Hidayatullah.com—Dengan dana miliaran dollar, para penanam modal dan pengembang individu dari China memperluas jangkauan ke Dubai. Bahkan tak jauh dari Burj Khalifa, perumahan dan bisnis ritel tumbuh di lingkungan yang lebih mirip Beijing ketimbang Dubai.
Toko dan rumah makan bertanda aksara China, pusat perbelanjaan Dragon Mart berhiaskan patung naga raksasa kin sedang membanjiri Dubai.
Sekitar seribu investor individu China membelanjakan 1,3 miliar dirham Uni Emirat Arab, atau hampir Rp4 triliun pada lahan, tempat tinggal, dan perkantoran di Dubai tahun lalu, demikian data dari Departemen Pertanahan Dubai. Jumlah itu berlipat tiga kali lebih besar dari tahun sebelumnya oleh 288 investor China yang mencapai 486 juta dirham.
Secara keseluruhan, transaksi properti yang dilakukan oleh para individu di Uni Emirat Arab melonjak 53% pada 2013 menjadi 236 juta dirham dengan 114 juta dirham investasi asing pada tanah dan properti. Demikian dikutip the Wall Street Journal Indonesia.
“Dubai semakin dikenal oleh [para investor] China,” ujar Wang Liao, 30 tahun, pemilik Atomic Properties, makelar real estate yang kebanyakan kliennya berasal dari China.
Para investor dan pengembang China belum terlalu aktif sebelum 2009 saat Dubai dihantam krisis real estate. Namun, para pemodal China itu kini memainkan peran besar, demikian keterangan para makelar, pengembang, dan analis.
Harga tempat tinggal naik sekitar 35% tahun lalu. Tapi, angka itu masih 20% lebih rendah dari puncak harga sebelumnya. Pasar properti komersil utama membidik usaha menengah hingga besar dengan harga yang diramalkan naik 10% pada 2014 setelah mengalami peningkatan 5%-7% tahun lalu, demikian Knight Frank, konsultan properti London.*