupan kegiatan balajar agama Islam dan Al-Qur’an, akan membuat anak terus bersemangat belajar agama Islam. Karena bagaimanapun pertunjukan-pertunjukan merupakan variasi kegiatan dalam belajar agama Islam dan Al. Qur’an agar anak tidak bosan dalam menuntut ilmu agama. Apalagi hal itu mendapat apresiasi dari orang tua mereka, tentu akan membuat anak semakin bersemangat.
Dapat disimpulkan bahwa orang tua pada komunitas Muslim di Prancis mempunya peranan yang sangat besar dalam pendidikan anak-anak mereka. Tanpa peranan orang tua, sangat mustahil nilai-nilai keagamaan anak-anak mereka bisa tertanam dalam diri mereka untuk bekal masa depan mereka.*/kiriman Luth, peneliti bidang ekologi (lingkungan hidup), tinggal di Prancis. Email: [email protected]