Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tentara Myanmar Mengakui ‘Pola yang Lebih Luas’ dari Pelanggaran Terhadap Muslim Rohingya

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 17 September 2020 09:54 9:54 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 17 September 2020 09:51
Bagikan
Tentara Myanmar di Rakhine
Bagikan

Hidayatullah.com—Militer Myanmar mengatakan sedang menyelidiki “kemungkinan pola pelanggaran yang lebih luas” sebelum dan selama penumpasan tahun 2017 di negara bagian Rakhine. Penumpasan yang menurut PBB dilakukan dengan maksud genosida terhadap Muslim Rohingya.

Lebih dari 730.000 Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh tahun itu setelah peluncuran “kampanye keamanan” besar-besaran. Para pengungsi mengungkap pembunuhan massal, pemerkosaan berkelompok, dan pembakaran terjadi selama kampanye itu.

Tentara telah membantah melakukan genosida, mengatakan mereka melakukan operasi yang sah terhadap pemberontak Rohingya. Tetapi tentara mengakui pihaknya telah mengadili beberapa pasukan atas insiden di desa-desa tertentu, meskipun rincian tentang pelakunya, kejahatan mereka, dan hukumannya tak pernah dirilis.

Militer, dalam sebuah pernyataan yang dimuat di media pemerintah pada hari Selasa (15/09/2020), untuk pertama kalinya mengakui kemungkinan pola pelanggaran yang lebih luas.

Dikatakan Kantor Jaksa Agung yang dikelola militer telah meninjau laporan oleh komisi yang didukung pemerintah yang menuduh tentara melakukan kejahatan perang dan telah memperluas cakupan penyelidikan sebagai tanggapan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kantor tersebut “menyelidiki kemungkinan pola pelanggaran yang lebih luas di wilayah utara Rakhine pada 2016-2017”, kata militer dalam pernyataan itu, Al Jazeera melaporkan.

“Tuduhan mengenai desa-desa di wilayah Maungdaw termasuk dalam ruang lingkup penyelidikan yang lebih luas ini,” kata militer, merujuk pada distrik di perbatasan dengan Bangladesh yang menjadi fokus “operasi keamanannya” pada 2017.

Tidak ada rincian lebih lanjut dan seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan telepon oleh Reuters untuk dimintai komentar lebih lanjut.

Pengumuman itu menyusul laporan pekan lalu bahwa dua tentara Myanmar telah dibawa ke Den Haag untuk dihadirkan sebagai saksi atau diadili. Keduany mengaku tentara Myanmar telah membunuh puluhan penduduk desa di utara negara bagian Rakhine dan menguburkan mereka di kuburan massal.

Pada hari Senin (14/09/2020), Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet menuntut tindakan untuk memperbaiki pelanggaran hak serius yang diderita oleh minoritas Rohingya.

Desa Rohingya Dihapus dari Peta

Itu terjadi kurang dari seminggu setelah PBB mengatakan bahwa Myanmar menghapus nama desa Rohingya Kan Kya dari peta resmi. Militer telah membakar desa Rohingya hingga rata dengan tanah dan membuldoser sisa-sisanya tiga tahun lalu setelah kampanye brutal terhadap minoritas Muslim.

Sekitar tiga mil (lima km) dari Sungai Naf yang menandai perbatasan antara negara bagian Rakhine Myanmar dan Bangladesh, Kan Kya adalah rumah bagi ratusan orang sebelum tentara mengusir ratusan ribu Rohingya keluar dari negara itu dalam apa yang digambarkan PBB sebagai “contoh buku teks pembersihan etnis”.

Tempat Kan Kya pernah berdiri, sekarang ada lusinan bangunan pemerintah dan militer termasuk pangkalan polisi yang luas dan berpagar, menurut gambar satelit yang tersedia untuk umum di Google Earth dan gambar sejarah yang diberikan kepada Reuters oleh Planet Labs. Desa, di daerah terpencil di barat laut negara yang tertutup bagi orang asing, terlalu kecil untuk dinamai di Google Maps.

Pada peta yang diproduksi pada tahun 2020 oleh unit pemetaan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Myanmar, yang dikatakan didasarkan pada peta pemerintah Myanmar, situs desa yang hancur sekarang tidak bernama dan diklasifikasikan kembali sebagai bagian dari kota terdekat Maungdaw. Unit tersebut membuat peta untuk penggunaan oleh badan-badan PBB, seperti badan pengungsi UNHCR, dan kelompok kemanusiaan yang bekerja sama dengan PBB di lapangan.

Kan Kya adalah satu dari hampir 400 desa yang dihancurkan oleh militer Myanmar pada 2017, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Human Rights Watch yang berbasis di New York. Dan itu adalah salah satu dari setidaknya selusin desa yang namanya telah dihapus.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:myanmarRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wapres: Almarhum Saefullah Sosok yang Shaleh dan Pekerja Keras
Tulisan selanjutnya Kisah Kaum Merah Pemecah Belah: Belah Bambu Tempo Doeloe

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?