Hidayatullah.com—Panel PBB mengatakan, sebuah perusahaan Uni Emirat Arab (UEA) membeli enam helikopter dan dua kapal untuk menyerang kapal-kapal di Libya sebagai dukungan terhadap komandan pemberontak Libya, Khalifa Haftar. Panel PBB mengatakan, Fulcrum Holding yang berbasis di Dubai mendirikan perusahaan di Yordania guna membeli helikopter dan kapal mendukung Panglima Haftar. Helikopter itu diangkut ke Yordania kemudian ke Libya.
Menurut surat-surat rahasia panel pakar, Komite Sanksi Libya Dewan Keamanan PBB, penjualan peralatan militer senilai paling tidak 18 juta AS Dolar.
Sumber anonim yang mengetahui surat-surat itu mengatakan komite mendapat informasi pada pertengahan Januari bahwa UEA berusaha mendanai tentara bayaran khusus untuk mendukung Haftar, pemimpin angkatan bersenjata ilegal Libya timur, di Benghazi.
Fulcrum Holding mendirikan perusahaan yang diduga melakukan “penelitian geografis” dan menggunakannya untuk membeli tiga helikopter Puma dari Afrika Selatan, kutip Anadolu Agency.
Sumber itu mengatakan tidak jelas apakah perusahaan Starlite Aviation Afrika Selatan menjual helikopter atau memediasi proses transportasi. Perusahaan yang berbasis di UEA itu juga membeli tiga helikopter serang SA 341 buatan Prancis dari Gabon dan dua kapal MRC1250 yang mempunyai kapasitas 20 orang, melalui Sovereign Charterers di Malta.
Peralatan militer itu untuk digunakan oleh para tentara bayaran. Dikutip Bloomberg pada hari Jumat (15/5/2020), bahwa dua perusahaan yang berbasis di Dubai mengirim 20 orang tentara bayaran ke Libya untuk membantu pasukan Haftar merebut Tripoli.
Sumber itu mengatakan bahwa surat tersebut mengungkapkan sekitar 20-25 tentara bayaran pergi ke Benghazi untuk menerima helikopter dan kapal. Pembelian enam helikopter dan dua kapal sebenarnya dilakukan untuk melakukan serangan terhadap kapal-kapal di Libya, menarik mereka ke pantai dan mendapatkan peralatan militer.
Logo perusahaan yang berbasis di Yordania itu dicetak di helikopter dan kapal untuk memberi kesan mereka melakukan “penelitian geografis” serta menghindari pantauan satelit. Anadolu Agency menghubungi Misi Permanen UEA di PBB tetapi belum menerima tanggapan.
Menyusul penggulingan mendiang penguasa Muammar Khadhafi pada 2011, pemerintah Libya didirikan pada 2015 di bawah kesepakatan politik yang dipimpin PBB. Sejak April 2019, pemerintah diserang oleh pasukan panglima perang Khalifa Haftar, yang berbasis di Libya timur, dan lebih dari 1.000 orang tewas dalam kekerasan itu. Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo senjata terhadap Libya pada 2011.*