Hidayatullah.com—Kerusuhan dan bentrokan terus terjadi di ibukota Libanon, Beirut, setelah kabinet gagal mencapai kesepakatan soal bagaimana cara menangani krisis sampah di negara itu, lapor Euronews Rabu (26/8/2015).
Berawal dari kemarahan soal pengangkutan sampah, masalah itu meningkat menjadi protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak becus memberikan pelayanan mendasar kepada masyarakat. Para pengunjuk rasa menuding korupsi di dalam tubuh pemerintahan sebagai biang keroknya.
Pada bentrokan akhir pekan kemarin lebih dari 40 pengunjuk rasa terluka bersama 30 petugas kepolisian. Warga melontarkan bebatuan ke arah petugas dan polisi membalasnya dengan semprotan gas airmata serta semprotan air.
Hari Selasa kemarin 6 menteri kabinet angkat kaki dari ruang rapat, setelah kontrak manajemen penanggulangan sampah yang baru ditolak karena dianggap terlalu mahal.
Keenam menteri itu merupakan sekutu dari kelompok Syiah Hizbullah, yang mendukung demonstrasi brutal yang dilakukan warga.
Sejak mulai bekerja tahun lalu, pemerintah persatuan nasional yang dipimpin Perdana Menteri Tammam Salam diganggu oleh persaingan di kalangan para politisi.
Sampah menumpuk di ibukota Beirut dan sekitarnya sejak tempat pembuangan sampah terbesar di Libanon ditutup bulan lalu, tetapi belum ada alternatif penggantinya.*