Hidayatullah.com—China menggunakan profil-profil LinkedIn palsu untuk mengumpulkan informasi tentang pejabat-pejabat dan para politisi Jerman, kata dinas intelijen BfV.
Badan telik sandi dalam negeri Jerman itu mengatakan China menggunakan situs jejaring itu untuk menarget sedikitnya 10.000 orang Jerman, kemungkinan merekrut mereka sebagai informan. Untuk kepentingan tersebut China diduga membuat profil-profil palsu.
“Itu merupakan usaha meluas guna menginfiltrasi khususnya parlemen, kementerian dan lembaga-lembaga pemerintahan,” kata Kepala BfV Hans-Georg Maasen, seperti dikutip BBC Ahad (10/12/2017).
Di masa lalu China membantah tuduhan spionase siber serupa. Namun, pemerintah Beijing belum menanggapi tuduhan Jerman di atas.
BfV merilis delapan profil LinkedIn yang paling aktif digunakan untuk mengontak pemilik-pemilik akun Jerman. Di antara akun tersebut bernama “Allen Liu” yang tertulis dalam profil sebagai manajer sumber daya manusia di sebuah perusahaan konsultan ekonomi. Sebuah akun lain bernama “Lili Wu” menulis dalam profilnya bekerja di sebuah wadah pemikir di China bagian timur. BfV meyakini kedua akun tersebut palsu.
Badan intelijen domestik Jerman itu semakin mengkhawatirkan China menggunakan metode tersebut guna merekrut politisi-politisi papan atas sebagai informan. Mereka meminta orang-orang yang pernah dihubungi kedelapan akun itu agar melapor.
Tahun lalu, BfV mengatakan terjadi peningkatan “spionase siber agresif” termasuk “upaya intensif” untuk mengacaukan pemilu parlemen bulan September.
Kelompok hacker bernama Fancy Bear atau APT28 terpantau sangat aktif. Mereka diduga dibayar oleh negara Rusia.*