Hidayatullah.com–Dalam era globalisasi dan hegemoni peradaban Barat saat ini, seyogyanya para ulama dan cendikiawan Muslim juga memahami paham-paham yang berasal dari Barat yang menggerogoti aqidah umat. Paham dan pemikiran seperti pluralisme agama, sekularisme, liberalisme dan hermeneutika kini telah diajarkan dan disebarluaskan dan diajarkan lewat lembaga-lembaga pendidikan berlabel Islam.
Sementara di satu sisi, begitu banyak kalangan cendikiawan Muslim atau para ulama yang tidak dapat melakukan respon yang tepat,atau melakukan counter paham sesat tersebut disebabkan karena tidak paham dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Pernyataan ini disampaikan Dr.Adian Husaini, MA dalam seminar “Ulama, Pendidikan dan Tantangan Zaman”,yang diprakarsai Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jabar di Bandung.
Adian menambahkan, tantangan umat ke depan semakin berat di tengah terpaan arus pemikiran Barat yang kian gencar. Sementara di dalam diri umat Islam sendiri juga terjadi problem, salah satunya adalah regenerasi ulama yang lambat atau bahkan terhenti.
“Boleh dikata saat ini kita sedang mengalami krisis ulama, banyak ulama besar meninggal dunia namun yang sekaliber dengannya belum ada lagi,” ujar Ketua Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor tersebut.
Menurutnya lambatnya regenerasi ulama salah satunya juga disebabkan pola pendidikan yang ada. Sehingga pesantren ataupun fakultas agama Islam di perguruan tinggi tidak lagi menjadi pilihan utama. Selain itu lulusan pesantren atau jurusan agama dianggap tidak mempunyai masa depan atau sulit mencari pekerjaan.
Oleh karena itulah Adian berharap di Indonesia akan kembali memunculkan ulama-ulama sejati yang bukan hanya faqih fid-din,tetapi segala bidang ilmu termasuk iptek, juga bersungguh-sungguh memikirkan dan menyelesaikan problematika umat seperti sekarang ini.
“Kita berharap pesantren dan lembaga pendidikan Islam benar-benar menjadi pusat keilmuan (imtaq dan iptek) dan kaderisasi ulama yang tangguh, shaleh dan beraqidah lurus. Sehingga umat Islam tidak harus belajar ke negara-negara yang bukan pusat kajian keislaman (Amerika dan Eropa),” imbuhnya.
Sementara itu Ketua MUI Kota Bandung, Prof. Dr.KH. Miftah Faridl, yang turut menjadi narasumber sependapat dengan Adian. Menurutnya realitas yang terjadi bahwa dalam dunia keulamaan, kita sedang mengalami kemunduran.
Dalam berbagai disipilin ilmu, para ilmuwan semakin meningkat tetapi dalam hal ilmu agama semakin berkurang. Kita, sambung Miftah, sulit menemukan kembali ulama –ulama seperti Imam Syafi’i, Al-Ghazali atau Ibnu Taimiyyah.
“Fenomena yang terjadi sekarang bahwa selain ulama meninggal dunia, ada ulama yang meninggalkan umat atau ulama yang ditinggalkan umat karena kesibukan dia di bidang yang lain, termasuk mungkin karena sibuk dalam aktivitas politik praktis,” ujar Guru Besar ITB tersebut.
Miftah menambahkan salah satu dampak dari fenomena krisis ulama adalah adanya kedangkalan dalam bidang fatwa. Padahal sebenarnya yang bisa memfatwakan hukum bukan hanya ditingkat nasional tetapi hingga tingkat kecamatan karena masalah-masalah khusus.
Miftah berharap adanya “reformasi” pendidikan dan kaderisasi ulama.Termasuk penyadaran orientasi pendidikan itu sendiri yang harus terbebas dari orientasi materialisme, liberalisme dan sekulerisme.
Acara seminar tersebut diakhiri dengan launching Majelis Ta’dib Jawa Barat yang dilakukan oleh Ketua Dewan Dakwah Jabar,Drs.KH Bahrul Mayat,MA. Majelis Ta’dib sendiri diharapkan mampu menjadi wadah pemikir muda Islam yang akan melahirkan ulama yang mumpuni di segala bidang.*