Selasa, 6 September 2005
Hidayatullah.com–Kapolri tempat-tempat ibadah oleh kelompok massa di Jawa Barat, sebagaimana isu yang dihembuskan. Jenderal Pol Sutanto menegaskan, tidak ada perusakan dan pembakaran gereja sebagaimana diisukan orang. Pernyataan ini disampaikan Kapolri saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR-RI, Senin, (5/9) kemarin.
Kapolri justru menjelaskan, yang benar adalah penutupan rumah toko (ruko) atau tempat tinggal yang disalahgunakan menjadi gereja.
"Berdasarkan laporan Polda Jabar tanggal 24 Agustus 2005, yang ditutup pada umumnya bukan gereja tapi tempat tinggal, ruko atau gedung pertemuan yang dijadikan tempat ibadah," kata Kapolri saat Raker dengan Komisi III di Gedung DPR Jakarta, Senin.
Dikatakannya bahwa penutupan "tempat ibadah" tersebut terjadi di 17 lokasi di Bandung, Karawang, Cimahi dan Purwakarta.
Lebih lanjut Kapolri menyatakan bahwa dalam peristiwa tersebut tidak terjadi tindakan perusakan dan pembakaran sebagaimana yang ramai diisukan.
Dalam Raker yang dipandu Wakil Ketua Komisi III Akil Mochtar itu, Kapolri melaporkan bahwa peristiwa terakhir di bulan Agustus adalah penutupan rumah yang digunakan sebagai tempat ibadah di Perumahan Permata Cimahi tanggal 1 Agustus dan di Perumahan Margahayu Bandung pada tanggal 14 Agustus serta penutupan gedung pertemuan di Kecamatan Larangan, Tangerang.
Sebelumnya pada tanggal 23 Agustus 2005, Ketua Umum PGI Andreas A Yewangi telah melaporkan kepada Presiden Yudhoyono tentang adanya penutupan terhadap 23 gereja di Jawa Barat, diantaranya di Bandung, Garut dan Purwakarta, sejak September 2004 hingga Agustus 2005.
Kapolri menegaskan bahwa sumber dari semua masalah itu adalah karena tidak adanya ijin dari masyarakat sekitar terhadap rumah-rumah yang dijadikan tempat ibadah, sehingga dianggap tidak memenuhi SKB Mendagri dan Menag.
Sementara itu anggota Komisi III dari Fraksi PAN Patrialis Akbar mengatakan bahwa dengan adanya penjelasan Kapolri tersebut maka permasalahan menjadi jelas.
"Sekarang semua menjadi clear dan tidak ada masalah lagi sehingga jika ada pihak-pihak yang terus melempar isu-isu miring patut diwaspadai karena mereka jelas ingin mengadu domba antara umat Islam dan Kristen," katanya.
Sebelumnya, beberapa tokoh menyebut kelompok umat Islam diisukan sebagai kelompok yang memaksa menutup gereja dan tempat ibadah. Kalangan Kristen kemudian memperluakasus ini dengan meminta pencabutan SKB tiga menteri.
Salah satu pengurus FPI, Ahmad Sobri Lubis yang sempat dikonfirmamsi hidayatullah.com sempat menjelaskan, bahwa yang benar adalah masyarakat Islam Jawa Barat keberatan atas hadirnya gereja-gereja liar di kawasan itu dengan cara menjadikan rumah tinggal atau ruko menjadi gereja. (ant/gtr/hid/cha)