Hidayatullah.com | “Saya dulu punya mimpi, bahwa kelak anak-anak saya bisa Sekolah di tempat yang terbaik dan menyenangkan. Dan saya rasa, Sekolah Alam Langit Biru adalah kesempatan saya untuk mewujudkannya!.” Begitulah ungkapan pertama yang disampaikan oleh Pak Laso, ketika saya diminta membuat kisah ini.
Sejak bertemu Pak Laso tahun 2018, saya melihatnya sebagai pimpinan sekolah yang “berbeda”. Jika biasanya pimpinan sekolah identik dengan wajah yang serius dan kaku, mengobrol dengan Pak Laso adalah sesuatu yang menyenangkan.
Apa yang ia sampaikan di atas, merupakan gambaran betapa uniknya pribadinya. Ungkapan itupun menjadi lebih “aneh” lagi, saat saya mengetahui bahwa Pak Laso adalah satu dari segelintir orang yang berani mendirikan sekolah, padahal ia tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan sebelumnya.
Saat masih tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah, Laso muda justru aktif di dunia Pariwisata. Pengalamannya cukup mumpuni di bidang tersebut, sehingga masa mudanya habis untuk wara-wari di berbagai penjuru Indonesia.
Bahkan kerap ia menjadi tour guide di kota yang paling terkenal di dunia, Bali. Namun, tatkala masa lajangnya berakhir, Pak Laso tiba pada satu titik di mana ia menyadari bahwa pendidikan adalah ilmu yang penting dipelajari sebagai orang tua. Kesungguhannya untuk belajar tentang pendidikan semakin membara, terlebih beberapa waktu kemudian, beliau dikaruniai seorang anak laki-laki.
Berburu Lahan
Dalam masa awal belajar itu, ia berkunjung ke sebuah lembaga edukasi berbasis alam bernama Kandank Jurank Doank di Tangerang Selatan. Tempat itu seolah menjadi ‘ilham’ bagi Pak Lasso untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah yang serupa, di mana anak-anak bisa belajar dan bermain melalui kegiatan eksplorasi alam. Keingininan inilah yang mempertemukan Pak Laso dan Bu Lusi – istrinya – dengan konsep Sekolah Alam.
Konsep pendidikan yang dirumuskan oleh Lendo Novo sejak tahun 1999 ini, begitu membekas di hati keduanya. Hingga pada tahun 2012, pekerjaan mengharuskan dia dan keluarganya pindah ke kota Tanjung Morawa.
Selama menetap di kota tersebut, Pak Laso dan Bu Lusi terus mencoba mencari informasi tentang Sekolah Alam di Sumatera Utara. Menurut pengakuan dari Pak Laso, ia dan istrinya memang memiliki harapan dan standar tinggi terhadap Sekolah Alam, sehingga tak heran, tiga tahun berselang, keduanya tidak kunjung menemukan Sekolah Alam yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Di tengah kondisi putra mereka yang sudah harus mengenyam pendidikan dasar, Pak Laso dan Bu Lusi akhirnya menentukan satu keputusan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya: Membuat sekolah sendiri.
Sekolah itu diberi nama “Sekolah Alam Langit Biru” atau disingkat SALABI. Menurut Pak Laso, nama ini sengaja dinisbahkan kepada putra sulungnya, Langit Biru Indiesch Van Nugroho yang saat itu mendapatkan “hadiah” sekolah di usianya yang ke 4 tahun.
Setelah menentukan nama, Pak Laso dan Bu Lusi memulai “petualangan” membangun Sekolah dengan mencari lahan dan fasilitator. Hampir setiap hari keduanya berkeliling untuk berburu lahan kosong, bertolak dari satu plang ke plang lainnya, hanya untuk mencari lokasi yang benar-benar cocok untuk membangun sekolah yang terbaik. Selain itu, mereka juga menyebarkan pengumuman lowongan di sejumlah kampus, dengan harapan menemukan para fasilitator yang mau belajar bareng, dan memiliki tujuan yang sama dengan mereka.
Usaha itu berbuah hasil.
Tepat di bulan Juli 2015. PAUD SALABI telah menemukan lahan, dan memulai tahun perdananya dengan dua fasilitator, serta beberapa murid sekitar komplek termasuk putra Pak Laso sendiri.
“Kami merintis sekaligus mengenalkan. Karena memang model pendidikan seperti Sekolah Alam adalah sesuatu yang baru di daerah tempat tinggal saya (Tanjung Morawa, Sumatera Utara,” terang Pak Laso pada saya.
Akan tetapi sebagaimana hidup yang penuh drama. SALABI menemui terpaan badai di tahun pertamanya. Sebagai Sekolah baru yang membawa konsep out of the box, SALABI sering mendapatkan tuduhan yang tidak menyenangkan dari masyarakat, dari mulai dianggap menganggu ketertiban, merusak fasilitas pemilik lahan, bahkan beberapa keluarga SALABI difitnah mencuri. Puncaknya, kontrak sewa lahan SALABI saat itu yang harusnya dua tahun, diputus sepihak oleh pemilik lahan, seakan-akan menginginkan SALABI untuk tutup saat itu juga.
Peristiwa ini merupakan pukulan yang menyakitkan bagi pasangan suami-istri ini. Semangat mereka untuk belajar dan merintis sekolah yang sejak lama mereka idamkan, seketika sirna detik itu juga.
Padahal keduanya yakin tidak melakukan kekeliruan, apalagi sampai mendzolimi siapapun. Sebab SALABI sejatinya bukanlah alat bagi keluarga Pak Laso meraih keuntungan finansial, tapi lebih seperti impian yang hidup dalam visi keluarga mereka.
Kandang Kambing
Namun kendati demikian, keduanya sadar menyerah bukanlah pilihan. Pasca “diusir”, Pak Laso semakin giat untuk berdoa dan berikhtiar, sembari membangun semangat anak-anak dan para fasilitator. Tak lama kemudian, Allah menjawab doanya dengan mempertemukannya dengan Pak Rusydi.
Melihat SALABI membutuhkan lahan, ia bersedia menyewakan lahannya di pinggiran komplek. Walau begitu, kondisi lahan tersebut jauh daripada sempurna. Karena pernah menjadi tempat pembuangan sampah, berbagai macam bau bergentayangan di sana. Bau itupun disempurnakan dengan hadirnya kandang kambing lengkap dengan kotorannya yang menumpuk.
Tanpa berpikir panjang, tim SALABI bersama Pak Laso dan Bu Lusi langsung bergerak merapikan lahan tersebut. Hal pertama yang dilakukan adalah memindahkan kambing dari kandangnya. Kemudian membangun kelas dari bekas kandang kambing itu. Ide ini diabadikan Pak Laso dalam satu leluconnya, “Kambingnya di keluarin, anaknya dikandangin.”
Pengolahan lahan ternyata membutuhkan biaya yang cukup besar. Tapi seolah tidak kekurangan ide, Pak Laso meminta izin kepada Pak Rusydi untuk menjual kotoran kambingnya sebagai pupuk kandang.
Pak Rusydi setuju. Akhirnya, hasi dari penjualan pupuk kandang, dapat digunakan untuk membangun kelas baru, bahkan selebihnya bisa digunakan untuk membuat acara syukuran kecil-kecilan, dalam rangka menyambut tahun ajaran baru tahun 2016.
Benih-benih harapan pun kembai disemai hari itu. Meskipun itu tidak menghentikan berbagai masalah dan perubahan dalam dinamika SALABI sepertinya berhasil membuktikan diri sebagai Sekolah Alam yang tetap teguh berdiri, walau berada di tengah lingkungan yang awalnya tidak menerima mereka.
Kini usia SALABI sudah memasuki setengah dekade, dengan jenjang TK dan SD (1-6). Walaupun masih terbilang “muda” di antara Sekolah Alam lainnya yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN), SALABI memiliki konsep kekeluargaan yang patut diacungi jempol dalam timnya. Baik siswa, fasilitator, Yayasan, maupun orang tua siswa dianggap keluarga, yang kepentingannya diperhatikan dalam setiap program.
Memasuki tahun keenam, SALABI terus berkembang. Didampingi Bumi Manusia Consulting dan juga para Sekolah Alam “senior” lainnya di umatera Bagian Utara, SALABI tidak hanya berupaya menghadirkan model pendidikan yang terbaik, tapi juga bertranformasi menjadi media pengembangan unit-unit bisnis.
Saat ini, SALABI memiliki tiga unit bisnis: Pertama, SALABI Ikan bakar. Bisnis yang dikelola oleh Pak Lasso dan Pak Rusdi ini bukan sekedar jualan ikan bakar, tapi juga adalah media edukasi anak-anak di bidang biologi dan perikanan. Kedua, Adventure Equipment. Unit ini dipegang langsung oleh salah satu fasilitator SALABI yang aktif di lembaga tanggap bencana. Bisnis ini merupakan ajang SALABI untuk menghadirkan fasilitas outbound terbaik untuk siswa SALABI, maupun umum. Ketiga, ada SALABI Multimedia (Smile).
Perjalanan SALABI memang masih panjang. Tapi, sebagai sekolah yang pernah menghuni kadang kambing dan tempat sampah, Pak Laso yakin SALABI akan tetap berjuang apapun yang terjadi.*/Azzam Habibullah