Hidayatullah.com–Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang kini sedang menjalani perawatan di Arab
Saudi akibat serangan di kompleks ke presidenan awal Juni lalu, telah memerintahkan para pembantunya untuk melakukan pembicaraan dengan kelompok oposisi mengenai peralihan kekuasaan.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Yaman Abu Bakr Al Qirbi di Saudi usai menjenguk Salehi, Rabu (29/6).
Mendengar pengumuman tersebut, pihak oposisi hanya menanggapinya dingin. Mereka tidak tertarik dengan pembicaraan peralihan kekuasaan, kecuali dilakukan secepatnya.
“Yaman tidak lagi dapat menerima manuver atau pernyataan yang hanya membuang-buang waktu,” kata jurubicara oposisi Muhammad Qahtan.
“Kondisi ekonomi dan keamanan sangat serius dan apa yang harus pertama kali dilakukan adalah mengambil keputusan cepat untuk mengalihkan kekuasaan, setelah itu dialog baru bisa dilakukan,” imbuhnya.
Dewan Kerjasama Teluk yang terdiri dari enam negara tetangga Yaman berulang kali mengajukan rencana penyelesaian konflik di negara itu. Sebagai balasan untuk Saleh atas kesediaannya mengundurkan diri, presiden dan keluarganya dijanjikan imunitas dari tuntutan hukum. Presiden Saleh menyatakan bersedia. Namun, pada detik-detik terakhir kesepakatan akan diberlakukan, Saleh selalu menggagalkannya.
Presiden Saleh, yang memberi tugas kepresiden kepada wakilnya untuk sementara, dikabarkan akan menyampaikan pidato untuk rakyatnya pad hari Kamis ini. Namun, menteri kesehatan yang juga ikut mengunjungi Saleh di Saudi hanya mengatakan bahwa presiden akan muncul di media “segera,” tanpa menyebutkan tanggal pastinya.
Sementera itu hari Rabu kemarin ribuan orang berdemonstrasi di ibukota Sana’a dan enam kota besar lainnya untuk menuntut Saleh segera mundur dari jabatannya.*