Hidayatullah.com–Puluhan orang dilaporkan tewas dalam aksi demonstrasi yang sedang berlangsung di ibukota Libya, Tripoli, di tengah meningkatnya di seluruh wilayah terhadap pemerintah Muammar Gaddafi yang telah berkuasa selama 40 tahun.
Perpecahan yang mendalam sedang terjadi dan Gaddafi tampaknya akan kehilangan dukungan utama, pada saat beberapa pejabat pemerintah di dalam negeri dan di luar negeri bersama-sama mengundurkan diri, berikut pilot Angkatan Udara yang membelot, dan gedung-gedung utama pemerintah di ibukota menjadi lokasi bentrokan.
Setidaknya 61 orang tewas di ibukota pada hari Senin, kata saksi mata kepada Al Jazeera. Para pemrotes telah mendapatkan momentum, pada saat mereka telah menguasai sejumlah kota penting dan kota Benghazi, yang berada di sebelah timur Tripoli.
Para demonstran berdatangan sepanjang malam guna menentang pemimpin dunia Arab terlama ini, meski terdapat tindakan keras oleh otoritas
Satu pawai anti-pemerintah besar di Tripoli pada Senin sore diserang oleh pasukan keamanan dengan menggunakan jet tempur dan amunisi tajam, kata saksi mata kepada Al Jazeera.
“Apa yang kita saksikan hari ini adalah hal yang tak terbayangkan. Pesawat tempur helikopter tanpa pandang bulu membom satu demi satu wilayah. Ada banyak… banyak mati,” kata Adel Mohamed Saleh, saksi mata itu dalam siaran langsung.
“Siapa pun yang bergerak, termasuk yang berada di dalam mobil, diserang.”
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan, “waktunya untuk berhenti. Ini pertumpahan darah yang tidak dapat diterima.”
Sekelompok perwira militer mengeluarkan pernyataan mendesak rekan-rekannya untuk “bergabung dengan rakyat” dan membantu menyingkirkan Gaddafi.
Menteri Kehakiman telah mengundurkan diri sebagai protes pada “penggunaan kekerasan yang berlebihan” terhadap pengunjuk rasa dan para diplomat Libya untuk PBB menyerukan kepada tentara Libya untuk membantu menggulingkan “Muammar Gaddafi si tiran”.
Baik Libya dan Venezuela membantah laporan bahwa Gaddafi telah melarikan diri ke negara di Amerika Selatan.
Dua jet tempur Libya telah mendarat di Malta, sebagai bagian penolakan mereka membom demonstran, kata pejabat pemerintah Malta.
Pihak berwenang Libya telah memotong semua komunikasi darat dan nirkabel di negeri ini, sehingga mustahil untuk memverifikasi laporan tersebut.
Adanya laporan operasi militer besar-besaran yang sedang berlangsung di Tripoli itu, juru bicara Ban Ki-moon mengatakan, Sekjen PBB melakukan diskusi yang ekstensif dengan Gaddafi pada Senin (21/2). Ia mengutuk peningkatan kekerasan di Libya dan mengatakan kepadanya bahwa “harus segera dihentikan”.
“… Sekretaris Jenderal menggarisbawahi kepastian perlindungan terhadap penduduk sipil dalam kondisi apapun. Dia mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menyerukan kepada pihak berwenang untuk terlibat dalam dialog yang melibatkan semua pihak, ” kata juru bicara Ban.
Beberapa diplomat Libya di PBB telah meminta Gaddafi untuk mundur.
Ibrahim Dabbashi, wakil duta besar, mengatakan, jika Gaddafi tidak melepaskan kekuasaan, “orang-orang Libya [akan] menyingkirkannya”.
“Kami tidak setuju dengan apapun yang dilakukan rezim … kita di sini untuk melayani rakyat Libya,” katanya kepada Al Jazeera.
Dabbashi mendesak masyarakat internasional untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya guna mencegah tentara bayaran, senjata dan perlengkapan lainnya, digunakan Gaddafi dan pasukan keamanannya.
Pertemuan Liga Arab
Hamad Bin Jassim Bin Jabr Al-Thani, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, menyerukan pertemuan luar biasa dari Liga Arab pada hari Selasa. “Tujuannya untuk membahas krisis di Libya saat ini dan untuk memberikan “tekanan” tambahan pada pemerintah,” Al-Thani mengatakan kepada Al Jazeera.
Dia mengatakan, masyarakat internasional harus bertindak sekarang. “Saya bersimpati yang besar bagi rakyat Libya. Kami tidak dapat menerima penggunaan kekerasan dalam cara apa pun terhadap rakyat dan menentang campur tangan pihak luar terhadap pemerintah mereka, ” katanya Senin.
“Dan kami membuat pernyataan di ruang ini dan kita berpikir bahwa masyarakat internasional juga harus mengambil sikap terhadap apa yang terjadi di Libya saat ini.”
“Saya pikir Dewan Keamanan harus memainkan peran .. penghukuman tidak cukup .. Saya kira lima anggota tetap dan anggota lainnya harus mengambil tanggung jawab dan melakukan sesuatu untuk membantu orang-orang sipil di Libya, karena apa yang terjadi adalah tidak diterima dengan cara apapun.”
Komentar itu muncul hanya beberapa jam setelah Ahmed Elgazir, seorang peneliti hak asasi manusia di Pusat Berita Libya (LNC) di Jenewa, Swiss, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan keamanan “membantai” pengunjuk rasa di Tripoli.
Elgazir mengatakan, LNC menerima telepon satelit dari seorang wanita yang menyatakan, “pembantaian massal sedang berlangsung.”
Sebelumnya, sebuah koran lokal melaporkan bahwa Menteri Kehakiman Libya telah mengundurkan diri atas akibat penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Berbicara kepada Al Jazeera, Ahmad Jibril, seorang diplomat Libya, menegaskan bahwa Menteri Kehakiman Mustapha Abdul Jalil, telah berpihak pada demonstran.
“Saya baru berbicara kepada Menteri Kehakiman beberapa menit yang lalu … dia bilang, saya pribadi, telah bergabung dengan rakyat. Dia mencoba mengatur semua hal di semua kota,” katanya.
Jibril lebih lanjut mengatakan, kota-kota utama di dekat perbatasan Libya dengan Mesir kini di tangan demonstran, yang akan memungkinkan media asing memasuki negara tersebut.*
Keterangan foto: Pilot pesawat tempur yang membelot ke Malta dan para pengunjuk rasa di Tripoli.