Seorang ayah kesepian membagikan foto ditemani piring dan bangku kosong, ia merindukan kemeriahan rumah bersama anak-anaknya di masa lalu
Hidayatullah.com | SETIAP keluarga pasti memiliki grup WhatsApp yang mempertemukan orang tua dengan semua anak atau cucunya untuk menyambung komunikasi, berita kabar terbaru atau kabar ulang tahun.
Namun, lewat unggahan yang viral di laman Facebook, seorang ayah terlihat melontarkan kata-kata memilukan di grup WhatsApp milik keluarganya.
Melalui skinsut yang diunggah grup B40 Buat Perangai Apa Harini, Malaysia, seorang ayah yang belum terungkap identitasnya terlihat pasrah harus makan malam sendirian.
Mungkin karena anak-anak sudah besar dan terikat dengan komitmen seperti karir, pendidikan tinggi dan juga rumah tangga, ayah sepertinya merindukan kemeriahan suara anak-anak di rumah.
Dalam tangkapan layar tersebut juga terlihat ia selfie dengan sepiring nasi sederhana, mungkin dibuat sendiri atau dibeli dari warung. Mirisnya, saat kursi-kursi di sekeliling meja makan kosong tanpa ada satu orang pun, suasana di dalam ruangan tampak benar-benar sepi.
“Undang semua orang untuk makan malam.”
“Aku merindukan masa lalu ketika kamu masih anak-anak,”tulisnya sebagaimana dilaporkan mStar, Malaysia.

“Sekarang aku sudah terbiasa makan sendiri, toh nanti kita sendiri di kuburan,” kata sang ayah mengungkapkan perasaannya dengan bahasa melayu campur Inggris, membuat pembaca trenyuh.
Unggahan ini mengundang banyak komentar warganet. Rata-rata warga dunia maya mengaku bahwa hubungan dengan ibu dan ayah sangat berharga dan tidak bisa tergantikan saat mereka pergi selamanya.
“Disadari atau tidak, waktu yang dimiliki orang tua dengan anaknya hanya 12 tahun, yaitu saat mereka masih anak-anak dan duduk di bangku sekolah dasar.
Ketika mereka memasuki dunia remaja, yaitu 13 tahun ke atas, orang tua dan anak akan mulai terpisah. Pertama masuk asrama, lalu kuliah, lalu bekerja dan akhirnya menikah.
12 tahun pertama kehidupan anak-anak sangat berarti, manfaatkan, manja, dan luangkan waktu sebanyak-banyaknya,” kata seorang netizen.
Warga virtual lainnya mengambil kesempatan untuk berbagi dilema dan liku-liku yang mereka hadapi dalam merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia.
“Saya ingin mengundang orang tua saya untuk duduk, alangkah baiknya saya kembali bekerja dan melihat bagaimana keadaan mereka, tetapi itulah mengapa mereka mengatakan bahwa mereka merindukan desa dan tidak ingin tinggal di kota.”
“Mau tidak mau kami harus mengalah, bolak-balik ke desa menemui ibu dan ayah saya, saya khawatir mereka sendirian di sana dan tidak ada yang merawat mereka,” ujar yang lain.*