Hidayatullah.com—Sebanyak 5.179 pembantu rumah tangga dilaporkan telah melarikan diri dari majikannya selama periode Nopember 2013 sampai April 2014, kata Departemen Paspor di Provinsi Timur, Arab Saudi.
Mengutip keterangan sumber Arab News (3/6/2014) melaporkan bahwa para pembantu rumah tangga cenderung melarikan diri menjelang bulan Ramadhan, di mana banyak keluarga Saudi membutuhkan tenaga mereka.
Jurubicara Departemen Paspor Provinsi Timur Brigjen Malla Marzouq Al-Utaibi menjelaskan, 1.543 orang pembantu kabur pada bulan Nopember 2013, 729 pada bulan Desember 2013, 926 pada Januari, 801 pada bulan Februari, 523 pada bulan maret dan 657 PRT melarikan diri dari majikannya pada bulan April kemarin.
Sebelumnya menurut survei Pusat Kesejahteraan Pembantu, sekitar 80-120 PRT setiap hari melarikan diri dari majikannya. Jumlah kasus PRT kabur paling tinggi terjadi di Riyadh, kemudian disusul Makkah, Madinah dan Provinsi Timur.
Menurut penasehat hukum dan sekretaris jenderal National Society for Human Rights Khalid Al-Fakhiri, para PRT biasanya kabur atas bujukan teman sesama asal negaranya, yang berarti melanggar kontrak kerja yang disepakati.
Menyoroti banyaknya kasus kriminal yang melibatkan PRT asing, Al-Fakhiri menilai hal itu bukan sebuah fenomena, meskipun memang terjadi. Namun menurutnya, pihak media berperan dalam membuat sejumlah kasus PRT menjadi sensasional.
Lebih lanjut Al-Fakhiri mengatakan, di Arab Saudi ada hak dan kewajiban hukum yang berlaku masing-masing bagi majikan dan pekerjanya. Sementara bagaimana PRT itu direkrut di negara asalnya juga harus diperhatikan.
Menurutnya, harus ada upaya untuk mengedukasi para penyalur tenaga kerja asing mengenai hukum yang berlaku di Kerajaan Arab Saudi. Dan para pekerja harus memegang nomor telepon kedutaannya serta NSHR agar mudah melapor jika ada masalah.
Dalam dua pekan terakhir muncul beberapa kasus yang melibatkan PRT. Salah satunya dugaan pembunuhan atas seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun oleh dua pembantu masing-masing asal Sri Lanka dan Indonesia.
Ibu bocah tersebut menemukan anaknya di kantong sampah dengan luka-luka di bagian leher dan dada. Ibu itu mencari putranya yang tidak ada di kamarnya pada pagi hari. Anak itu seharusnya mengikuti ujian kenaikan kelas hari itu. Pakaiannya yang penuh dengan darah dan dua bilah pisau ditemukan di atap rumah.*