Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Politik Ambang Batas dan Emosi Rakyat Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Oktober 2020 15:57 3:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Oktober 2020 15:57
Bagikan
Bagikan

Oleh: Achmad Hartono Adi Prabowo

Hidayatullah.com | RASA Kesal, marah, sedih, bahkan tidak peduli dengan yang terjadi pada bangsa Indonesia ditahun 2020. Di tengah pandemi Covid-19 justru mayoritas wakil rakyat bersama pemerintah pusat membuat banyak kontroversi.

Mereka memancing emosi rakyat. Sebenarnya kita sudah tahu tentang bobroknya mereka. Kita ingat tahun lalu banyak sekali pembahasan tentang Rancangan Undang-Undang yang akan disahkan, mulai dari RUU KPK, RUU KHUP, RUU Cipta Kerja, RUU P-KS dan banyak deretan RUU kontroversial lain.

Kalau boleh meminjam kalimat percakapan dalam film AADC antara Cinta dan Rangga saya ingin katakan pada DPR dan Pemerintah pusat, “BAPAK & IBU…, yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT.’”

Serangkaian Peristiwa Unik

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Mari kita lihat yang terjadi akhir-akhir ini. Pada Jumi ramai sekali pembahasn RUU HIP (Halauan Ideologi Pancasila). Di dalamnya berusaha memeras Pancasila menjadi Tri Sila, lalu diperas lagi menjadi Ekasila yakni Gotong Royong. Tentu hal ini mengundang banyak kecaman, karena secara tersirat akan menghapus nilai Ketuhanan yang Maha Esa.

Akhir September lalu, Febri Diansyah mundur dari Kepala Biro Komisi Pemberantasan Korupsi. Dirinya menilai setelah disahkanya Undang-Undang KPK yang baru, institusi ini jadi tidak Independen, diperparah kondisi politik dan hukum, telah membuat KPK menjadi lemah.

Awal oktober kita dikejutkan atas pengesahan RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. Anehnya Puan Maharani sebagai ketua DPR ketahuan mematikan microfon kepada mereka yang tidak sependapat, sungguh ini merupakan sebuah lawakan. Mengaku demokrasi tetapi begitu otoriter.

Tidak berhenti di situ, RUU ini dinilai merugikan para buruh, mulai dari penerapan buruh kontrak, tidak ditetapkanya upah minimum, pengaturan waktu cuti yang lebih sedikit, serta banyak muatan yang bertentangan politik dan konstitusi Indonesia.

Pertanyaan Masyarakat

Kondisi negeri ini menghasilkan banyak pertanyaan dari masyarakat. Di antara lain sebagai berikut; Sebenarnya apa yang terjadi dibalik ini semua?, apa juga yang salah dengan bangsa Indonesia hari ini?, mengapa pihak pemerintah maupun legislatif tidak berpihak pada rakyat?,Apakah benar perkataan Profesor Mahfud MD terkait 92% kepala daerah dikendalikan oleh cukong?, apakah benar ini semua disebabkan oleh mahalnya biaya demokrasi dalam kontestasi pemilihan?

Pertanyaan seperti itu terus terlontar, atau benar bahwa segelintir orang dibalik layar, justru merekalah sang penguasa. Hal itu bisa terjadi karena biaya pesta demokrasi kita begitu mahal, Mereka yang membiayai para pejabat saat berkampanye ,harus mendapat balas budi. Kalau memang begitu, benar bahwa negeri ini telah dikuasai oleh cukong, termasuk presiden Indonesia sekalipun telah dikuasai.

Awal Mula Ketidakadilan

Menurut Doktor Refly Harun ketidakadilan kebijakan, karena mahalnya pesta demokrasi. Hal ini disebabkan oleh penetapan ambang batas atau yang biasa kita sebut dengan Threshold. Ambang batas ini berlaku dari parlemen, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden.

Ambang batas parlemen untuk bisa lolos dan mempunyai perwakilan di Senayan , minimal 4% perolehan suara nasional. Jika partai politik tidak mencapai 4%, maka calon legislatif yang seharusnya lolos harus ikhlas jatahnya diberikan kepada politisi yang berada di partai lain dan lolos ambang batas. Ini menyeababkan upaya menghalalkan segala cara.

Menurut penelitian ICW (Indonesia Corruption Watch), untuk biaya berkampanye dan membayar relawan dari seorang calon anggota DPR-RI membutuhkan dana 1- 3 Miliar. Angka itu diaminkan oleh salah satu politisi PPP yakni, Arsul Sani. ICW bahkan mengungkapkan angka ini bisa melambung diatas 10 Miliar jika menngunakan praktik kotor politik uang.

Bagaimana dengan pemilihan calon kepala daerah hingga presiden? Menurut aturan , calon kepala daerah yang meendaftar jalur partai politik harus didukung oleh minimal 20% jumlah kursi yang ada di DPRD dan tergabung dalam koalisi.

Untuk mendapat rekomendasi partai, umumnya sang calon harus membayar sejumlah uang yang dihitung perkursi. Apabila di daerah kabupaten/kota terdapat 40 anggota DPRD, maka minimal harus mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk 8 kursi, katakanlah kursi seharga ratusan juta. Kondisi yang sama, namun lebih berat terjadi pada calon Gubernur.

Dari sini kita mendapat gambaran bahwa belum kampanye saja mereka mengeluarkan uang mencapai miliaran. Aturan Presidential Threshold juga sama, Calon Presiden dan Wakil Presiden harus mendapat dukungan 20% dari jumlah kursi DPR-RI, itu artinya harus mendapat minimal dukungan dari 115 kursi dari berbagai partai politik. Bayangkan jika 1 kursi seharga minimal 1 Miliar. Ini belum termasuk biaya berkampanye.

Pertanyaan menarik dari semua ini adalah, “mampukah para calon membiayai kampanye mereka sendiri?”, Sesuai kata prof Mahfud, bahwa 92% dari mereka tidak mampu, apalagi menggunakan praktek money politic. Mereka butuh sponsor, dan itu semua tidak gratis, harus ada balas budi.

Wajib Kita Lawan

Rakyat Indonesia harus tau fakta ini, suara rakyat sudah terbeli. Mereka yang dapat mencalonkan diri bukanlah yang potensial dan cerdas berpolitik, tetapi yang punya uang atau mereka yang dibiayai. Apalagi rakyat yang menikmati money politic,saya ucapkan selamat, karena anda tidak bisa menuntut apapun dari wakil rakyat.

Lewat tulisan ini, saya secara terbuka mendukung upaya Refly Harun dan Rizal Ramli serta teman-teman yang lain untuk menghapus threshold. Saya mengajak masyarakat juga untuk ikut minimal mendoakan bahkan turut serta dalam upaya mencabut ambang batas. Semoga ke depan kita mendapatkan pemimpin yang cerdas dan benar-benar bekerja dan berpihak pada rakyat. Aamiin.*

Ketua Umum PW PII Jatim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Emosi Rakyat Indonesia rOpini Cipta KerjaPolitik Ambang Batas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR RI Komisi IV Ketua Banggar DPR Sebut Banyak Hoax Terkait Ciptaker dan Minta Masyarakat Baca Utuh Pasal per Pasal
Tulisan selanjutnya Presiden Jokowi Lebih Memilih Terbang ke Kalteng, Rizal Ramli: Harusnya Berani Temui Demonstran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?