Hidayatullah.com–Televisi Al-Jazeera Selasa (10/11), menayangkan gambar ekslusif yang memperlihatkan tentara Taliban menguasai senjata beserta amunisinya yang ditinggalkan tentara AS di sebuah pos pertahanan mereka di sebelah Timur Afghanistan.
Amunisi itu ditemukan di distrik Kamdesh Propinsi Nuristan, tepat di lokasi pertempuran sengit 3 Oktober lalu antara pasukan Taliban dengan tentara pendudukan yang dipimpin NATO terjadi. Ketika itu dilaporkan 8 tentara pihak AS dan sekutunya tewas.
Tanggal 9 Oktober pihak sekutu mengatakan kepada media, bahwa pasukan mereka beserta perlengkapannya telah ditarik dan dipindahkan dari pos-pos mereka di distrik Kamdesh, utara Propinsi Nuristan dan pos lain yang berada di wilayah timur Aghanistan.
Namun, faktanya para pejuang Taliban menunjukkan bahwa mereka telah menguasai senjata dan amunisi yang ditinggalkan tentara AS di salah satu pos tersebut.
Letkol Tod Viacian, seorang jurubicara pasukan NATO mengatakan, amunisi yang ditunjukkan dalam rekaman tersebut “kelihatannya perlengkapan milik AS.” Ia mengatakan tidak jelas bagaimana Taliban bisa menguasai amunisi tersebut.
“Masih bisa diperselisihkan apakah mereka benar-benar mendapatkannya dari lokasi tersebut,” kata Vician.
Namun, Jendral Mohammad Qassim Jangulbagh, Kepala Polisi Propinsi Nuristan mengatakan, “Pasukan Amerika meninggalkan amunisi di pos pertahanan mereka itu.”
AS menghancurkan sebagian besar amunisinya, namun sebagian ada yang jatuh ke tangan Taliban, kata Jangulbagh.
Farooq Khan, seorang jurubicara kepolisian Afghanistan di Propinsi Nuristan juga mengatakan bahwa pasukan AS meninggalkan persenjataan dan amunisi mereka di daerah itu, yang sekarang berada di tangan Taliban.
Namun, Jendral Shir Mohammad Karimi, kepala operasi dari kementerian pertahanan Afghanistan agak skeptis. “Sejauh yang saya tahu, tidak ada satupun yang tertinggal,” kata Karimi.
Tanggal 3 Oktober terjadi pertempuran sengit antara pasukan ISAF (tentara gabungan AS dan sekutunya yang dipimpin NATO) dengan 300 orang pasukan Taliban yang menyerang 2 pos pertahanan mereka di distrik Kamdesh Propinsi Nuristan.
Dalam pertempuran itu NATO mengakui kekalahan mereka. Delapan prajurit mereka tewas, sementara mereka juga mengklaim berhasil menembak mati 100 pejuang Taliban.
Setelah kalah, rupanya mereka sadar wilayah itu sulit ditaklukkan. Pasukan AS dan sekutunya langsung angkat kaki dari pos-pos pertempuran mereka di 2 lokasi di Kamdesh dan empat pos lain di wilayah timur Afghanistan.
Tanggal 9 Oktober pejabat International Security Assistance Forces (ISAF) mengeluarkan pernyataan yang berbunyi, “Sejalan dengan petunjuk Jendral Stanley McChrystal dalam melawan pemberontak, untuk melakukan strategi yang berpusat pada populasi, maka komandan ISAF memutuskan bulan lalu untuk memindahkan posisi pasukan dari daerah-daerah yang jauh dengan populasi penduduk yang sedikit ke daerah yang berpopulasi banyak di wilayah tersebut.”
Dari pernyataan tersebut terlihat rasa ketakutan tentara AS dan sekutunya. Mereka tidak berani berperang di wilayah terpencil. Jika alasan keberadaan pasukan AS dan NATO di Afghanistan untuk menghajar Taliban, mengapa justru mereka menjauhi wilayah pertempuran Taliban yang banyak bersembunyi di daerah terpencil. Sebaliknya mereka malah membuat pos pertahanan di wilayah yang banyak penduduknya. Dengan memindahkan pos pasukan mereka ke wilayah yang banyak penduduknya, berarti mereka menjadikan penduduk sipil sebagai tameng.
“Untuk melindungi rakyat sipil di daerah yang berpenduduk banyak,” demikian kata ISAF beralasan dalam pernyataannya bulan lalu.[di/aj/rtr/hidayatullah.com]